Showing posts with label Operasi Militer. Show all posts
Showing posts with label Operasi Militer. Show all posts

Operasi Militer era Dwikora

Posted by ReTRo on Friday, June 22, 2012

 B ila Anda melewati kompleks Dwikora perumahan dinas TNI AU di Lanud Halim Perdankusuma, Jakarta, anda akan menemukan nama-nama asing seperti Kolatu, Kolada, Stradaga, Straudga dan lainnya. Ternyata nama-nama itu mengartikan nama operasi militer yang disingkat semasa Dwikora tahun 1962-1964.

    Kolatu adalah singtan dari Komando Mandala Satu, Kolada adalah Komando Mandala Dua, Stradaga adalah Strategi Darat Siaga, Straudga adalah Strategi Udara Siaga, dan Stralaga adalah Strategi Laut Siaga. Semua itu merupakan bagian operasi Dwikora (Dwi Komando rakyat) ketika Indonesia berkonfrontasi denagn Malaysia.

    Waktu itu, Indonesia menentang dibentuknya negara federasi Malaysia yang merupakan gabungam Malaya dan Singapura di bagian barat, serta Sabah, Serawak dan Brunei di Kalimantan Utara. Negara federasi bentukan Inggris ini oleh Presiden pertama RI Soekarno, di beri nama 'Negara Boneka" Malaysia.

    Melalui negara federasi Malaysia itulah Inggris masih akan berpengaruh, sementara Indonesia melihatnya sebagai bentuk kolonialisme baru dan merupakan ancaman bagi kedaulatan RI.

    Penentangan Indonesia ini direalisasikan dalam bentuk Dwi Komando Rakyat (Dwikora) yang dicanangkan Bung Karno. Intinya menggagalkan 'Negara Boneka' Malaysia dan untuk itu rakyat di minta bersedia menjadi sukarelawan. Tercatat, sekitar 21 Juta rakyat Indonesia mendaftar sebagai sukarelawan untuk di kirim ke Kalimantan Utara.
 ✈ Terbesar di Asia Tenggara

    Kekuatan udara merupakan sarana penentu dalam suatu operasi militer dan menjadi andalan utama dalam Operasi Dwikora guna melawan kekuatan udara gabungan Inggris, Australia, Selandia Baru, Malaysia dan Singapura.

    Kala itu Kekuatan udara TNI AU masih menjadi kekuatan yang terbesar di Asia Tenggara setelah pengembangan kekuatan saat membebaskan Irian Barat untuk kembali ke dalam wilayah RI tahun 1962.

    Pesawat pengebom intai jarak jauh dan tercanggih saat itu, TU-16KS, B-25 Mitchell, B-26 Invader, pesawat tempur pemburu P-51 Mustang, MiG 17, MiG 19 dan MiG 21, pesawat angkut C-130 Hercules, C-47 Dakota, Helikopter Mi-4 dan Mi-6, dikerahkan dan diarahkan ke Utara, Malaysia.

    Sementara itu kekuatan personil selain 21 juta sukarelawan, pasukan TNI yang dilibatkan adalah Pasukan Gerak Tjepat (PGT), Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), Marinir / Korps Komando (KKO) dan Brimob Pelopor Polri.
 ✈ Berbagai Nama Operasi Militer

    Selama lebih dua tahun konfrontasi, 1962-1964, operasi Dwikora telah melaksanakan berbagai operasi seperti:

    Operasi Terang Bulan, penerbangan pesawat TU-16KS dan pesawat angkut C-130 Hercules di wilayah udara Singapura, Malaysia dan Kalimantan Utara untuk show of force.

    Operasi Kelelawar, operasi untuk pengintaian dan pemotretan udara untuk memantau bila ada pergerakan kekuatan militer di wilayah Kepulauan Cocos dan Pulau Christmas, Australia di Samudera Indonesia.

    Berbagai nama sandi operasi militer disesuaikan misi tugas seperti Operasi Rembes, untuk penyebaran pamflet, Operasi Nantung, untuk menguji kesiapan sendiri dan siaga atas kesiapan lawan. Operasi Tanggul Baja, operasi dengan menempatkan pesawat-pesawat tempur di daerah yang lebih dekat dengan mandala operasi.

    Untuk operasi penerjunan pasukan linud, diberi nama operasi sandi Antasari. Operasi Antasari I berhasil menerjunkan satu batalyon pasukan tempur ke Kalimantan Utara dengan menggunakan pesawat angkut C-130 Hercules AURI.

    Operasi linud Antasari telah dilakukan sampai yang ke empat menggunakan pesawat C-130 Hercules dan pesawat C-47 Dakota.
 ✈ Tragis Hercules T-1307

    Pada saat melaksanakan operasi Antasari tanggal 2 September 1964, tiga pesawat angkut C-130 Hercules membawa satu kompi pasukan PGT yang dipimpin oleh Kapten Udara Suroso.

    Dalam pesawat Hercules dengan nomor ekor T-1307 yang diterbangkan Pilot Mayor Pnb Djalaluddin Tantu, ikut serta seorang perwira menengah pimpinan PGT Letkol Udara Sugiri Sukani, yang ikut sekalian untuk memberi semangat kepada pasukannya.

    Hercules Tipe B tersebut diterbangkan oleh Mayor Pnb Djalaluddin Tantu berserta ko-pilot Kapten Pnb Alboin Hutabarat membawa delapan awak pesawat dan 47 personil PGT yang dipimpin Kapten Udara Suroso, untuk diterjunkan  di daerah operasi Kalimantan Utara. Namun dari tiga pesawat Hercules, hanya dua pesawat yang kembali ke Halim Perdanakusuma. Satu akhirnya dinyatakan hilang bersama 55 orang yang ada didalamnya, yaitu T-1307 C-130B Hercules.

    Selama operasi Dwikora, pasukan PGT merupakan pasukan payung yang telah di terjunkan ke wilayah konfrontasi dengan kehilangan 83 orang anggotanya. Nama Sugiri Sukani akhirnya dinyatakan hilang dalam tugas dan di abadikan sebagai nama Pangkalan Udara di Jatiwangi, Cirebon dan Suroso menjadi nama lapangan bola di kompleks Dwikora, Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta.
Sumber :
    ◆ edisi koleksi Angkasa
More about → Operasi Militer era Dwikora

Semangat Yang Tak Pernah Padam

Posted by ReTRo on Sunday, June 17, 2012

Semangat juang yang tertanam pada diri para prajurit Grup-2/Parako Kopassus di dalam tugas - pantang mundur dalam pertempuran hingga titik darah penghabisan - benar-benar mereka buktikan, meski sebagian anggota badan harus rusak karenanya...

Ⓢerma Niko, ketika bertugas di Ambon, Maluku (2001) sebagai bagian dari Yongab-2 (berisi personil Kopassus, Marinir dan Paskhas) mendapat perintah utuk membantu membebaskan personil Yonif 408 yang terkepung dan tidak dapat keluar dari suatu tempat ketika mereka sedang mengadakan patroli, karena dihadang dan dibarikade oleh salah satu kelompok yang berkonflik disana.

Dalam upaya pembebasan rekan-rekannya yang terkepung itu, di sekitar PAM Haur Kuning dia bersama pasukannya  dari Batalyon Gabungan (Yongab) dihadang lalu terjadi kontak senjata dengan kelompok yang membarikade lokasi pasukan Yonif 408. Namun mereka dapat dan berhasil mengurung lawan, sehingga personil 408 dapat keluar dengan aman.

Selanjutnya pasukan melakukan penelusuran dengan menaiki sebuah tebing sehingga pandangan menjadi luas. Di atas tebing, terlihat sebuah rumah yang dijadikan pos oleh salah satu kelompok bersenjata yang bertikai di Ambon.

Pos itu lalu diserang dan terjadilah baku tembak. " Saat menyerbu ke rumah itu, pasukan dihadang dengan senjata mesin Minimi, tapi berhasil dilumpuhkan sehingga rumah itu dapat dikuasai. Di dalam rumah tersebut banyak mayat tergeletak akibat baku tembak, " katanya. Sedikitnya 15 orang personil lawan terkena tembakan.

Pasukan dari Yongab-2 itu lalu mengadakan pembersihan ke dalam rumah. Selesai pembersihan, sesaat sebelum keluar dari rumah, ternyata lawan melempar granat dan masuk ke dalam rumah. Niko lalu teriak "Granat" dan pasukan yang ada di dalam segera lari keluar, sehingga granat itu tidak sempat mengenai mereka.

Namun tanpa diduga, di luar rumah kembali mereka dilempari granat. Dua granat secara berturut-turut dilempar. Granat pertama tidak mengenai pasukan, tapi granat ketiga mengenai salah satu personil pasukan  Batalyon Gabungan (Yongab).

Secara spontan, Bintara Kompi yang sekarang menjabat Bintara Tinggi Logistik Grup-2 ini lalu mengendong rekannya yang terluka, berlari mencari tempat berlindung, karena tembakan masih gencar menghujani mereka.

"Saya dan rekan dari Paskhas AU yang saya gendong berguling-guling untuk menghindari tembakan. Sebagai prajurit Komando, saya tidak gentar dan pantang menyerah, walaupun saat itu musuh yang menembaki sangat banyak. Saya harus lolos dari maut, walaupun hati kecil pesimis, karena melihat kondisi maupun situasi medan yang susah dan lawan yang kuat tersebut. Bahkan, karena gencarnya tembakan, kami tidak dapat membalasnya," katanya.

Begitu mendapat tempat berlindung berupa bangunan kios kecil berdinding dan beratap seng, dia dan pasukannya melakukan tembakan balasan. Namun kembali seorang rekannya kena tembak di punggung dan ketika akan menolongnya, sebutir peluru mengenai helmnya. "menurut saya, tembakan itu berasal dari Sniper. Peluru itu terasa berputar-putar lalu mengenai mata kanan saya hingga pecah. Serpihan peluru juga mengenai mata kiri saya." kenangnya.

Peristiwa kontak senjata di Haur Kuning itu mengakibatkan satu prajurit gugur dan beberapa lainnya luka-luka, termasuk Niko.

Kini, mata kanan lelaki bertubuh besar itu mengalami kebutaan dan terpaksa dia menggunakan mata palsu. Untung saja mata kirinya bisa berfungsi kembali dengan normal, sehingga dia masih tetap bergabung di Kopassus, Niko yang pernah ditugasi dalam tugas di Timor Timur (1993-1994), Irian Jaya/Papua (1996-1998), juga akhirnya bertugas kembali ke Ambon pada tahun berikutnya.

Atas keberhasilan dan pengorbanannya itu, dia mendapat kenaikan pangkat dua tingkat, melalui KPMT (Kenaikan Pangkat Medan Tempur) pada Januari 2005, yakni dari pangkat Sertu (Sersan Satu) menjadi Serma (Sersan Mayor). Dan, atas cacat mata kanannya yang sudah tidak dapat berfungsi lagi, maka membuat Serma Niko menjadi penembak kidal, karena musti membiasakan diri menembak dengan mata kirinya untuk membidik sasaran target.

“ DWI DHARMA BIRAWA YUDHA ”
(dikutip dari Majalah Defender, April 2007)
More about → Semangat Yang Tak Pernah Padam

Badak Putih - Penyergapan Di Ladang

Posted by ReTRo on Friday, June 15, 2012

Bulan Juni 2004 Yonif 320/Badak Putih mendapat perintah untuk melakukan operasi ke wilayah Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Sebagai pasukan pemukul di Aceh Besar, wilayah yang tidak aman karena adanya aksi-aksi bersenjata dari Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Selama sembilan bulan bertugas semua berjalan lancar hingga suatu peristiwa yang berkesan bagi para prajurit Badak Putih.

Pada April 2005 Letda Inf Tommy bersama anak buahnya melaksanakan patroli rutin di desa Muree, Kecamatan Indrapuri. Ketika itu ada informasi dari staf intel, bahwa beberapa anggota GAM sedang membuat ladang ganja di desa Muree. Akhirnya diputuskan untuk menyergap yang dipimpin oleh Letda Inf Tommy, alumnus Akmil 2001.

Pada 2 April 2005, pukul 05.00 pagi, pasukan berkekuatan delapan orang menuju lokasi keberadaan GAM tersebut. Pagi itu hujan cukup deras dan pasukan tetap bergerak. "Meski saat itu hujan deras, kami tetap bergerak karena situasi seperti itu sangat menguntungkan bagi pasukan namun menjadi titik kelengahan musuh," ungkap Letda Inf Tommy.

Informasi yang didapatnya ternyata benar. Tiga jam kemudian pasukannya menemukan ladang ganja seluas sekitar 500 meter persegi. Tim Tommy diperintahkan untuk waspada.

Pasukan terus bergerak maju sampai terdengar suara orang di kejauhan. "Belum sampai 200 meter bergerak, tiba-tiba saya mendengar suara-suara orang di pinggiran sungai yang ada disitu. Lalu saya perintahkan tim untuk melakukan penyergapan," katanya. Tim kemudian dibagi menjadi dua kelompok dan membentuk posisi 'L'. Satu kelompok dipimpin Letda Tommy sedangkan sisanya dipimpin wadantim.

Pasukan bergerak senyap dan merayap mendekati posisi musuh hingga berjarak 30 meter. Karena kondisi medan yang rapat tertutup perpohonan maka hanya Letda Tommy dan seorang anggotanya yang didepan yang bisa melihat keberadaan anggota GAM tersebut.

Terlihat oleh mereka berdua, terdapat tujuh orang anggota GAM bersenjata AK-47. Maka diperintahkan anggotanya menembakan GLM sebagai tembakan pembuka dan diikuti oleh seluruh anggota tim.

Mendapat serangan dadakan tersebut, GAM lalu melarikan diri ke ketinggian, meninggalkan dua orang temannya yang tewas ditempat. Tim Badak Putih melihat anggota GAM melarikan diri langsung mengejar dan melucuti senjata dua anggota yang telah tewas.

Pengejaran memakan waktu yang cukup lama karena medan yang sulit dan harus mendaki ketinggian. Pasukan tetap siaga untuk mengatisipasi penghadangan dari pihak GAM.

Sebelum mencapai puncak ketinggian, pasukan Yonif 320 mendapat perlawanan yang gencar dari atas bukit. Ternyata anggota GAM yang kabur menuju tempat teman-temannya di atas bukit dan berjumlah cukup besar. Terlhat dari gencarnya tembakan menuju pasukan yang di pimpin Letda Tommy.

Oleh karenanya pasukan Yonif 320 harus mundur dan mencari posisi aman di bukit yang tidak jauh dari lokasi. Setelah mendapat posisi yang cukup aman, pasukan diperintahkan melakukan tembakan balasan. "Sambil bertahan dan melayani tembakan GAM, saya cek personil dan material tim. Senjata, amunisi dan perlengkapan perorangan lainnya tidak ada masalah, namun dua anggota tim mengalami kejang otot dan seorang lainnya terkena pecahan GLM," kata perwira kelahiran Palembang ini.

Sambil memberikan pertolongan pertama pada ketiga anggota yang sakit dan terluka, kontak tembak tetap berlangsung. Permintaan bantuan disampaikan melalui radio karena kondisi amunisi mulai menipis dan jumlah anggota GAM lebih besar. "Untungnya munisi masih mencukupi dan semangat bertempur prajurit saya tetap tinggi, sehingga mampu melayani kontak tembak dengan GAM hampir satu jam lamanya sampai akhirnya GAM melarikan diri." kenangnya.

Setelah dipastikan anggota GAM telah melarikan diri, maka dilakukan pembersihan. Tim Yonif 320/Badak Putih mendapatkan dua pucuk senjata AK-47, magazen sembilan buah berserta 387 peluru AK-47 dan handphone sebanyak tiga buah.

"Alhamdullilah, berkat latihan yang kami jalani menjelang keberangkatan ke daerah operasi, menjadikan Yonif 320/Badak Putih dapat bertugas dengan baik, berhasil dan tidak mendapat musibah yang cukup berarti, hingga akhirnya kami dapat kembali pulang ke home base dengan selamat." kata Tommy, yang saat itu sudah berpangkat Letnan Satu dan beristrikan seorang dokter gigi.
[sumber Defender, 2009]
More about → Badak Putih - Penyergapan Di Ladang

Satkopaska Koarmatim Berhasil Bebaskan Dua Kapal Cargo

Posted by ReTRo on Saturday, June 9, 2012


Operasi pembebasan yang dilakukan oleh Tim Satuan Pasukan Katak Komando Armada RI Kawasan Timur (Satkopaska Koarmatim) terhadap dua kapal Cargo KM. Bintang Jaya IX dan XV berjalan mulus. Penyergapan yang dipimpin langsung oleh Komandan Satkopaska Koarmatim Kolonel Laut (P) Yeheskiel K, dengan kendaraan tempur air sea rider dan Combat Boat disekitar Pelabuhan Gresik itu nyaris tidak ada perlawanan berarti dari para penyandera, Minggu (12/6/2011) malam.

Aksi penyergapan itu dimulai dengan meluncurnya kendaraan tempur air sea rider dan combat boat dari Dermaga Satkopaska setelah ada perintah Pangarmatim atas permintaan dari keluarga pemilik kapal an. Ade ke Koarmatim, bahwa kapal mereka terindikasi disandera oleh sekelompok orang tak dikenal. Kapal Cargo yang memiliki bobot 1200-1500 GT tersebut memuat kurang lebih 70 ton semen yang hendak dikirim ke Papua.

Ketika tiba dilokasi, didapati bahwa ke dua kapal Cargo itu sedang lego jangkar, sekitar 300 meter dengan batu bara. Dari hasil pengintaian, Tim pasukan Satkopaska, bahwa ke dua kapal tersebut dalam keadaan mesin mati dan situasi lampu penerangan gelap. Karena kondisi yang tidak menguntungkan ini dan untuk menghindari jatuh korban seminim mungkin, maka penyergapan dilakukan dengan ekstra hati-hati.

Tepat pada pukul 20.00 wib, operasi pembebasan dimulai. Kapal yang dibebaskan pertama adalah kapal KM. Bintang Jaya XV, didapati 5 orang yang berada di kapal tersebut. “Tidak ada seorangpun dari ke lima orang itu yang bisa menunjukkan identitas sebagai anak buah kapal (ABK). Sangat diduga, mereka bukan ABK atau pun pemilik kapal itu,” kata Komandan Satkopaska Koarmatim.

Usai penggerebekan dari Bintang Jaya XV di lanjutkan ke Bintang Jaya IX. Kondisi kapal yang satu ini juga sama, dalam keadaan gelap karena penerangan minim. Dalam penyergapan itu telah berhasil diamankan 6 orang. Dua orang diantaranya bisa menunjukkan bukti dokumen sebagai ABK. “Artinya kemungkinan mereka sedang disandera oleh empat orang yang tidak dikenal itu,” lanjut Komandan Satkopaska menegaskan.

Pukul 21.30 pasukan Satkopaska bergeser menuju Koarmatim dengan membawa 9 orang yang diduga melakukan penyanderaan dinaikan dengan Combat boat, sekitar pukul 22.00 Wib tiba di Dermaga Koarmatim.(Dispenarmatim)
More about → Satkopaska Koarmatim Berhasil Bebaskan Dua Kapal Cargo

Operasi Pembebasan Sandera Somalia

Posted by ReTRo on Thursday, June 7, 2012

Perompak Somalia menjadi momok dunia, tapi pasukan TNI berhasil membebaskan sandera tanpa korban di pihak TNI maupun sandera. Bagaimana operasi pembebasan sandera itu? Untuk itu, Redaksi Jalasena mewawancarai Laksamana Pertama TNI A.Taufiqurrahman.
 Kesaksian Laksamana Pertama TNI A. Taufiqurrahman

Laksma TNI Taufiq Dan Guspurlabar
Komandan Gugus Tempur Laut Armada RI Kawasan Barat

Aneka komentar dan kontroversi tentang penyanderaan Kapal Sinar Kudus dengan 20 orang ABK dan Kapten Kapalnya di media massa tidak sempat diikuti oleh Laksamana Pertama A. Taufiqurrahman yang akrab disapa Laksma Taufiq, lulusan Akademi Angkatan Laut (AAL) tahun 1985. “Dalam dua belas jam setelah pengangangkatannya di pagi hari sebagai Komandan Gugus Tempur Laut Armada Barat (Guspurlabar), saya sudah harus berangkat tugas,” kenangnya. Semula Laksma Taufiq adalah Komandan Komando Latihan (Kolat) Armada Timur. Ia mengaku belum sempat memasuki ruangan kantor barunya, karena keburu berangkat tugas berlayar.

Taufiq bertugas memimpin pasukan pertama yang dikirim ke Somalia. Pasukan ini diangkut oleh dua kapal perang jenis fregat yaitu KRI Yos Sudarso dan KRI Abdul Halim Perdanakusumah. Kedua KRI juga dilengkapi dengan 1 helikopter dan boat Sea-Rider. Pasukan itu menjadi bagian dari Satgas Merah Putih yang terdiri dari 480 personel. Pasukan ini terdiri dari anak buah kapal, personel Komando Pasukan Katak (Kopaska) Angkatan Laut, Detasemen Jala Mangkara, Sat-81/Kopassus, dan Unit Intai Amfibi Marinir.

Pasukan kedua adalah satgas pasukan kekuatan pendukung yang dipimpin oleh Mayor Jenderal (Marinir) Alfan Baharudin. Pasukan ini menyusul dengan kapal jenis LPD, KRI Banjarmasin. Kapal diawaki oleh 488 personel terdiri dari Kopaska Angkatan Laut, Pasukan Intai Amphibi Marinir, Kopassus Angkatan darat, pasukan Ray Hoowitzer, Kopassus dan Unit Ton Tai Pur Kostrad. KRI Banjarmasin juga dipersenjatai dengan 1 heli NP-412, 7 boat Sea-Rider, 5 tank BMP3F, 4 unit Howitzer dan 18 perahu karet. Pasukan pendukung terakhir adalah satgas intel gabungan yang terdiri dari 15 personel intelijen TNI dan personel Badan Intelijen Negara (BIN). Total pasukan 999 personel. Panglima mengatakan operasi ini direncanakan dalam waktu yang sangat singkat dengan beberapa kendala, seperti tujuan operasi yang jauh dan posisi pangkalan terdekat berada di negara lain.
 Sinar Kudus Korban Pembajakan

Mayjen TNI (Mar) M. Alfan Baharudin
Komandan Satgas Merah Putih
Mungkin orang tidak banyak tahu bahwa Kapal Sinar Kudus yang berangkat dari Pomalaa, Sulawesi Selatan menuju Rotterdam, Belanda pada tanggal 16 Maret 2011. Kapal itu diawaki oleh 20 orang di antaranya WNI dengan Kapten Kapal Slamet Jauhari. Sinar Kudus bermuatan biji nikel yang seharusnya sudah sampai di Rotterdam 34 hari setelah keberangkatan.

Malang bagi kapal itu di Teluk Aden di wilayah perairan Somalia terdapat 28 kapal yang disandera dengan 600 orang sandera di dalamnya. Mereka sudah berbulan-bulan tersandera menunggu pembebasan. Somalia telah kehilangan pemerintah yang stabil dan dicabik oleh perang saudara sejak tergulingnya Presiden Mohamed Said Barre pada 1991. Di sebuah negara yang kekurangan sekali kesempatan kerja, perompakan dapat menciptakan “lapangan pekerjaan” dengan gaji bulanan yang besar. Tidak mengherankan bila masalah pembebasan sandera bukan masalah sederhana. Operasi penyelamatan yang dilakukan harus tetap mengindahkan kedaulatan negara Somalia. Pembebasan sandera selalu menghindari collateral damage yaitu jatuhnya korban yang tidak dikehendaki atau akibat-akibat besar yang tidak diharapkan.

Sebagai prajurit TNI AL, Taufiq kemudian menyusun Rencana operasi untuk melaksanakan tugas memimpin pasukan pertama itu dengan sukses. Sebagai pribadi, ia harus menjamin bahwa keselamatan sandera tetap menjadi prioritas utama dan perintah tugas kepada prajurit di bawahnya merupakan perintah maut, karena dekat sekali dengan ancaman kematian sehingga penugasan ini bagaimana pun sempat memerlukan pertimbangan yang cermat dan cerdas. Tetapi, bagi Taufiq operasi seperti ini bukan yang pertama. Meskipun dalam skala yang lebih kecil, operasi pembebasan pernah dilakukannya.

Pengalaman Taufiq pada tahun 2004 memberi keyakinan itu. Ketika itu kapal tanker Indonesia dibajak oleh salah satu kekuatan separatis Indonesia di Selat Malaka. Bukan kebetulan, sebelumnya Taufiq menempa anak buahnya untuk berlatih menghadapi ancaman intensitas rendah yang harus dihadapi dengan kemampuan perseorangan. Tentu saja banyak komentar dari rekan-rekannya, bahwa ia mengada-ada, karena membuat latihan-latihan itu. Tetapi, kenyataan di lapangan tugas memang berbeda. Ancaman itu datang. Ketika bantuan yang ia minta, tidak kunjung datang, maka pembebasan harus dilakukannya bersama anak buahnya. Pembebasan kapal tanker itu mampu dilaksanakan bersama anak buahnya. Konflik fisik dengan para penyandera dalam jarak dekat pun terjadi dengan sengit. Semua perompak tewas dan beberapa di antaranya tertembak hanya pada jarak 1,5 meter.
 Operasi Pembebasan

(Foto Dok. Guspurlabar)
Bagi pemerintah Indonesia dan TNI, operasi pembebasan di laut ini merupakan operasi jarak jauh pertama yang dilakukan. Komando penuh di tangan Presiden, Komando Operasi di tangan Panglima TNI dan Komando Taktis di tangan Danguspurlabar. Di Somalia sudah ada kesatuan-kesatuan keamanan lain yang sudah beroperasi, seperti European Naval Forces dari Uni Eropa, dari PBB, dari NATO dengan Maritime Group 2 yang dikepalai oleh seorang Laksamana dari Belanda; Sementara itu, Amerika Serikat sudah menggelar tiga Task Force, satu untuk menjaga dan menjamin keamanan wilayah perairan setempat, antiperompakan, dan satu lagi Task Force yang khusus untuk keamanan di Teluk Persia. Operasi penyelamatan yang dilakukan Indonesia mau tak mau harus berkoordinasi dengan kesatuan-kesatuan itu agar tidak timbul konflik yang tidak diinginkan.

