Showing posts with label ITB. Show all posts
Showing posts with label ITB. Show all posts

Lemsaneg Gandeng ITB Antisipasi Cyber Crime

Posted by ReTRo on Wednesday, November 7, 2012

Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg) menggandeng Insititut Teknologi Bandung (ITB) guna menjamin keamanan informasi milik negara. Hal itu tertuang dalam penandatanganan MoU yang dilakukan di Gedung Rektorat ITB, Bandung, Rabu (7/11).

Lembaga non kementrian ini menggandeng kampus teknik pertama di Indonesia sebagai langkah nyata melalui pembentukan kemitraan strategis dengan institusi pendidikan nasional. Kerja sama dilakukan untuk lima tahun kedepan.

"Disadari atau tidak ITB adalah kampus terbaik saat ini, dan memiliki jebolan-jebolan yang sungguh luar biasa," kata Kepala Lemsaneg Djoko Setiadi dalam jumpa pers di Gedung Rektorat ITB, Rabu (7/11).

ITB juga kata dia merupakan salah satu pusat keunggulan teknologi terbaik di Indonesia khususnya dalam bidang penelitian dan rekayasa tekonologi di bidang cyber security.

Diharapkannya, dengan adanya kerja sama antara lembaga Sandi Negara dan ITB dapat meningkatkan kapabilitias dan kompetensi sumber daya manusia persandian nasional. Ini untuk mewujudkan kemandirian dan menjamin keamanan informasi nasional.

"Saya sangat berharap ITB bisa bersinergi bisa mengatasi kejahatan. Di dunia cyber ini ada, dan sewaktu-waktu bisa mengancam. Kami siap mencari solusi," ujarnya.

Setelah adanya penandatangan ini menurut Djoko, pembangunan kapabilitas cyber security khususnya pengembangan kapasitas SDM melalui pendidikan pasca sarjana di bidang keamanan informasi.

Kerja sama teknis lain yang segera dilakukan adalah IT Security Assesment melalui pembentukan tim yang akan melakukan penilaian terhadap keamanan aset informasi strategis negara yang sering jadi ancaman.

Selain itu, sebagai upaya memperkuat keamanan nasional akan dilakukan kerja sama dalam hal pembuatan algoritma kriptografi nasional yang salah satunya akan digunakan sebagai Public Key Infrastruktur dalam infrastruktur National Goverment Root Certificate Authority (CA).

Sementara itu, Rektor ITB Akhmaloka menyambut baik upaya Lemsaneg yang ingin bekerja sama dengan ITB. Menurutnya kerja sama dan komunikasi sejauh ini memang sudah terjalin. Tapi dengan adanya kesepahaman ini bahwa, cyber securty harus ditangani secara bersama.

"Kami udah lama (kerja sama), tapi ini resminya. Peran kami adalah untuk mengembangkan keilmuan di matematika," ungkapnya.(mdk/bal)


© Merdeka
More aboutLemsaneg Gandeng ITB Antisipasi Cyber Crime

★ Di Asia Tenggara Pesawat Tak Berawak RI Paling Maju

Posted by ReTRo on Monday, November 5, 2012

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjGdwey3cGNi4dBCYguFQLIGiDDZIshMDdw9vPn9LLlHHPKeGJWVqqqNylb1tHadIsDvIgLEof2-5Rfr6DpU4nHWvMAvWvTSd9dIKhoneX0wyxoDLIAxW92Rdp6sklTU9h5UM9g4Kstibc/s1600/175165_pesawat-terbang-tanpa-awak_663_382.jpg
UAV BPPT 'Pelatuk'
Bandung - Teknologi pesawat tanpa awak di Indonesia diklaim paling maju di kawasan Asia Tenggara. Misalnya dibandingkan dengan negara Malaysia dan Singapura.

"Malaysia masih di bawah kita. Bahkan dibandingkan dengan negara Asia Tenggara lainnya seperti, