Showing posts with label PT PAL. Show all posts
Showing posts with label PT PAL. Show all posts

★ KCR 60 Produk Terbaru PAL

Posted by ReTRo on Wednesday, November 7, 2012

http://www.itoday.co.id/plugins/system/contentoptimizer/74db507fb6b0f464d4f49e708dfb3c6eb51c5517_400x300_Q50.jpegJakarta - PT. PAL kembali mengeluarkan kapal perang baru, kali ini Fast Attack Craft Missile-Kapal Cepat Rudal (KCR-60), sebuah kapal perang yang mampu membawa rudal.

Kepada itoday, Rabu (9/11), Manager Marketing Planning & Business Care PT. PAL, Didik Soebijantoro mengatakan, kapal perang ini masih tahap design, tetapi sudah di posisi pengadaan open LC.

"Untuk kontruksi belum dimulai, baru pemotongan baja," ujar Didik.

PT PAL sendiri rencananya akan membuat kapal perang ini secara paralel, dan diperkirakan akhir tahun sudah mulai dibangun.

PAL meyakinkan, produknya kana lebih bagus ketimbang KCR-40, karen BUMN Srategis ini memiliki pengalaman membuat kapal perang FPB-57.
 

Prototipe KCR 60M PAL
(Foto ARC)
Tidak hanya itu, PAL mengkalim konsumsi bahan bakar KCR-60 lebih irit dari pada kapal sekelasnya, dengan kecepatan maksimal 28 knot.

"Kapal ini mampu bertahan di laut selama lima hari," jelas Didik.

Kapal yang terbuat baja dan steel aloy ini memiliki kandungan lokal sebanyak 50 persen dan desainnya murni dirancang oleh anak negeri.

Dengan kandungan lokal mencapai setengahnya, PAL memperkirakan harga jual kapal ini hanya Rp 125-an miliar diluar combat management system (CMS).

More about★ KCR 60 Produk Terbaru PAL

PT. PAL Cari Ahli Kapal Selam

Posted by ReTRo

Surabaya - PT. PAL Indonesia bekerjasama dengan DSME Daewoo sedang menseleksi 206 orang insinyur untuk dijadikan sebagai ahli pembuat kapal selam dan bagian produksi kapal.

Changbogo Submarine
(Foto DSME)
 Manajer Humas PT PAL Indonesia, Bayu Wicaksono, mengatakan bahwa dari 206 orang tersebut akan dipilih 120 sebagai perancang kapal selam dan 186 lainnya di bagian produksi. Sebanyak 20 orang di antara mereka akan memiliki kwalifikasi sebagai desainer.

Menurut Bayu, mereka yang lolos selesksi akan dilibatkan langsung dalam pembuatan kapal selam di Korea Selatan. "Istilahnya learning by doing. Belajar sambil bekerja," katanya Selasa sore, 6 Nopember 2012.

Selama tiga hingga empat tahun mendatang mereka akan terlibat dalam pembuatan tiga kapal selam. Dua kapal selam dibuat di Korea. Pembuatan kapal selam ini dilakukan secara transfer teknologi. "Jika mereka sudah ahli maka satu kapal selam kemudian dibuat di PT PAL," ujar Bayu.

Bayu mengatakan bahwa proses seleksi saat ini masih terus berlangsung. "Orang Korea sudah ada di sini sejak bebeapa waktu lalu," ucapnya. Sebanyak 120 orang yang dipilih sebagai perancang kapal selam akan dikirim ke Korea secara bertahap karena proses pembuatan kapal selam juga dilakukan secara bertahap.

Tahap pertama dimulai dengan membuat desain. Kemudian diikuti tahap enjinering, serta tahap berikutnya pemasangan persenjataan. Bayu menjelaskan bahwa yang melakukan memorandum of understanding (MoU) dalam kerjasama tersebut adalah pemerintah Indonesia, yakni Kementerian Pertahanan dengan pemerintah Korea yang diwakili DSME Daewoo.

Sebelum kerjasama tersebut, kata Bayu, PT, PAL telah berpengalaman membuat landing platform dock (LPD) sepanjang 125 meter. Dua LPD dibuat di Korea dan dua lainnya di PT. PAL.

LPD yang dibuat di PT PAL bahkan sudah dimodifikasi. Desain pertama yang dibuat di Korea hanya bisa menampung tiga helikopter, tapi setelah dimodifikasi di Indonesia bisa memuat lima helikopter.

Pada saat poyek LPD, kata Bayu, PT. PAL mengirim para pekerjanya ke Korea untuk melakukan transfer teknologi. Setelah paham dan mengusai ilmunya pembuatan LPD dilakukan di PT. PAL.

PT PAL memperoleh dana penyertaan modal negara senilai Rp 1,2 triliun. Sebanyak Rp 648 miliar di antaranya telah dikucurkan pada 2011 dan sisanya Rp 600 miliar masih belum dikucurkan. Tiga kapal selam ini diperkirakan selesai sekitar tahun 2016.

More aboutPT. PAL Cari Ahli Kapal Selam

Bikin Kapal Selam, PT PAL Berguru ke Korea Selatan

Posted by ReTRo on Saturday, November 3, 2012

PT PAL sudah mempersiapkan karyawan untuk dikirim ke Korea Selatan. 

KSRI (Foto Formil Kaskus)
PT PAL Indonesia menggandeng Korea Selatan untuk melakukan transfer pengetahuan mengenai perkapalan. Selain itu, Korsel juga digandeng terkait akan dilakukannya pembangunan tiga unit kapal selam untuk TNI AL.

"Dalam waktu dekat, kami mengirim karyawan untuk bekerja sama dengan Korea membangun kapal selam melalui sistem learning by doing," kata Dirut PT PAL, Firmansyah Arifin.

Disebutkan, ada sejumlah karyawan akan dikirim ke Korea Selatan dalam rangka kerjasama memproduksi alutsista. Itu, lanjutnya, melibatkan Kementerian Pertahanan kedua bangsa. Kemenhan, selanjutnya memberi kesempatan kepada PT PAL untuk melaksanakan tugas tersebut.

Sedangkan Humas PT PAL, Bayu Wicaksono, mengungkapkan pengiriman karyawan diawali dengan proses penjaringan. PT PAL sudah memilih karyawan yang layak untuk disertakan dalam transfer pengetahuan di Korea.

"Saat ini DSME Daewoo perusahaan yang ditunjuk pemerintah Korea masih menyeleksi penerimaan. Pengumumannya kami belum tahu, tetapi kuota yang ditetapkan sebanyak 120 pegawai," ungkapnya.