Kekuatan yang sudah tergelar mempunyai unique challenge, diantaranya operasi-operasi di pantai-pantai yang menjadi basis perompakan tidak dapat dilakukan, karena menghindari dikorbankannya dua jenis nyawa manusia, yaitu nyawa korban dan penduduk sipil. Taufiq pertama-tama membuat kalkulasi bagaimana karakter orang-orang Somalia itu? Imbangan daya tempur seperti apa yang harus dibangun? “Orang Somalia memiliki rasa nasionalisme yang tinggi, sehingga bila rasa nasionalisme mereka tersinggung, bagi mereka tidak ada rasa takut sedikit pun untuk melakukan apa saja, termasuk bertempur mati-matian,” tegas Taufiq. Para perompak itu diperkirakan didukung oleh 70 persen penduduk pantai sehingga menyulitkan operasi pembebasan. Sandera selalu dijadikan perisai hidup. Pernah terjadi, kata Taufiq, kapal India yang mendekat untuk membebaskan sandera. Buru-buru nakhoda kapal mendapat tondongan senjata sehingga lewat pengeras suara nahkoda kapal dipaksa meminta tentara yang mau menyelamatkan itu untuk menjauh. Tentu saja, tentara yang mau membebaskan itu kemudian mengurungkan niatnya agar sandera tidak menjadi korban.
 Drama Pembebasan

Melaksanakan patroli dan pengamatan perairan Somalia dari udara
Kapal Sinar Kudus berangkat pada tanggal 23 Maret 2011 sehingga diperkirakan tanggal 10 April bahan bakar di kapal itu akan habis. Oleh karena itu, KRI Yos Sudarso dan KRI Abdul Halim Perdanakusuma direncanakan tanggal 2 April berada di Laut Arab. Ketika tanggal 29 Maret Kapal sampai di Colombo, ternyata Sinar Kudus sudah lego jangkar 3 mil dari Pantai Somalia sejak tanggal 25 Maret.

Taufiq merasa percaya diri, karena operasi ini didukung oleh pasukan elit TNI, seperti dari Den Jaka, Sat-81/Gultor, Batalyon Inti Amphibi, Kopaska, 4 Sea Riders, dan 2 Frigate. Pada saat mendekat ke Perairan Somalia dilaksanakan pengamatan permukaan dan udara yang dimulai dengan jarak 400 mil, hingga jarak 20 mil dengan terus mengikuti perkembangan komunikasi radio dengan satuan-satuan lain dari mancanegara yang beroperasi di perairan itu disertai sejumlah pengintaian ke kapal. Karena, kapal yang disandera banyak, tidak mudah menemukan Sinar Kudus.

Pengintaian dan pengamatan dilakukan dengan cermat dan terus menerus. Sesuai dengan arahan arahan Presiden, operasi penyelamatan baru bisa dilaksanakan bila tingkat keberhasilan dapat dicapai minimal 70 persen. “Padahal menurut saya baru 50 -50 persen”, kenang Taufiq. Sebabnya, meskipun kapal Sinar Kudus sudah ditemukan, tetapi pasukan penyelamat belum tahu dimana sandera berada? Kapal masih merapat di garis pantai sehingga bila operasi dijalankan akan menimbulkan masalah hukum tersendiri.

Sambil menunggu moment yang “opportuned” maka kapal bertolak ke Oman untuk membangun Staging Base, baik untuk logistik maupun bahan bakar yang dapat dianggap sebagai Pangkalan Aju. Atase Pertahanan di kota Riyad – kebetulan namanya Ahmad Riyad bertugas untuk mengatur segala kelengkapan pangkalan itu, seperti logistik maupun penyediaan tenaga medis. Baru dua hari di kota itu, ada perintah dari Mabes TNI untuk “membebaskan sandera sekarang!” Dalam operasi militer tugas prajurit adalah membebaskan sandera, jadi tidak tunduk pada tuntutan perompak untuk membayar uang tebusan. Tetapi Sinar Kudus adalah kapal niaga. Rupanya PT Samudera Indonesia, melakukan negosiasi untuk pembebasan sandera. Salah satu anggota pembajak pernah menyatakan kepada Reuters mereka telah membebaskan Sinar Kudus setelah menerima pembayaran uang tebusan US$ 3 juta. Menurut pembajak, seperti dikutip kantor berita itu, mereka sedang meninggalkan kapal dan sedang mempersiapkan pelayaran lain. Ketika berita pembebasan itu dikonfirmasi ternyata masih para awak perompak di atas kapal, sehingga ABK belum bisa dikatakan bebas. Di samping itu, tidak ada jaminan bahwa setelah dibebaskan, kapal tidak disandera lagi oleh kelompok perompak yang lain.
 Ditunda

Mengamati situasi perairan Somalia
Perintah pembebasan itu harus ditunda, karena rupanya ada proses negoisasi lain oleh pemilik kapal. Taufiq diperintahkan untuk mengawal KM Labobar yang mengangkut TKI ke Jeddah. Setelah tugas itu selesai kembali ada perintah “Laksanakan pembebasan, penyelamataan crew, pengawalan ke tempat yang aman, dan melaksanakan penindakan sesuai pertimbangan taktis”. Operasi yang dipimpin Taufiq dapat disebut sebagai ‘Temporary Independent Deployment ” sehingga ia harus berkoordinasi dengan European Naval Forces yang kapal-kapalnya hadir di perairan itu.

Ada kekhawatiran saat kapal sudah dibebaskan akan dibajak lagi. “Perlu diketahui paling tidak ada 4 kelompok perompak di Somalia. Tiga kelompok setuju pembebasan, dan satu kelompok menolak,” kenang Taufiq. Oleh karena itu, seiring dengan usaha lain yang dilakukan oleh pemilik Sinar Kudus, sudah saatnya operasi dijalankan. Rencananya kapal akan dibebaskan jam 14.00. KRI Yos dan KRI AHP siap memantau perkembangan. Saat itu di samping kapal-kapal Indonesia ada kapal Amerika USS Brain Birds dan satu Frigate dari Italia. Ketika helikopter pengintai diterbangkan mendekati pembajak, dapat diketahui bahwa di antara pembajak di dalam kapal belum ada kesepakatan.

Setelah ditunggu-tunggu pembebasan tidak terjadi dari jam 15.00 waktu setempat sampai jam 17.00, sampai jam 20.00. Taufiq makin yakin bahwa pembebasan harus dijalankan antara pukul 1 sampai 2 dini hari.

Ternyata kapal melakukan lego jangkar untuk mendekati pantai Somalia dalam jarak 3 mil dari pantai. “Dari para pembajak itu rupanya ada orang angkatan lautnya sehingga tahu hukum internasional untuk meredam upaya pembebasan”, kenang Taufiq. Oleh karena itu, Taufiq memutuskan untuk mencegat kapal itu di kota Eyl yang berjarak 10 mil arah Utara perairan Somalia. Dari jarak 3 mil Helikopter disiapkan dengan dilengkapi General Purpose Machine Gun (GPNG) di sebelah kanan dan di sebalah kiri disiapkan para sniper (penembak jitu) menuju ke Sinar Kudus. Pada jarak aman pasukan turun dan 3 perompak tertembak yang salah satunya memakai kaos milik Mualim Kapal Sinar Kudus. Dua di antaranya bernama Farah dan Abdulkadir yang dikenal paling galak. Semula perompak itu akan ditangkap, tetapi ternyata mereka melawan dengan menembaki heli. “Mereka menembak Komandan!” lapor anggota pasukan. Taufiq pun memerintah, “Sapu!” Semua perompak dapat ditewaskan. Kapal Sinar Kudus dapat diselamatkan. Di salah satu media ditulis, kesakisan salah satu satu ABK Sinar Kudus, “Saya tugasnya di kamar mesin, jadi tidak tahu pasti. Tapi sempat melihat tiga perompak yang sebelumnya menembak helikopter TNI AL, ditembak mati.” “Terima kasih. Kalau Bapak tidak sabar kami mati semua!” tagas para ABK. Sinar Kudus melaju ke wilayah aman. Drama penyanderaan Sinar Kudus selama 61 hari berakhir.
 Mogok

Dua Searider bermanuver untuk menjajaki situasi menjelang aksi pembebasan KM Sinar Kudus
Keesokan harinya kapal Sinar Kudus mogok, karena mesin pendingin tidak berjalan akibat kehabisan air. Taufiq memerintah KRI Yos Sudarso untuk memberikan 20 ton air agar pendingin dapat berjalan kembali. Tanggal 4 Mei sampai di Pelabuhan Salalah, Oman untuk mengganti semua ABK yang bertugas. Para ABK yang telah dibebaskan dari penyanderaan akan diangkut pulang ke tanah air dengan pesawat. Untuk menjaga keamanan di kapal ditempatkan 7 orang pasukan.