Jumlah itu akan dikirim dalam beberapa gelombang. Selama di Korea karyawan PT PAL mendapat tugas melakukan alih teknologi untuk membangun kapal selam untuk kebutuhan TNI-AL.

PT PAL menyebut, informasi dari Kemenhan RI, sebanyak tiga kapal selam akan dimiliki TNI-AL. Dua kapal selam dengan type DSME 209 dibangun di Korea, sedangkan satu kapal selam lainnya dibangun di Surabaya.

"Ini adalah pengalaman pertama kami membangun kapal selam, setelah sebelumnya kami berpengalaman meng-overhaul (merakit) dua kapal selam KRI Cakra dan KRI Nanggala,” jelasnya.

Kapal selam yang akan dibangun PT PAL dilakukan setelah dua kapal selam selesai dibangun di Korea. Karena seluruh komponen dan teknologi yang dijalankan di Korea akan diwujudkan di Indonesia.

"Karyawan kami tidak membangun on table, tetapi langsung praktek merakit kapal selam. Dari hasil praktek itu akan diimplementasikan saat membangun di Surabaya," jelasnya.
© Viva.Co
More aboutBikin Kapal Selam, PT PAL Berguru ke Korea Selatan

PT PAL dapat dana revitalisasi

Posted by ReTRo on Saturday, October 27, 2012

Mengawali tahun 2013, PT PAL Indonesia (Persero) berniat memperbanyak belanja modal peralatan. Sedikitnya, Rp 75 miliar anggaran diperuntukkan khusus untuk merevitalisasi fasilitas produksi hingga 2014. 

PT PAL Anggarkan Belanja Modal Rp 549 Miliar Untuk Tahun 2013
“Revitalisasi ini akan terus berjalan, dan belanja modal kami khususkan untuk modernisasi peralatan,” kata Direktur Utama PT PAL Firmansyah Arifin, Kamis (25/10).

Sebelumnya, PT PAL juga telah menginvestasikan biaya revitalisasi fasilitas produksi pada tahun ini senilai Rp 150 miliar. Bahkan, produsen kapal ‘berbendera’ BUMN tersebut mendapat tambahan dana revitalisasi untuk belanja modal seperdua bagian dari penyertaan modal negara (PMN) senilai Rp 648 miliar. “Separuhnya lagi untuk operasional perusahaan,” aku mantan Dirut PT DOK dan Perkapalan Surabaya (DPS) ini.

Dengan demikian, PT PAL yang sempat terseok karena merugi sekitar Rp 1,32 triliun pada tahun lalu itu mengalokasikan biaya revitalisasi untuk belanja modal sebesar Rp 549 miliar. Angka tersebut diperoleh dari rincian investasi senilai Rp 150 miliar pada tahun 2012 yang ditambahkan Rp 75 miliar biaya revitalisasi dalam setahun serta tambahan separuh bagian dari Rp 648 miliar dana PMN.


“Ini langkah awal dan kami optimis. Dukungan pemerintah melalui kucuran dana yang juga berasal dari stakeholder, semakin membangkitkan kami untuk merevitalisasi peralatan produksi,” ujarnya di sela peresmian program revitalisasi fasilitas produksi dan pendukung PT PAL, Rabu (24/10) siang.

Ia juga berkeyakinan, PT PAL bisa kembali menjadi lebih baik dalam hal produksi dan pembangunan kapal baru, produksi rekayasa umum, desain kapal maupun pelayanan perawatan serta perbaikan kapal, off shore maupun on shore. “Kami bertekad untuk memberikan yang terbaik dengan orientasi untuk kepuasan pelanggan,” jaminnya.

Disebutkan, untuk divisi perawatan dan perbaikan, pihaknya akan berusaha memangkas durasi doking kapal separuh dari waktu sebelumnya yang mencapai 3-4 minggu. Pasalnya, masa doking sangat berhubungan erat dengan kepuasan pelanggan dan konsumen yang menggunakan jasa PT PAL. “Bukan hanya cepat, tapi kualitas doking, juga kami perhatikan,” ingatnya.

Dengan pelaksanaan revitalisasi fasilitas produksi dan pendukung ini, PT PAL siap memberikan pelayanan terbaik kepada seluruh pelanggan yang selama ini telah memberikan kepercayaan. Selain itu, revitalisasi ditubuh PT PAL akan semakin menguatkan sistem kinerja perseroan yang lebih baik.

Seperti diketahui, fasilitas yang ada PT PAL secara keseluruhan akan direvitalisasi dengan modernisasi peralatan canggih. Revitalisasi tersebut dilakukan dari seluruh divisi yang bergerak dalam ruang produksi pabrik pembuat kapal di lingkungan TNI AL tersebut.

Mengutip catatan publikasi PT PAL, sejumlah sarana yang direvitalisasi adalah Divisi Produksi termasuk fasilitas yang ada di Divisi Teknologi. Masing-masing diantaranya Divisi Kapal perang, Divisi Kapal Niaga, Divisi Rekayasa Umum, Divisi Perawatan dan Perbaikan serta Divisi Teknologi.
© Surabaya Pos
More aboutPT PAL dapat dana revitalisasi

★ KCR Jadi Andalan Pertahanan Laut RI

Posted by ReTRo on Monday, October 15, 2012

Ilustrasi KCR 60m PAL (incoherent)
Kapal cepat rudal (KCR) yang dipesan pemerintah dari industri galangan kapal PT Palindo Marine, Batam, segera diserahterimakan. Keberadaan kapal jenis tersebut penting untuk pengamanan wilayah laut.

Dari empat KCR yang dipesan, dua di antaranya telah diserahterimakan, yakni KRI Celurit 641 dan KRI Kujang 642. Ini merupakan bagian dari program pengadaan KCR secara besar-besaran TNI Angkatan Laut (AL). Managing Director PT Palindo Marine Harmanto mengungkapkan, KCR yang ketiga sekarang ini tinggal tahap finishing. ”Minggu lalu sudah di-launching dan akhir tahun ini mungkin bisa diserahterimakan,” katanya kepada SINDO kemarin.

Kapal ketiga itu sudah berada di galangan kapal dari pabrik tersebut dan menjalani penyempurnaan. ”Setelah penyempurnaan, akan dilakukan pengujian di laut,” sebut dia. Sembari menyelesaikan kapal ketiga, lanjut Harmanto, pihaknya juga sudah mulai tahapan pengerjaan kapal keempat. ”Kita membuat kapal lengkap, kecuali persenjataannya,” imbuh dia. Kepala Pusat Komunikasi Publik Kemhan Mayjen TNI Hartind Asrin menuturkan, pemerintah akan membeli total sekitar 35 KCR untuk memenuhi kebutuhan sesuai program pembangunan kekuatan pokok minimum (MEF).

”Sejauh ini baru empat yang kita pesan,” ujarnya. Indonesia butuh kapal-kapal jenis ini untuk pengamanan wilayah laut, terutama di kawasan barat. ”Perairan wilayah barat sangat cocok untuk kapa-kapal kecil seperti ini (panjang di bawah 100 meter) karena perairannya dangkal. Kalau di timur, kita butuh kapal-kapal besar yang panjangnya di atas 100 meter,” terang dia. Untuk kapal berukuran di atas 100 meter, kata dia, Kemhan memesan ke PT PAL Surabaya.

PC-48 m Palindo
”Kita juga punya program korvet nasional,” sebut Hartind yang juga staf ahli Menteri Pertahanan Bidang Keamanan itu. Komandan Satgas KCR-40 dan PC-43 TNI AL Kolonel Nurwahyudi menambahkan, butuh waktu sekitar 12 bulan untuk merampungkan satu unit KCR terhitung sejak penandatanganan kontrak. ”Nanti sebelum diserahterimakan ada uji kelaikan laut dulu oleh TNI AL,” sebut dia.

Kapal ini, kata Nurwahyudi, memiliki spesifikasi yang relatif sama dengan dua kapal sebelumnya, KRI Celurit 641 dan KRI Kujang 642. Untuk diketahui, kapal yang didesain sebagai kapal patroli tersebut memiliki spesifikasi panjang sekitar 44 meter, lebar 7,4 meter, berbobot 250 ton, dan mampu berlayar dengan kecepatan maksimum 30 knot. Kapal dipersenjatai rudal C-705, meriam kaliber 30 mm enam laras, serta meriam anjungan dua unit kaliber 20 mm.

KSAL Laksamana TNI Soeparno sebelumnya menuturkan, program penambahan alat utama sistem senjata (alutsista) TNI AL 2012 adalah pengadaan kapal selam dan kapal permukaan. ”Ada tiga kapal selam, dua kapal permukaan frigat jenis perusak kawal rudal (PKR) dan 20 kapal patroli cepat dan kapal cepat torpedo,” tuturnya.

Hingga 2024, TNI AL butuh 24 unit kapal jenis ini. Kapal ini akan dioperasikan di wilayah armada barat dan Sulawesi Utara. Dalam pemesanan kapal ke PT Palindo itu, diketahui harga per unit kapal sekitar Rp 75 miliar. Pada pengadaan pertama, KRI Celurit, pemerintah bekerja sama dengan Bank Mandiri untuk pembiayaannya.


KRI Beladau 643
(Foto Silep-04)

 Kemandirian Alutsista

Lahirnya Undang-Undang (UU) Industri Pertahanan dipercaya bakal mempercepat perkembangan industri pertahanan dalam negeri. Sebab, UU yang ditandatangani Presiden saat hari ulang tahun TNI ke-67, 5 Oktober lalu, itu mengatur sinergi antar industri strategis maupun industri pertahanan dalam memproduksi alutsista.

Perkara sinergi ini yang selama ini menjadi salah satu kendala yang dihadapi perusahaan. Menurut Hartind, UU Industri Pertahanan memberikan jaminan adanya pembelian produk pertahanan maupun oleh pemerintah. ”Selama ini yang dikhawatirkan industri pertahanan adalah masalah konsistensi pembelian dari user,” beber dia.
More about★ KCR Jadi Andalan Pertahanan Laut RI

Dahlan: BUMN Strategis Harus Serius Garap Alutsista

Posted by ReTRo on Tuesday, August 7, 2012

BUMN industri strategis disarankan lebih serius memanfaatkan peluang besarnya permintaan pengadaan alutsista dari Kementerian Pertahanan.

"Saat ini momentum bagi BUMN industri strategis untuk memenuhi pesanan-pesanan peralatan persenjataan dari TNI. Anggaran pemerintah pengadaan alutsista bisa mencapai Rp 7 triliun. Ini harus dapat digarap BUMN," kata Menteri BUMN, Dahlan Iskan, di Jakarta, Selasa, (7/8).

Menurut Dahlan, BUMN industri strategis seperti mendapat darah baru karena kontrak pengadaan alat utama sistem kesenjataan (alutsista) dari Kementerian Pertahanan sangat besar. Pengadaannya pun berjangka waktu panjang.

PT Pal Indonesia sedang menyelesaikan produksi 3 unit kapal cepat rudal (KCR-60 meter) dan dua unit mendapat pesanan pembuatan kapal dan 2 unit kapal tunda 2.400 HP pesanan TNI AL.

Pesanan tersebut diselesaikan pada semester I 2013, dengan nilai lebih dari Rp 400 miliar. Dahlan juga menyebutkan, PT Dok & Perkapalan Kodja Bahari mendapat kepercayaan membangun dua kapal perang landing ship tank (LST) atau kapal pengangkut tank pesanan TNI-AL.

Masa pembangunan LST tersebut selama 22 bulan, atau ditargetkan selesai pada pertengahan 2014.

"PT DI juga demikian, mendapat kontrak pembuatan pesawat untuk TNI AU," ujarnya. TNI memesan sebanyak 9 unit pesawat jenis CN-295, di mana sebanyak 3 unit akan selesai dan diserahkan pada tahun 2012, sisanya bertahap pada tahun 2013 dan 2014.

Meski demikian, Dahlan mengingatkan bahwa BUMN strategis yang mendapat kontrak tersebut harus lebih serius menyelesaikan pesanan-pesanan tersebut. "Jangan terlambat penyelesaiannya. Mutu juga harus dijaga," katanya.
(Republika)
More aboutDahlan: BUMN Strategis Harus Serius Garap Alutsista

Special : Interview Bersama PT.PAL dengan tema KCR-60

Posted by ReTRo on Wednesday, June 20, 2012

Berita Armabar

Berikut Interviewnya :

KCR 60 M PT PAL

1. Apa kelebihan KCR-60 dibanding FPB-57 Nav V yang sebelumnya diproduksi PT.PAL? Dan apa pula kelebihan KCR-60 dibanding kapal sejenis dari luar negeri?