Ketika kapal berada 100 mil dari Oman ada teriakan tanda bahaya dari kapal Uni Emirat Arab yang disergap kapal-kapal pembajak. Oleh karena itu, KRI Yos Sudarso berputar arah untuk menghalau para perompak itu. Tembak - menembak terjadi di kegelapan lautan. Tidak bisa dikonfirmasi berapa pembajak yang tewas sebelum mereka melarikan diri. Bagi para pembajak, mati dan hidup rupanya “tidak menjadi masalah serius”. Taufiq menyaksikan, perompak yang tewas langsung dibuang ke laut oleh teman-temannya. “Nyawa orang kok dianggap enteng saja,” tegas Taufiq yang mengaku melakukan sholat untuk para perompak yang tewas. Setelah kapal itu aman, barulah KRI Yos kembali mengawal Sinar Kudus. Komandan pasukan NATO di wilayah itu menyatakan pujian kepada Taufiq, “You do make different!”
 Karunia

KRI Yos Sudarso dan KRI Abdul Halim Perdanakusumah mengawal Sinar Kudus setelah dibebaskan
Bagi Taufiq, semua pengalaman itu adalah karunia Allah SWT. “Tidak ada hal yang kebetulan dalam hidup ini”, katanya merendah. Manusia ibaratnya hanyalah syariat yang dipenuhi ma’rifat dari Allah. Keberhasilan pembebasan sandera dari pembajak Somalia adalah pembebasan dramatik yang boleh jadi akan menjadi model dan modus operandi bagi pembebasan sandera-sandera lain dari para perompak Somalia yang telah menjadi momok pelayaran dagang internasional selama beberapa dasawarsa. Kecermatan yang dilakukan oleh pasukan TNI di bawah komando Dan Guspurlabar mungkin diteladani pasukan-pasukan penyelamat internasional.

Kuncinya, menurut Laksma Taufik adalah menemukan momentum yang tepat, “Kalau
terlalu cepat membahayakan pasukan, kalau terlalu lambat membahayakan para sandera.” Selama ini pembebasan sandera berhenti di tingkat perundingan dan memenuhi tuntutan pembajak. Sesuatu yang tidak memuaskan di kalangan prajurit manapun di dunia, karena mereka yakin bahwa cara militer akan bisa mengatasi persoalan perompak Somalia. Karena bagi prajurit, seperti dikatakan Laksma Taufik, “Tugas tentara adalah perang dan menang.” Dan pembebasan para sandera dari perompak Somalia yang dilakukan pasukan TNI membuktikan itu tanpa satu nyawa pun yang menjadi korban di pihak TNI maupun sandera. Bravo Laksma Taufik. Jalesveva Jayamahe! (Redaksi Jalasena)

♣ Jalasena, Edisi No. 02 Juni Th.I 2011 ♣


More about → Operasi Pembebasan Sandera Somalia

Pasukan Pembuka Operasi Seroja

Posted by ReTRo on Tuesday, May 29, 2012

Suatu hari di bulan Agustus 1975, Brigjen Yogie SM selaku Danjen RPKAD memanggil Letkol Inf Soegito. "Gito, kamu siapkan pasukan untuk serbu Timor, nanti kamu dengan Grup 2, untuk koordinasi kamu boleh ke Magelang," perintah Yogie singkat. Hari itulah untuk pertama kali Soegito mendengar rencana penyerangan ke Timtim.

Pasukan RPKAD mendarat di Dili

Sesuai perintah, RPKAD (sekarang Kopassus) diminta menyiapkan pasukan sebanyak 500 orang, gabungan Grup 1 berjumlah 265 orang dan Grup 2 yang berjumlah 235 orang. Tidak boleh lebih, tidak boleh kurang, begitu bunyi perintah.

Kepada anak buahnya, Soegito hanya bilang bahwa Grup akan mengadakan latihan penerjunan Wibawa VIII di Dili. Dalam waktu relatif singkat, koordinasi dan latihan segera dilakukan dengan Grup 2 yang dipimpin Letkol Inf Soetarno.

Ditengah jalan terjadi perubahan situasi. Operasi Flamboyan yang tak lain operasi klandestin membutuhkan tambahan personil. Mako RPKAD (sekarang Kopassus) akhirnya memutuskan harus memberangkatkan seluruh personil Grup 2. Mereka akan dipimpin Letkol Inf Kuntara yang merupakan wakil Soegito. Akhirnya Oktober 1975, Grup 2 berangkat, meninggalkan Grup 1 yang kebingungan. Padahal hingga detik itu, latihan dan koordinasi sudah dilakukan amat baik antar 2 Grup. Latihan terjun juga sudah dilakukan dengan simulasi Dili area.

Memasuki bulan Desember, situasi makin tegang "Baru sekitar seminggu sebelum 7 Desember, saya menerima perintah akan terjun bersama 501 (Yonif 501 Raiders)," Kata Soegito. Mereka akan tergabung dalam Satgas A untuk merebut Dili pada hari "H". Diakui Soegito, ia bersama Grup sudah sangat siap terjun bersama Yonif 501 Kodam Diponegoro. Batalyon 501 merupakan Batalyon andalan Kodam yang berkemampuan Linud. "Karena begitu Grup 2 pergi, saya di warning akan terjun bersama 501. Kami sudah koordinasi dan saling cocok sampai tiba-tiba dibatalkan, saya tidak tahu kenapa," beber Soegito.
 Pembuka Operasi Seroja

Tanggal 4 Desember, Soegito ikut rombongan Menhankam/Pangab Jenderal M Panggabean ke Kupang. Disinilah Soegito baru tahu bahwa tiga hari lagi pasukannya yang diberi sandi 'Nanggala 5' akan terjun di Dili, sebagai pasukan pembuka Operasi Seroja.

Dalam briefing sempat terjadi perdebatan alot soal DZ (droping zone). Ada yang bilang di sungai, gunung atau lapangan terbang. Sampai berdirilah Kolonel Rosadi. "Bagaimana kalu terjun di kota," usulnya. Setelah pembahasan kilat, Jenderal Panggabean menunjuk Soegito. "Gito, bagaimana?" tanya Panggabean yang dijawab singkat, "Siap!". Padahal Soegito sangat sadar bahwa posisinya sangat rawan. Dengan hanya 263 orang, betul-betul berbahaya.

Hari itu semua rombongan menginap di Kupang. Pulang esoknya pada sore hari. Soegito sadar belum melakukan persiapan apapun. Antara pukul 24.00 - 01.00 dini hari tanggal 6 Desember, ia dipanggil Mayjen LB Moerdani ke Bakin. Disana ada juga KSAU Marsekal Saleh Basarah yang akan membahas persiapan Operasi Seroja.

Pulang ke Kantor dalam kelelahan dan kurang tidur, Soegito masih harus melakukan persiapan. Dikumpulkannya semua amunisi AK-47, diisinya magasen lengkung dengan kapasitas 30 peluru tipe M43 39 x 7,62 mm. "Sebagian ransel saya isi rokok Gudang Garam," kenang Soegito sambil tertawa. Esoknya pukul 11.00 pasukan bergerak ke Lanud Halim Perdanakusuma. Sekitar pukul 13.00, mereka diterbangkan dengan empat C-130 Hercules menuju Lanud Iswahjudi, Madiun. Barulah sore hari di Madiun, Soegito bertemu dengan Komandan Yonif 501 Mayor Inf Ismail. Mereka kemudian berkoordinasi seperlunya, lalu berpisah dan larut dalam kesibukan masing-masing. Terutama menyiapkan makanan bagi 263 orang anak buahnya, yang tidak disiapkan oleh komando operasi.
 Hari H Jam J

Sebelum berangkat pukul 22.00 malam, Soegito juga masih direpotkan mengatur susunan penerjun di pesawat. Akibatnya pasukan harus berpindah-pindah pesawat sambil membawa perlengkapan yang berat sekali. "Kami waktu itu benar-benar tersiksa, capai, kurang tidur, kurang makan dan mental yang nggak karuan. Sebagian anggota saya malah tidak sempat pamitan dengan keluarganya." kenang Soegito. Tak heran begitu lampu hijau menyala, tanda penerjunan dimulai, sampai ada yang berujar 'Alhamdulillah'. Bersyukur karena lepas dari ketersiksaan di pesawat. Walau sadar ancaman berikutnya mengancam.

Sampai akhirya mendarat dan langsung terjebak kontak senjata. Namun 72 sisa pasukannya yang di pimpin Mayor Inf Theo Sayfei batal terjun, karena pesawat keburu berbelok untuk menghindar tembakan. Sisa pasukan ini dirubah tugasnya dan baru diterjunkan tiga hari kemudian di daerah Baucau. Tanggal 19 Desember, pasukan Theo akhirnya bergabung dengan pasukan induknya di Dili. Dari sini mereka lalu bergerak dan menyerang Aileu. Pertempuran hebat terjadi di Aileu dengan korban cukup besar di pihak Grup 1.