Kelebihan KCR-60 dibanding FPB 57, adalah sbb:

  • KCR-60 M dirancang dan dibangun secara mandiri oleh insan PT PAL berdasarkan dari pengalaman dalam membangun 12 unit kapal FPB 57 yang dirancang oleh Lurssen Jerman yang masih mengikat melalui design royalti, untuk itu PT PAL berusaha mengembangkan desain FPB 57 menjadi 60 m dengan tujuan kemandirian dibidang desain dan produksi tanpa royalti, pada tahun 2002 PT PAL juga pernah mengajukan proposal teknis Kapal Patroli Cepat Nasional 60 m (KPCN 60) ke TNI-AL. 
  • KCR 60 M mempunyai dimensi ukuran kapal lebih panjang dan lebih lebar, dengan displasemen yang lebih besar sehingga payload kapal lebih besar, mempunyai sarat kapal lebih rendah sehingga badan kapal yang tercelup air lebih sedikit dapat mengurangi tahanan kapal. 
  • KCR 60 M mempunyai daya mesin utama yang terpasang lebih kecil 27 %, sehingga akan mengurangi berat kapal dan mengurangi biaya operasional karena konsumsi bahan bakar lebih sedikit. 
  • KCR 60 M mempunyai bentuk superstructure yang lebih ergonomis yang mengacu ke desain Stealth.

Kelebihan 

KCR-60 dibanding kapal sejenis dari luar negeri, sbb:

Untuk perancangan kapal baru sekelas KCR 60 M masing-masing galangan diluar negeri mempunyai keunggulan dan karakteristik perancangan sendiri berdasarkan pengalaman dan kebutuhan dari user dalam operasional. Karena KCR 60 M adalah jenis kapal perang yang harus dijaga kerahasiaannya sehingga sangat wajar bila dirancang dan dibangun oleh Industri Pertahanan Nasional, disamping itu kebutuhan dan kehidupan dilaut dari crew kapal akan lebih dipahami oleh desainer nasional dalam menterjemahkan tata letak dari perancangan umum desain kapal tersebut, dengan pertimbangan tersebut sehingga dalam mendukung pengadaan Alutsista diperlukan kemandirian nasional.

2. Berapa lama proses perancangan dari KCR-60 ini? Dan apa keunggulan dari rancangan tersebut?

Bentuk KCR 60 dirancang dan didisain oleh tim desain PT PAL dimana beberapa diantaranya adalah desainer-desainer muda yang mempunyai ide kreatif yang masih segar. Melalui software untuk desain kapal yang diakui di dunia perkapalan, stabilitas KCR 60 diperhitungkan dari segala kondisi muatan sesuai dengan kriteria stabilitas yang dikeluarkan oleh IMO.

Kajian seakeeping
KCR 60 juga diperhitungkan secara detail terutama dari segi kenyamanan personil sampai dengan kemampuan beroperasi peralatan system persenjataan yang nantinya terpasang di dalam kapal pada saat kondis kapal operasi patrol.

Proses perancangan KCR 60 M yaitu perancangan : pada tahap Basic Design termasuk proses pengujian di Laboratorium Hidrodinamika Indonesia – BPPT (LHI – BPPT) di Surabaya, tahap Key Plan termasuk approval gambar ke Biro klasifikasi, tahap Yard Plan, kemudian tahap Production Drawing, sehingga total ± 10 bulan. Melalui diskusi yang terus menerus antara desainer PAL dengan LHI BPPT dan pabrikan mesin dan propeller, maka keunggulan dari rancangan KCR 60 m yang dirasakan adalah telah didapat dari perhitungan di software dan pengujian model di laboratorium hidrodinamika kapal tersebut dapat mampu mencapai kecepatan yang diinginkan sesuai dengan power mesin yang terpasang dan kapal mempunyai performance baik dapat bertahan sampai tinggi gelombang signifikan 2 m (termasuk di dalam kriteria sea state 4).

3. Boleh minta dijelaskan spesifikasi umum dari KCR-60?

Ukuran utama KCR 60, sebagai berikut:
Panjang keseluruhan : ± 59.80 m,
Lebar : ± 8.10 m,
Tinggi pada tengah kapal : ± 4.85 m,
Sarat muatan penuh : ± 2.60 m
Kecepatan maksimum : ± 28 knot.
Ketahanan dilaut : ± 9 hari
Daya jelajah : ± 2400 Nm
Crew : 43 orang

4. Seperti pernah bapak jelaskan untuk KCR-60 ini, PT. PAL membuat platform saja dulu. untuk systemnya nanti akan ditentukan kemudian. nah, menurut bapak sendiri, kira2 system dan persenjataan sebaiknya dari mana? Apakah kembali menggunakan Thales?

Ilustrasi KR 60 M PAL (gambar incoherrent)

Kapal KCR 60 ini didesain sudah mempertimbangkan peralatan system persenjataannya / combat system (payload) yang akan dipasang, yaitu pertimbangan berat, ruangan/space, power supply, dll. Untuk pemilihan maker/type peralatan system persenjataannya akan bergantung pada user karena peralatan system persenjataannya tersebut merupakan peralatan strategis TNI-AL.
Sumber dipostkan oleh Audrey
More aboutSpecial : Interview Bersama PT.PAL dengan tema KCR-60

Kemhan Bantah PT PAL Dapat Porsi Kecil dalam Joint Production

Posted by ReTRo on Tuesday, June 5, 2012

PKR 10514
Jakarta, InfoPublik - Kementerian Pertahanan (Kemhan) membantah PT PAL Indonesia mendapat porsi kecil dalam pembangunan Kapal PKR 10514 yang dilakukan dalam skema joint production Belanda. Indonesia dan Belanda melakukan kerjasama pembangunan kapal PKR 10514 dengan nilai $220 juta.

Kepala Badan Sarana Pertahanan (Kabaranahan) Mayjen TNI Ediwan Prabowo mengatakan pengetahuan yang didapat PT PAL tak bisa dibandingkan dengan uang. “Tak semata-mata terhitung dari harga barang, tapi seberapa besar teknik dan kemampuan yang diberikan pada Indonesia,”kata Ediwan usai melakukan penandatanganan kontrak pengadaan Kapal PKR 10514 di kantor Kemhan di Jakarta, Selasa (5/6).

Direktur Utama PT PAL Indonesia Firmansyah juga mengatakan hal yang sama. Menurutnya, apa yang didapat Indonesia dalam kerjasama ini tak bisa di ukur dengan uang. “Kami mendapatkan kesempatan belajar. Kalau diukur dengan uang, tentu sangat tinggi,” ujarnya.

Firmansyah mengatakan untuk menunjang kerjasama pembangunan PKR 10514 itu, PT PAL terus mempersiapkan diri. Selain mempersiapkan sarana dan prasarana, PT PAL juga tengah menyiapkan personel yang akan membangun kapal tersebut.

“Kesiapan kami sudah hampir 80 persen. Tinggal menyiapkan personel, dan personel pun dilakukan dengan seleksi yang tak cuma sekali,” jelasnya.(dry)(bipnewsroom)
More aboutKemhan Bantah PT PAL Dapat Porsi Kecil dalam Joint Production

Industri Strategis dan Pertahanan Indonesia Butuh Revitalisasi

Posted by ReTRo on Monday, June 4, 2012

PKR PAL
Metrotvnews.com, Jakarta : Pemerintah diminta untuk mengevaluasi dan inventarisasi permasalahan atas industri strategis dan pertahanan. Hal ini dikarenakan minimnya anggaran untuk biaya produksi yang membuat industri strategis dan pertahanan tidak memiliki daya saing.

"Sektor industri strategis dan pertahanan membutuhkan banyak investasi dalam bidang industri pertahanan," kata pengamat ekonomi Universitas Indonesia, Firmanzah, di Jakarta, Ahad (3/6).

Dalam amatan Firmanzah, kinerja bisnis industri strategis dan pertahanan nasional dianggap rendah. Karena itu, ia mengatakan investasi sangat diperlukan untuk merangsang pertumbuhan industri pertahanan dalam negeri.

"Industri strategis dan pertahanan bukan hanya terkait dengan masalah pertahanan dan keamanan negara. Namun, masalah minimnya investasi menjadi kendala yang menghambat," paparnya.

Lebih lanjut, Firmanzah mengatakan pemerintah harus berpihak pada industri strategis dan pertahanan dalam negeri. Salah satunya melalui berbagai kebijakan yang mampu menciptakan iklim kondusif bagi pengembangan industri pertahanan nasional.

Menurutnya, keberpihakan pemerintah sangat penting dalam proses revitalisasi industri pertahanan. "Merevitalisasi industri pertahanan harus segera dilakukan agar menjadi industri pertahanan yang unggul dan bersaing dengan industri pertahanan negara lain. Selain itu, pemerintah harus mengimplementasikan konsep, cetak biru, dan rencana besar revitalisasi industri pertahanan melalui program yang terperinci, terukur, dan terkontrol," ujarnya.

Firmanzah menambahkan, revitalisasi industri pertahanan memerlukan insentif fiskal bagi BUMN industri strategis dan BUMN industri pertahanan yang saat ini terancam tutup.

"Idealnya ada kebijakan insentif fiskal, karena saat ini kondisi PT PAL Indonesia dan PT Dirgantara Indonesia yang sudah masuk taraf mengkhawatirkan. PAL mampu berproduksi namun tidak mampu memasarkan akibat faktor pajak yang notabene dibebankan oleh pemerintah sendiri," katanya. (Ant/Wrt3)
More aboutIndustri Strategis dan Pertahanan Indonesia Butuh Revitalisasi

PAL Indonesia Siapkan 150 Teknisi Ahli Untuk Belajar Di Korsel & Belanda

Posted by ReTRo on Tuesday, May 29, 2012

 ilustrasi PKR 105 PAL
SURABAYA, PT PAL Indonesia (Persero) menyiapkan 150 teknisi ahli perkapalan untuk alih teknologi produksi kapal selam di Korea Selatan dan kapal perusak kawal rudal (PKR) di Belanda, menyusul dibuatnya kapal perang pesanan Kementerian Pertahanan di dua negara itu.

Proses alih teknologi itu merupakan persiapan untuk membuat sendiri kapal selam pada beberapa tahun mendatang, suatu upaya kemandirian industri pertahanan di dalam negeri.

Direktur Utama PT PAL Indonesia Muhamad Firmansyah Arifin mengatakan BUMN tersebut selama ini telah banyak memproduksi berbagai jenis kapal perang untuk memenuhi kebutuhan TNI AL seperti kapal patroli cepat, landing platform dock (LPD), kapal cepat rudal (KCR), landing craft utility (LCU), landing craft vehicle personal (LCVP).

Namun, lanjutnya, sejauh ini PAL belum menguasai teknologi pembuatan kapal selam, karena membutuhkan ilmu tinggi serta kesiapan SDM yang memiliki kemampuan dalam menerima alih teknologi kapal perang tersebut.

“Kami akan menyiapkan 300 teknisi untuk diseleksi menjadi 150 orang guna dikirim ke Korea Selatan dalam keperluan alih teknologi pembuatan kapal selam. Dijadwalkan penyeleksian itu rampung pada 2013,” ujarnya saat mendampingi Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Selasa, 29 Mei 2012.

Kapal Selam Changbogo (foto ROKN)
Kunjungan tersebut dimaksudkan melihat pelaksanaan produksi sejumlah kapal perang pesanan TNI AL di PAL Indonesia seperti 3 unit KCR, 2 unit kapal tunda 2400 HP dan 4 unit LCU. Turut hadir dalam kunjungan tersebut Wakil Kepala Staf TNI AL Laksdya TNI Marsetio dan Irjen Kementerian Pertahanan Laksdya TNI Sumartono.

Sjafrie mengatakan PAL harus menyiapkan diri menjadi bagian dari industri pertahanan yang mampu memproduksi alat utama sistem persenjataan (alutsista) berteknologi tinggi, melalui proses alih teknologi dari negara lain.

Menurut dia, Kementerian Pertahanan tengah melakukan pengadaan 2 unit kapal perusak kawal rudal (PKR) yang dibuat di Belanda. Selain itu, 3 unit kapal selam, diantaranya 2 unit dibuat di Korea Selatan.

Dalam kontrak pembuatan kapal perang di dua negara itu disepakati kerja sama alih teknologi kepada kalangan teknisi ahli kapal perang asal Indonesia. “Pembuatan PKR di Belanda ditargetkan dapat dirampungkan pada 2016 mendatang,” ujarnya.

Dalam waktu sama, diharapkan pembuatan kapal selam di Korea pun dapat rampung, kemudian akan dibuat di dalam negeri. Dana yang disiapkan untuk pengadaan kapal perang berteknologi tinggi itu disebutkan Rp 150 triliun.

Muhamad Firmansyah menyatakan kesiapannya menjadi lead integrator [bersama BUMN lain] untuk pembangunan alutsista, dengan menyiapkan fasilitas bengkel terintegrasi.

“Kami memiliki 2 graving dock, 2 floating dock dan shiplift sekaligus memiliki divisi desain yang merancang kapal-kapal perang,” paparnya.(bas)(bisnisjatim)
More aboutPAL Indonesia Siapkan 150 Teknisi Ahli Untuk Belajar Di Korsel & Belanda

Wamenhan : PT. PAL Harus Menyiapkan Diri Untuk ToT

Posted by ReTRo

Ilustrasi PKR 105 PAL
Surabaya, DMC - Dengan menggeliatnya industri pertahanan dalam negeri saat ini, PT PAL Indonesia (Persero) untuk jangka waktu menengah harus menyiapkan diri agar dapat melakukan Transfer of Technology (ToT), sehingga tercipta kemandirian industri pertahanan khususnya bidang kemaritiman.