Di perjalanan ke Aileu mereka bertemu dengan tim serang dari Batalyon 405, 406, dan 407. Dari Alileu, Soegito ditarik ke Dili untuk menjadi Komandan Sektor A. "Saat itu saya merasa hebat sekali karena memimpin 10 Batalyon gabungan ABRI," kenang jebolan Akmil 1961 ini. pada 31 Maret 1976, Grup 1 yang berhasil menyelesaikan tugas dengan baik ditarik pulang ke Markas induknya di Cijantung, Jakarta. Tercatat, selama beroperasi di Timtim, 66 pasukan Grup 1 yang gugur dalam tugas. Semua nama pahlawan Grup 1 terpatri agung di Sasana Kusuma Bangsa, alun-alun sakral di komplek markas.
[Sumber Majalah Commando, 2005]
More about → Pasukan Pembuka Operasi Seroja

Wiratama : Sepenggal Kisah Perebutan Jembatan

Posted by ReTRo on Sunday, May 27, 2012

Yonif 712 / Wiratama
Ⓙangan membayangkan operasi pemulihan keamanan di Aceh seperti perang antara Amerika Serikat dan Irak yang merupakan perang konvensional. Operasi di Aceh ini adalah pertempuran melawan gerilya yang sporadis, yang tidak terduga kapan terjadinya. Biasanya pertempuran berlangsung jika pasukan Tentara Nasional Indonesia (TNI) memukul pertahanan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) atau dihadang oleh gerilyawan GAM dalam suatu patroli.

Salah satu kisah pertempuran yang cukup berkesan di hati prajurit TNI adalah perebutan sebuah jembatan yang melintasi Krueng (Sungai) Tingkeum di Desa Darul Aman, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen, sekitar 50 kilometer ke arah barat Kota Lhok Seumawe, Rabu (21/5). Daerah tersebut dikenal sebagai basis pertahanan GAM. Wilayah itu menjadi tanggung jawab Detasemen Pemukul (Denkul) 1 Batalyon 712 / Wiratama Manado, Sulawesi Utara, pimpinan Letkol Hipdizar.

Namun, sayangnya wartawan tidak berkesempatan meliput langsung jalannya pertempuran tersebut. Meskipun demikian, perebutan jembatan itu terus menjadi bahan cerita para prajurit selama dua hari wartawan berada di Markas Denkul 1 di Desa Matanggeulumpang, Peusangan.

"Coba kalau wartawan datang kemarin, bisa langsung melihat langsung. Itu pertempuran terbesar sejak kami enam bulan bertugas di sini," tutur Hipdizar hari Kamis lalu.

Jembatan di Desa Darul Aman itu panjangnya sekitar 500 meter dan berkonstruksi baja. Jembatan itu sangat strategis untuk menuju ke pedalaman Bireuen termasuk ke Desa Pante Raya yang merupakan basis GAM. Di tempat tersebut pernah dirayakan milad ke-26 GAM pada 22 Desember 2002. Oleh karena itu, perebutan jembatan menjadi penting bagi TNI untuk dapat menembus pertahanan GAM.

Jembatan tersebut sudah sejak beberapa hari sebelumnya diincar TNI untuk direbut. Namun, tampaknya GAM juga mati-matian mempertahankan jembatannya. Sejumlah bom rakitan diletakkan di sekitar penyambung wilayah itu. Selain itu, sejumlah pohon kelapa pun dirobohkan guna menghalangi orang yang menuju jembatan tersebut. Sekitar 100 meter ke arah selatan jembatan, jalan telah digali selebar tiga meter dengan dalam sekitar dua meter.

Untuk menembus jembatan itu sempat terpikir untuk menggunakan bantuan helikopter karena begitu gencarnya tembakan dari arah seberang. Namun, Denkul 1 tetap berusaha menggunakan kekuatan yang ada. Salah satu yang membuat mereka berhasil menembus jembatan itu adalah penggunaan dua truk Reo yang dilapisi baja antipeluru.

"Truk Reo ini sudah dikenal ditakuti oleh GAM," ujar Prajurit Kepala Ong Lee, pengemudi salah satu truk Reo, membanggakan truk yang dikemudikannya. Itu diketahuinya dari pembicaraan radio panggil handie talkie (HT) GAM yang frekuensinya ditangkap oleh Denkul 1, di mana GAM membatalkan penghadangan jika truk Reo ini lewat di basis GAM.

Warna kedua truk milik Komando Daerah Militer (Kodam) VII/Wirabuana, Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) ini juga lain dari mobil/truk standar TNI yang biasanya hijau polos. Warna dua truk Reo ini loreng hijau, putih, hitam.

Sambil melaju kencang di jembatan, tembakan melalui senapan mesin SMR yang dioperasikan Kopral Dua (Kopda) S Mongkow dan Kopda ABD Haris terus diarahkan ke arah depan. "Selain tembakan, granat-granat yang dilontarkan dengan grenade launching machine (GLM) meledak di kiri kanan truk. Tetapi saya terus melaju ke depan," ujar Ong Lee.

Yonif 712 / Wiratama
Tidak mudah untuk menembus pertahanan GAM itu. "Apalagi SMR saya sempat macet tiga kali. Buat tentara, hal yang paling mengkhawatirkan adalah jika senjata macet. Namun, teman saya membantu dengan tembakan senapan mesin minimi, sambil saya memperbaiki SMR," kata Mongkow. Maklum SMR tersebut sudah berumur 29 tahun, sedangkan gerilyawan GAM umumnya menggunakan AK-47 versi baru. Pukul 11.00, akhirnya jembatan itu dapat dikuasai dan TNI membuat pos di rumah-rumah kosong dan sekolah yang dibakar.

Tingkat kesulitan perang gerilya memang lebih tinggi dibanding perang konvensional. Dalam konteks ini, berbaurnya GAM dengan masyarakat adalah kesulitan yang mesti dipecahkan. Apalagi di wilayah Denkul 1 itu GAM telah menarik Kartu Tanda Penduduk (KTP) masyarakat sehingga antara GAM dan masyarakat sulit diidentifikasi.

Intel GAM yang dikenal sebagai cantoi yang berada di mana-mana-termasuk duduk-duduk di kedai sekitar pos TNI-juga menyulitkan TNI. "Baru kami mengikat tali sepatu, mereka sudah tahu kami akan jalan dan menyebarkan rencana itu melalui HT. Malah kadang orang yang mentraktir di kedai bertemu di lapangan ketika bertempur," ujar seorang prajurit.

Belum lagi persoalan bahasa karena umumnya masyarakat berkomunikasi dengan bahasa Aceh. "Kami sudah biasa kalau bertanya ke masyarakat yang dijawab dengan hana teupu (tidak tahu)," ujar Perwira Seksi Operasi Denkul 1 Lettu Wiryanto. Istilah hana teupu itu sudah menjadi istilah yang populer di kalangan prajurit.

Lain halnya pertempuran di Desa Lancuk, Kecamatan Jeumpa, Bireuen, TNI/Polri memang mampu masuk ke wilayah basis-basis GAM, tetapi agak kesulitan untuk menembaki anggota GAM. Hal yang sama terlihat di Desa Teupin Jalo, Kecamatan Samalanga. Masalahnya, anggota GAM yang bertempur tidak begitu melayani ketika TNI/Polri melepaskan tembakan. Kalaupun GAM melayani serangan TNI/Polri, sifatnya hanya kalau mereka terdesak untuk membela diri dan sekaligus melarikan diri. Bahkan, anggota GAM sendiri sudah menggabungkan dirinya dengan warga setempat tanpa menggunakan atribut seragam militernya.

Tidak jarang keluar dari mulut personel pasukan TNI/Polri bahwa GAM pengecut karena tidak berani bertempur secara kesatria menunjukkan jati dirinya. Ketika terjadi pertempuran, biasanya GAM hanya mau melayani sekali-sekali saja. Kalaupun ada serangan balik dari GAM, sifatnya hanya sebagai serangan psikis. Seolah-olah GAM masih kuat dan berani bertempur.

Padahal setiap kali TNI/Polri merangsek ke basis-basis pertahanan GAM, tak ada perlawanan yang berarti. Anggota GAM terlihat justru mundur dan melarikan diri.

Begitulah kesulitan yang terjadi di lapangan. Entah kapan perang gerilya itu akan membuahkan hasil di seluruh Nanggroe Aceh Darussalam. (BUR/SMN/B03/JOS)
More about → Wiratama : Sepenggal Kisah Perebutan Jembatan

Operasi pembebasan MV Sinar Kudus

Posted by ReTRo on Sunday, May 13, 2012

 ☠ MV Sinar Kudus dibajak perompak Somalia

Kapal MV Sinar kudus
Ⓐkhirnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membeberkan seputar operasi pembebasan sandera Kapal MV Sinar Kudus dari tangan perompak Somalia.