Hal tersebut disampaikan Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin di sela-sela kunjungan ke PT. PAL Indonesia (Persero), Selasa (29/5) di Surabaya setelah sehari sebelumnya mengunjungi Pulau Nipa dan PT Palindo Marine Shipyard di Batam, Senin (28/5).

Transfer of Technology dimaksud kata Wamenhan menjelaskan, terkait dengan adanya pencapaian target bahwa PT. PAL Indonesia (Persero) harus mampu membangun kapal perang jenis Perusak Kawal Rudal (PKR) dan kapal selam untuk TNI AL. “PT. PAL harus menyiapkan teknisi-teknisi yang professional sejak dini. Pemerintah juga akan mensupport dan mengirimkan teknisi-teknisi handal ke Belanda dan Korea Selatan “ Ungkap Wamenhan.

Dengan adanya tuntutan dan tantangan tersebut, Wamenhan lebih jauh menjelaskan PT. PAL Indonesia (Persero) juga harus memiliki komitmen dan sikap jemput bola dengan melakukan berbagai perbaikan khususnya dalam hal perbaikan kinerja maupun optimalisasi produksi baik pada lini desain sampai dengan produksi.

Kapal selam Changbogo
Terlebih tahun 2010 – 2014 merupakan era kebangkitan industri pertahanan dalam negeri, dimana pemerintah banyak memberikan peluang, baik kepada industri pertahanan negara maupun swasta.

Sementara itu, Dirut PT PAL Persero M. Firmansyah Arifin menyampaikan bahwa instansinya saat ini sudah memiliki kesiapan dalam pembangunan Alutsista yaitu dengan strategi perbaikan kinerja, dimana proses bisnis PT . PAL persero telah melaksanakan persiapan fokus bisnis untuk Alutsista dan menetapkan revenue mix dan integrasi IT ke dalam proses produksi maupun proses control internal.

Dalam Kunjungan kerjanya ke PT. PAL Indonesia (Persero), Wamenhan yang didampingi Irjen Kemhan Laksdya TNI Sumartono, Wakasal Laksdya TNI Marsetio, sejumlah pejabat Kemhan, Mabes TNI dan Angkatan tersebut, juga berkesempatan menaiki Landing Craft Utility (LCU) produksi PT PAL di sekitar selat Madura dan melakukan manuver diantaranya menggunakan kecepatan mencapai 40 knot dan manuver 360 derajat. (BDY/SR)(DMC)
More aboutWamenhan : PT. PAL Harus Menyiapkan Diri Untuk ToT

KKIP Menggelar Sidang Pleno Ke-VI di PT. PAL Surabaya

Posted by ReTRo on Wednesday, May 23, 2012

 Sidang Ke-VI KKIP digelar di PT. PAL, Surabaya

Surabaya, DMC - Sejak dibentuknya Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) melalui Peraturan Presiden Nomor 42 Tahun 2010 tanggal 17 Juni 2010, KKIP telah menghasilkan beberapa kebijakan yang berkaitan langsung dengan pemberdayaan industri pertahanan. KKIP juga telah beberapa kali menggelar Sidang Pleno.

Kali ini, Rabu (23/5) untuk yang keenam kalinya KKIP kembali menggelar sidang serupa. Berbeda dengan Sidang Pleno sebelumnya yang selalu dilaksanakan di Kementerian Pertahanan, Jakarta, pada Sidang KKIP Ke-VI KKIP digelar di PT. PAL, Surabaya yang merupakan salah satu dari Badan Usaha Milik Negara Industri Pertahanan (BUMNIP).

Sidang dipimpin oleh Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro selaku Ketua KKIP dan dihadiri Menteri Riset dan Teknologi, Panglima TNI dan Kapolri selaku Anggota KKIP serta Wamenhan sebagai Sekretaris merangkap Anggota KKIP. Hadir pula pada kesempatan tersebut Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Ka Bappenas) dan Kasal.

Selain itu, sidang ini juga dihadiri Tim Kelompok Kerja (Pokja) KKIP, Tim Asistensi KKIP, Sekretaris Pokja KKIP serta beberapa pejabat perwakilan dari sejumlah instansi terkait lainnya dan pihak BUMNIP/BUMS.

Agenda dari Sidang Pleno Ke-VI KKIP meliputi penyampaian laporan tentang proses legislasi RUU Industri Pertahanan oleh Tim Asistensi KKIP Bidang Kebijakan Dr. M. Said Didu dan penyampaian Program Nasional Riset Pertahanan dan Keamanan oleh Tim Pokja II KKIP Bidang Litbang dan Rekayasa Ir. Teguh Raharjo.

Terkait dengan Program Nasional Riset Pertahanan dan Keamanan yang sedang disusun oleh KKIP, Menhan mengatakan ini akan menjadi embrio dalam melengkapi road map dari kegiatan Riset di Bidang Pertahanan dan Keamanan yang sudah diselesaikan oleh Dewan Riset Nasional.

Lebih lanjut Menhan menjelaskan, road map berisi riset pengembangan dan penerapan dari produk – produk Alutsista dan Almatsus untuk Matra Darat, Laut dan Udara serta Kepolisian. “Semua tercakup didalamnya dan akan menjadi reverensi dokumen dalam melaksanakan penelitian dan pengembangan penerapan dari teknologi khusus di dalam industri pertahaan dan keamanan, jelas Menhan.

Road map dari Riset Pengembangan dan Penerapan Industri Pertahanan dan Keamanan ini ditargetkan akan dilaunching pada saat Peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional tanggal 10 Agustus 2012 di Bandung dan akan dihadiri oleh Presiden RI.

Sedangkan terkait dengan Rancangan Undang Undang (RUU) Industri Pertahanan, Menhan mengatakan rencananya dalam waktu dekat RUU ini akan segera diselesaikan. RUU ini diharapkan akan menjadi landasan hukum bagi pembangunan industri pertahanan di Indonesia. “Arahnya adalah tentu kemandirian industri pertahanan dalam negeri, tambah Menhan.

Sementara itu Wamenhan Sjafrie Sjamsoeddin mengatakan bahwa RUU Industri pertahanan ditargetkan dapat diratifikasi oleh DPR pada bulan Agustus 2012 mendatang. Dalam proses pembahasannya bersama DPR selama ini tidak ada kendala, ini adalah inisiatif DPR, tetapi yang membuat Daftar Isian Masalah(DIM)-nya adalah Pemerintah.