Presiden membantah bahwa pemerintah tidak bersikap tegas dalam menyikapi pembajakan itu. Bahkan menurut SBY, operasi penyerangan garis pantai telah disiapakan untuk membebaskan para sandera.

"Orang pada ribut, kita dianggap diam saja, mereka bilang mana harga diri kita. ini ini, mana itu. Padahal tidak mungkin saya mengatakan sudah berangkat seminggu yang lalu. kekuatan segini sekarang posisisnya disini, " ujar SBY dengan nada tinggi , saat menerima kedatangan Satgas Merah Putih pembebasan 20 ABK MV Sinar Kudus, di Markas Kolinlamil, Tanjung Priok Jakarta, Ahad (22/5).

Operasi khusus seperti itu, lanjut SBY, membutuh kecepatan dan serangan yang mendadak . Oleh karena itu jika seluruh informasi diobral maka itu seperti memberi tahu kepada musuh.

"Kita dikejar pers, pengamat, politisi saya bilang jangan dibocorkan. Tidak mungkin operasi militer itu diberitahukan kapan waktu-nya, tempatnya itu, lautnya begini, kekuatann begini sama saja setor nyawa," kata SBY menegaskan.

Rapat pembebasan ABK MV Sinar Kudus dilakukan setelah adanya informasi pembajakan. Rapat dimulai tanggal 18 Maret dan kemudian berlanjut kepada pertemuan berikutnya. Setidaknya, menurut SBY ada lima kali rapat terbatas. Awalnya opsi militer itu hanya menerjunkan dua jenis Kapal Perusak, KRI Yos Sudarso 353 dan KRI Halim Perdana Kusuma 355. Seiring dengan pertimbangan keselamatan. pemerintah kemudian menambah kekuatan pasukan dengan jenis Kapal LPD, KRI Banjarmasin.

Sehingga secara keseluruhan selain kapal tersebut, juga terdapat Helikopter, tank, dan kapal Sea Raider. Termasuk didalamya Satuan khusus angkatan laut (Denjaka Marinir), satuan khusus angkatan darat (Kopasus) dan elemen khusus udara.

Sekedar catatan Satgas Merah Putih, terdiri atas, beberapa satuan. Pertama Satgas Merah Putih dibawah Laksamana Ahmad Taufiqoerachman berjumlah 480 personel terdiri atas para ABK dari dua KRI.

Pasukan terdiri dari Kopaska, Denjaka Korps Marinir, Sandi Yudha Kopasus, Kostrad dengan Alutistas dua KRI, satu helikopter BO-105 dan empat sea raider. Kemudian awak TNI AU dengan kru 16 personei dibawah pimpinan Kapten pilot Letkol Penerbangan Renard Siregar sebagai angkutan penerbangan Satgas Merah Putih.

Ketiga angkatan personel pasukan penguatan Satgas Merah Putih dibawah Mayjen Alfan Baharudin yang berjumlah 488 personel yang terdiri dari ABK dan Kopaska dengan alutista KRI Banjarmasin, satu helikopter, tujuh Sea Raider, dan beberapa alat tempur lain. Kemudian terakhir Satgas Intel gabungan sebanyak 15 orang.

Pimpinan Satgas, Laksamana Ahmad Taufiqoerachman mengatakan dalam perjalanannya , Kapal Sinar Kudus hendak dibajak kembali oleh para perompak. Namun anggota TNI yang berada disana semuanya telah sigap. Sehingga para perompak berhasil dilumpuhkan.

"Ada tiga orang kita tembak, dan satu tenggalam. Satu diantaranya menggunakan baju Mualim kapal sinar kudus. Kita simpulkan mereka adalah perompak sinar kudus,"jelasnya.

Tidak hanya itu, setelah kapal bertolak dari Oman, pasukan TNI juga berhasil menyelamatkan satu kapal tangker milik Uni Emirat Arab. "Kita mendengar teriakan dan kita langsung menuju lokasi untuk menyelamatkan kapal tersebut," jelasnya.

MV Sinar Kudus telah lepas dari tangan perompak Somalia setelah tebusan miliaran rupiah dibayarkan. TNI yang memantau pembebasan itu menghabisi 4 perompak Somalia saat kapal kargo itu telah memasuki perairan internasional.
 ☠ Kronologi

Berikut kronologi pembebasan MV Sinar Kudus yang disampaikan oleh Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono dalam jumpa pers di Puspen Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Senin (2/5/2011).

Tanggal 16 Maret 2011
MV Sinar Kudus dibajak. Selanjutnya digunakan sebagai kapal induk pembajak untuk beroperasi ke utara sampai Teluk Oman.
Tanggal 17 Maret
Presiden SBY menerima laporan soal pembajakan MV Sinar Kudus.
Tanggal 18 Maret
Pukul 11.00 WIB
Presiden memberikan perintah langsung operasi pembebasan terhadap ABK MV Sinar Kudus.

Pukul 14.00 WIB
Rapat khusus Kemenko Polhukam untuk membahas alternatif pembebasan. Hasilnya yakni negosiasi terus dijalankan dan operasi militer disiapkan.

Pukul 19.00 WIB,
Diputuskan untuk bertindak :
  • Pertama, membebaskan kapal dengan operasi khusus bila kapal Sinar Kudus di tengah laut.
  • Kedua, menyiapkan rencana cadangan bila kapal telah turun jangkar di wilayah Somalia dengan mempelajari perkembangan. 
  • Tiga, mengirimkan 2 kapal fregat dan pasukan khusus.
Tanggal 19 Maret
Panglima TNI menerima persetujuan dari Presiden tentang kekuatan yang akan dilibatkan yakni terdiri dari 2 kapal fregat, 1 helikopter, pasukan khusus dari marinir, Kopassus, dan Kopaska.
Tanggal 20 Maret
Penyiapan kapal dan pasukan.
Tanggal 21 Maret
Paparan rencana operasi dan menerima keputusan Presiden.
  • 2 fregat dan heli diberangkatkan dari Jakarta.
  • Pasukan khusus dari Jakarta menggunakan pesawat TNI AU dan bergabung dengan kapal di Colombo.
  • Komando dari keputusan 'go' atau 'no go' dari Presiden.
  • Pembebasan dilakukan saat kapal sedang berlayar.
Tanggal 23 Maret
Pukul 18.00 WIB
2 fregat dan helikopter berangkat dari Jakarta.
Tanggal 29 Maret
2 Kapal KRI tiba di Colombo, pasukan khusus yang datang dengan pesawat bergabung ke kapal KRI dan bekal ulang logistik. Konon kedatangan ke Colombo bocor karena media di luar negeri memberitakan kedatangan pasukan Indonesia di dunia maya.

KRI Abdul Halim Perdanakusuma-355 tiba di pelabuhan Colombo, Sri Lanka disambut perwira AL Sri Lanka. Kedua frigate dikirm ke Laut Arab untuk membebaskan awak kapal MV Kudus yang disandera perompak Somalia. (Foto: Sri Lanka Navy)

KRI Yos Sudarso saat singgah di pelabuhan Colombo, Sri Lanka. (Foto: Sri Lanka Navy)
Tanggal 30 Maret
2 fregat berangkat dari Colombo ke Somalia. Informasi terakhir yang diterima kala itu, MV Sinar Kudus telah turun jangkar di perairan Somalia. Namun ada kemungkinan masih digunakan sebagai kapal induk.
Tanggal 4 April
Pasukan Gugus Tugas tiba di Somalia dan pengumpulan data dan rencana cadangan yakni :
  1. Pertama, hasil deteksi dari helikopter yang diterbangkan dilaporkan ada 8 kapal negara lain yang dibajak.
  2. Kedua, belum ada negara lain yang membebaskan sandera saat saat kapal telah turun jangkar.
  3. Ketiga, pada umumnya ABK yang disandera sering dipindah dan jumlahnya di kapal tidak lengkap.
  4. Keempat, setiap kapal yang dibajak dijaga pasukan keamanan.
  5. Kelima, ada 15-20 kelompok perompak yang terorganisir. Yang setiap kelompoknya terdiri dari 30 anggota.
  6. Keenam, kapal-kapal di turun jangkarnya di kota yang mayoritas perompak. Tidak ada akses langsung untuk melaporkan perkembangan setiap saat.
Tanggal 6 April
Satgas ke Pelabuhan Oman, Salalah, untuk bekal ulang logistik.
Tanggal 12 April
Antisipasi Sinar Kudus keluar dari perairan Somalia.
Tanggl 13 April
Negosiasi mendapatkan titik terang yakni penindakan disesuaikan dengan tebusan. Harus dipastikan mendapat jaminan keselamatan ABK. Kemudian pada saat pelepasan akan dilaksanakan tindakan militer terhadap perompak.
Tanggal 18 April
Rapat terbatas di Bogor untuk menyelamatkan sandera lalu pengejaran terhadap perompak yakni dengan operasi militer. Selain itu aksi serentak dengan kekuatan 1 LPD, 1 heli, Kopassus, Kostrad, Marinir serta pelibatan Sandi Yudha pimpinan Dankormar.
Tanggal 21 April
Penambahan kekuatan diberangkatkan dari Surabaya ke Jakarta menuju Somalia.
Tanggal 27 April
Presiden mencermati kebijakan dan permintaan bebaskan dan selamatkan ABK, laksanakan aksi militer terhadap elemen perompak, mengawal MV Sinar Kudus sampai ke Oman.
Tanggal 28 April
Rencana pengantaran uang tebusan dibatalkan karena ada pimpinan perompak menaikkan jumlah yang disepakati.
Tanggal 30 April
Pengantaran uang tebusan menggunakan pesawat dispanser. Tebusan dibawa ke MV Sinar Kudus untuk dicek asli atau tidak. Lalu dibagi ke perompak, investor, tokoh informal 10 persen, dan penjaga 10 persen. Perhitungan dilakukan di kapal hingga malam.
Tanggal 1 Mei
Paginya, perompak turun dari MV Sinar Kudus. Setelah tidak ada lagi perompak, baru dilakukan aksi tindakan militer pengamanan untuk melakukan pengejaran perompak. Karena perompak tahu tindakan itu, perompak ikut menyerang. Akhirnya terjadi baku tembak.

Terjadi kontak tembak, setelah Satgas Merah Putih melakukan operasi militer pembebasan kapal MV Sinar Kudus. 4 Perompak terkena tembakan dan jatuh ke laut. Tidak ditemukan mayatnya di laut. Hanya speedboatnya yang berhasil ditemukan dan dibawa ke Indonesia.

Tiga sea rider yang membawa Satgas Merah Putih Penanggulangan Teror TNI menyergap perahu milik perompak Somalia. (Foto: ANTARA/Dok. Kormar/Spt/11)
speedboat perompak dibawa pulang

Setelah itu, TNI mengecek keamaan MV Sinar Kudus dan sterilisasi perompak dan bahan peledak. Setelah diketahui aman, kapal dibawa ke Oman dikawal dengan 2 fregat.
Kapal MV Sinar Kudus dikawal 2 KRI menuju Indonesia

Tanggal 4 Mei
Satgas, kapal LPD (Landing Platform Deck), dan pihak militer lainnya melakukan konsolidasi di Oman.

Dengan adanya kejadian ini, lanjut Agus, setiap kapal yang melintasi daerah rawan, akan dikawal 2 fregat. Untuk pembebasan MV Sinar Kudus ini, opsi nego dan operasi militer sudah direncanakan sehingga penyelamatan bisa dilakukan sebaik-baiknya.

"Kami berterima kasih kepada para prajurit karena semua kegiatan sudah kita laksanakan sesuai tahapan-tahapan," ungkapnya.

Satgas Merah Putih merapat dengan LCVP dari LPD Banjarmasin ke Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta setelah sebulan bertugas di perairan Somalia
Tanggal 23 Mei 2011
SATUAN Tugas Pembebasan MV Sinar Kudus yang telah disandera perompak Somalia selama hampir satu bulan lebih, kembali ke Indonesia. Satgas dengan sandi Merah Putih ini diterima langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Dermaga Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil) Tanjung Priok Jakarta, Minggu (22/5).

Upacara penyambutan diawali dengan kehadiran dua “sea riders” yang memiliki kapasitas 15 personel. Dilanjutkan dengan LCVP kendaraan air untuk mendukung penurunan personel yang mendukung operasi pembebasan. Kemudian dihadirkan tiga kapal perang Indonesia yang terlibat dalam operasi pembebasan MV Sinar Kudus KRI Yos Sudarso, KRI Abdul Halim Perdanakusuma dan KRI Banjarmasin.

SBY yang didampingi Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono dan tiga kepala staf angkatan serta beberapa menteri Kabinet Indonesia Bersatu II, menyatakan bangga atas keberhasilan Satgas Merah Putih dan Duta Samudra I/2011 dalam membebaskan kapal niaga MV Sinar Kudus dari tangan perompak Somalia.

“Atas nama negara, atas nama pemerintah dan atas nama pribadi saya ucapkan terima kasih dan penghargaan pada para prajurit, baik perwira, bintara maupun tamtama yang telah berhasil mengemban tugas negara yang penuh risiko dan ketidakpastian,” kata SBY.

SBY juga mengatakan telah melihat video proses pembebasan yang dilakukan Satgas Merah Putih dan Satgas Duta Samudra I/2011 yang memperlihatkan proses pembebasan memiliki tingkat risiko yang tinggi, baik karena faktor cuaca dan medan operasi.

“Saya juga menyaksikan melalui video, bagaimana seorang Kolonel atau Letkol terjun langsung menggunakan `sea riders` untuk mendukung proses pembebasan kapal Sinar Kudus, yang seharusnya cukup dilakukan oleh seorang Sersan,” kata Presiden bangga, sambil meminta perwira dimaksud untuk memperlihatkan diri.

Presiden mengungkapkan, sejak kali pertama mendengar kabar MV Sinar Kudus dibajak, dirinya langsung melakukan langkah-langkah penyelamatan.

“Tidak kurang dari lima kali rapat kabinet membahas beberapa opsi yang dapat dilakukan untuk pembebasan kapal dan 20 ABK dengan selamat,” katanya.

Presiden mengemukakan, untuk membebaskan kapal Sinar Kudus yang disandera perompak Somalia selama hampir 46 hari, Pemerintah menetapkan tiga opsi yakni menyelamatkan 20 ABK, pembebasan kapal dan setelah ABK serta kapal berhasil diselamatkan maka dilakukan penindakan terhadap para perompak.

“Semua proses itu saya saksikan melalui video. Jadikan semua itu pelajaran, baik dari segi operasi logistik, proyeksi kekuatan, operasi intelijen, diplomasi dan pola satuan tugas. Sekali lagi saya bangga,” tutur SBY.

SBY juga mengaku terpaksa menahan diri bicara selama dua bulan, untuk mendukung keberhasilan operasi pembebasan kapal MV Sinar Kudus yang disandera perompak Somalia selama hampir 46 hari. SBY mengaku tak perduli dengan banyak komentar, banyak kritik, banyak ulasan dirinya yang memilih diam saat itu.

“Sekali lagi, operasi khusus seperti itu memerlukan kerahasiaan, memerlukan keamanan, pelaksanaanya memerlukan kecepatan, dan juga pendadakan.

Oleh karena itu, kalau kita obral apa yang akan dan sedang kita lakukan, maka sama saja kita memberi tahu musuh, lawan, untuk setiap saat bisa menggagalkan operasi kita dan bisa menghancurkan satuan kita sendiri,” kata SBY, lagi.

SBY juga mengungkapkan, Satgas dibekali dengan persenjataan lengkap untuk melangsungkan operasi militer. Hanya, takdir menggariskan lain. Pemilik kapal memilih membayar tebusan.

Kapal MV Sinar Kudus dibajak perompak Somalia pada 16 Maret 2011 dan membawa 20 ABK. Kapal berbobot 8.911 ton itu membawa feronikel dengan tujuan Belanda.

Ketika dibajak, MV Sinar Kudus berada di Perairan Somalia tepatnya di sekitar 350 mil laut tenggara Oman. Kapal MV Sinar Kudus dibebaskan dengan membayar tebusan disertai operasi militer bersandikan “Merah Putih” pimpinan Kolonel Laut (P) M. Taufiqurochman. Atas keberhasilannya membebaskan seluruh ABK, Kolonel Laut Pelaut Ahmad Taufiquerachman diberikan kenaikan pangkat satu tingkat lebih tinggi menjadi Laksamana Pertama TNI.

Presiden juga memberikan tanda jasa Santi Dharma masing-masing kepada Letkol Infanteri Sabri Danyton Ban Sat 801 Gultor, Kolonel Marinir Suhartono, Danden Jaka dan Letkol Penerbang Ronald R Siregar pilot Boeing 474 400 yang bertugas dalam misi pembebasan itu.

Satgas melibatkan dua kapal fregat yakni KRI Abdul Halim Perdanakusuma-355 dan KRI Yos Sudarso-353, satu kapal LPD KRI Banjarmasin-592 dan satu helikopter B0-105, “sea riders” dan LCVP. Personel yang dikerahkan terdiri atas pasukan khusus dari Kopassus, Korps Marinir dan Kopaska.
 ☠ Beikut Video pembebasan MV Sinar Kudus

video youtube MNC (Pasukan Khusus TNI baku Tembak dengan perompak)
video youtube

Sumber :
  • detikNews
  • republika
  • antara
  • batampos
    More about → Operasi pembebasan MV Sinar Kudus