 PT. PAL Indonesia Bangun 3 Unit Kapal KCR 60 M Pesanan TNI AL

KCR 60 (Gambar Incoherrent)
Bersamaan dengan Sidang Pleno Ke-VI KKIP ini, dilaksanakan pula Steel Cutting KCR 60 dan Keel Laying Tug Boat (Kapal Tunda). Kapal tersebut merupakan pesanan dari TNI AL yang dibangun di PT. PAL Indonesia, sebagai wujud nyata komitmen PT PAL Indonesia (Persero) mendukung terciptanya kemandirian bangsa dalam memenuhi kebutuhan Alutsista dan kemajuan industri pertahanan nasional.

Pelaksanaan Steel Cutting KCR 60 dan Keel Laying Tug Boat (Kapal Tunda) ditandai dengan penekanan tombol sirine oleh Menhan bersama dengan Menristek, Kepala Bappenas, Panglima TNI, Kapolri, Kasal, Wamenhan dan Dirut PT. PAL Indonesia.

PT.PAL Indonesia menerima order pembuatan kapal KCR 60 M sebanyak tiga unit dan Kapal Tunda 2.400 HP sebanyak 2 unit. Kontrak secara efektif telah ditandatangani antara PT PAL Indonesia dan TNI AL melalui Dinas Pengadaan Mabesal pada tanggal 20 Desember 2011.

KCR 60 M memiliki spesifikasi panjang keseluruhan 59.80 M dan lebar 8.10 M, mampu melaju hingga 28 knot pada kecepatan maksimum dalam kondisi muatan 50 % . Kapal ini dipersenjatai dengan 1 x Meriam Utama 57 mm, 2 x senjata 20 mm, 2 x 2 Peluncur rudal anti kapal permukaan dan 2 x Decoy Launcher. Kapal ini mempunya oleh gerak yang tinggi, lincah dalam posisi tembak dan mampu melaksanakan penghindaran dari serangan balasan lawan.

Sementara itu Kapal Tunda 2.400 HP memiliki spesifikasi dengan panjang keseluruhan 29 M dan Lebar 9 M, dan pada sarat kondisi muatan 50 % kecepatan kapal mencapai 12 knot.

Melalui pelaksanaan Steel Cutting KCR 60 dan Keel Laying Tug Boat (Kapal Tunda) pesanan TNI AL ini kembali membuktikan bahwa PT.PAL Indonesia berkomitmen dan siap menjadi lead integrtor pembangunan produk Alutsista dan Almatsus bidang kemaritiman.

Sejak tahun 1980, PT. PAL Indonesia (Persero) telah menyelesaikan pembangunan kapal lebih dari 240 unit kapal berbagai jenis dan ukuran untuk produk kapal niaga sampai dengan ukuran 50.000 DWT, sedangkan untuk produk kapal perang telah diproduksi berbagai jenis dan tipe kapal diantaranya: KCR 14 Meter, 28 Meter, 38 Meter, FPB 57 Meter dan Landing Plat Dock 125 Meter.

PT PAL juga berpengalaman memodifikasi kapal dan pemasangan Rudal diantaranya: Rudal Yakhont dan Fire Control System di KRI OWA-354, Rudal C-802 dan Fire Control System di KRI AHP-355 dan KRI YOS-353.

Dengan berbekal pengamalan tersebut, PT PAL Indonesia (Persero) menyatakan siap menyelesaikan pembangunan KCR 60 dan Kapal Tunda 2.400 HP pesanan Kemhan dan Pengadaan Alutsista lainnya di masa mendatang. (BDI/SR)
(DMC)
More aboutKKIP Menggelar Sidang Pleno Ke-VI di PT. PAL Surabaya

★ PT PAL Mulai Tangani Alusista

Posted by ReTRo on Friday, May 11, 2012

KCR-60 rancangan PT PAL (gambar Kaskus Militer)
MENDAPATKAN nafas baru baik dalam bentuk dana bantuan maupun jajaran direksi, PT Penataran Angkutan Laut (PAL) Indonesia langsung menggenjot kinerjanya dengan menangani proyek-proyek yang telah mereka terima.

Menyerap instruksi dari kementrian BUMN, perusahaan galangan kapal terbesar di Indonesia ini fokus untuk menangani pesanan kapal dari kementrian pertahanan melalui Dinas Pengadaan TNI Angkatan Laut. Saat ini, kedua pihak mulai melaksanakan kesepakatan untuk membangun dua kapal tugboat (kapal tunda) dan tiga kapal cepat rudal (KCR).

Direktur Utama PT PAL Indonesia M. Firmansyah Arifin menyatakan, pembangunan lima kapal tersebut merupakan kelanjutan dari kontrak yang telah diteken 20 desember 2011 lalu. Seiring dengan pergantian jajaran direksi, proyek tersebut akhirnya bisa terproses.

"Saat ini, kami sudah mulai memulai proses konstruksi kapal tunda pertama. Sedangkan kapal KCR sedang dalam tahap desain," jelasnya dalam acara first steel cutting kapal tugboat M276. Dengan kondisi ini, Firmansyah berharap kinerja PT PAL bisa terpacu.

Realisasi akhir kedua kapal ini, lanjut Firmansyah, ditarget pada juni 2013. " Sesuai kontrak, kapal tugboat pertama selesai april tahun depan sedangkan kapal kedua harus selesai di pertengahan juni tahun depan juga," ungkapnya.

Firmansyah merasa optimis bahwa perusahaannya bisa mencapai target waktu. "Menurut pengalaman, kami bisa mencapai tenggat waktu yang ada. Kami bukannya pertama kali membangun tugboat," tegasnya.(adn/jpnn/rum)(Timor Express)
More about★ PT PAL Mulai Tangani Alusista

★ Banjarmasin Class

Posted by ReTRo on Wednesday, May 9, 2012

 ♆ Kapal Perang Kimchi Rasa Nusantara

KRI Banda Aceh 592

Kontrak pembelian kapal serbaguna yang ditandatangani Desember 2004 terus berjalan, kali ini kapal serbaguna ini dibangun di Surabaya. Kapal jenis ini sebenarnya sama dengan kapal LPD (Landing Platform Dock) Makasar Class, hanya kapal ini dengan persetujuan Korea Selatan, didesain baru oleh anak bangsa sehingga bentuk dan kapasitasnya jadi bertambah ... seperti kapal perang kimchi rasa nusantara.

Kebutuhan akan kapal pengangkut yang serbaguna untuk menjaga perairan nusantara, TNI melirik perusahaan kapal Korea Selatan untuk membangun kapal Landing Platform Dock (LPD). Setelah puas dengan 3 unit kapal LPD hasil produksi Korea Selatan ini, sesuai perjanjian, Indonesia membangun dua tipe jenis yang hampir sama di PT PAL, Surabaya. Kapal jenis ini yang dirancang sebagai kapal perang rumah sakit serbaguna, dan mampu mengangkut pasukan berserta peralatan tempurnya.

PT PAL Indonesia melaksanakan serah terima kapal Landing Platform Dock 125 meter (LPD 125 meter) Hull no W000240 kapal yang ketiga pesanan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia. Pemesanan kapal ini merupakan bentuk dukungan nyata  Kementerian Pertahanan R.I untuk menggunakan produksi dalam negeri.

Proses produksi KRI Banjarmasin
Ada kebanggaan tersendiri ketika mengetahui bahwa Kapal Ini adalah hasil produksi dalam negeri, KRI Banjarmasin adalah salah satu dari empat kapal perang jenis Landing Platform Dock (LPD) yang dimiliki TNI AL selain KRI Dr Suharso 990, KRI Makassar 590, dan KRI Surabaya 591. KRI Banjarmasin 592 buatan terbaru, yang diluncurkan November 2009.

Menurut Komandan KRI Banjarmasin, Letkol Laut (P) Eko Jokowiyono mengatakan, Indonesia bisa berbangga karena KRI Banjarmasin, komponennya buatan dalam negeri, minus mesin yang masih impor dari Korea. Dari sisi performannya kapal produksi Surabaya ini mengalami peningkatan kwalitas bila di bandingkan dengan dua  kapal LPD sebelumnya yang di bangun di Korea Selatan. Penyempurnaan tersebut di sesuaikan dengan kebutuhan operasional TNI-AL.

Kapal LPD Banda Aceh dengan panjang 125 meter nomor lambung W000240 ini merupakan kapal kedua dari dua kapal yang dipesan oleh Kementerian Pertahanan & Daewoo kepada PAL Indonesia, dimana kapal pertama LPD dengan nomor lambung W000239 sudah diserahkan oleh PAL Indonesia pada tahun 2009.

Kapal Landing Platform Dock 125 m kapal ke 2 ini dirancang secara khusus untuk mampu dipasang senjata 100 mm dan dilengkapi dengan ruang CIC untuk sistem kendali senjata (Fire Control System) yang memungkinkan kapal mampu melaksanakan self defence dengan komunikasi kapal ke kapal combatan untuk melindungi pendaratan pasukan dan kendaraan taktis serta tempur untuk pengendalian pendaratan helicopter.

Kapal ini dibangun dengan kelas Loyd Register + 100A1 dan menggunakan konstruksi lambung ganda (double bottom). Untuk memudahkan manouver kapal ini dilengkapi dengan bow thruster yang berfungsi untuk memecah gelombang. Untuk mengoperasikan kapal ini mesin dapat di operasikan dari ruang control dan bisa langsung dari ruang mesin serta dilengkapi peralatan rumah sakit darurat dan bisa di fungsikan untuk pertolongan pertama.

Serah terima KRI Banda Aceh 593 dilaksanakan pada hari Senin, 21 Maret 2011 bertempat di dermaga PAL Surabaya, menyerahkan  kepada Daewoo International Corporation sebagai main contractor, dan dari Daewoo kepada Kementerian Pertahanan, selanjutnya dari Kemhan akan diserahkan kepada TNI-AL untuk dioperasikan.  Acara serah terima ini akan dilanjutkan dengan acara peresmian KRI dan pelantikan komandan KRI Banda Aceh - 593.

KRI Banjarmasin 592
Sebelum diserahkan kapal telah menjalani sea trial (uji coba layar) dimana kapal diuji kemampuannya dengan berlayar mulai dari pengujian  stabilitas kapal, kecepatan kapal dan semua system yang ada di kapal dilaksanakan pengujian, setelah itu kapal di laksanakan commodore inspection yaitu  kapal di uji coba layar lagi yang langsung di saksikan oleh tim penerima kapal dari TNI-AL dan Kemhan. Hasil dari uji coba layar sangat memuaskan, yaitu semua pengujian memenuhi target yang sudah ditetapkan dalam kontrak bahkan ada beberapa yang melampaui target misalnya tentang kecepatan kapal di kontrak ditetapkan 15,0 knots namun pada saat kapal uji coba layar kecepatan kapal mencapai 15,4 knots. Hal ini membuktikan bahwa kapal produksi PAL Indonesia sangat membanggakan.

Sinergi antara PAL Indonesia, DEPHAN dan TNI-AL, dalam penguasaan teknologi tinggi hendaknya  dikembangkan terus menerus tidak hanya untuk pembangunan kapal baru tapi juga meliputi perbaikan dan pemeliharaan kapal-kapal TNI-AL yang lain dalam rangka ikut menopang kesiapan operasional kapal dalam rangka menjaga keamanan dan pengamanan perairan wilayah yuridis Indonesia. Dan dimasa depan Industri Maritim Indonesia dapat berkembang lebih maju.
 ♆ Karesteristik Umum Banjarmasin Class

Dari sisi performannya kapal produksi Surabaya ini mengalami peningkatan kwalitas bila di bandingkan dengan dua  kapal LPD sebelumnya yang di bangun di Korea Selatan. Penyempurnaan tersebut di sesuaikan dengan kebutuhan operasional TNI-AL antara lain:
  • Daya angkut helikopter dari 3 buah menjadi 5 buah.

  • Kecepatan kapal dari 15 knots menjadi 15,4 knots

  • Bentuk bangunan atas  ”stealth design” yang dapat mengurangi ”Radar Cross Section” sehingga tidak mudah ditangkap  radar musuh.

  • Getaran kapal sangat rendah sehingga menambah kenyamanan awak kapal dalam pelayaran.

  • Kapal ini dipersenjatai dengan 1 unit meriam kaliber 57 mm dan 2 unit senjata anti serangan udara kaliber 40 mm.

  • Dan dirancang untuk dapat dipasangi senjata 1 unit meriam kaliber 100 mm dan dilengkapi ruang khusus untuk sistem kendali senjata (fire control system), yang memungkinkan kapal mampu melaksanakan pertahanan diri.

Spesifikasi  :

• Panjang : 125 meter
• Lebar : 22,0 meter
• Depth (tank deck/truck deck) : 6,7 meter/11,3 meter.
• Draft Maksimum : 4,9 meter
• Beratt : 7,300 ton
• Kecepatan : 15,4 knots, Jelajah 13,5 knot
• Lama Jelajah : 30 hari
• Jarak Jelajah : 10.000 miles
• Daya Angkut : lebih 344 personil (Awak 126, Pasukan 218).
• Helicopter : 5 unit
• LCVP : 2 unit.
 ♆ Foto LPD Banjarmasin Class dari formil kaskus

KRI Banjarmasin (592)


KRI Banda Aceh (593)


- sumber dari berbagai media -
More about★ Banjarmasin Class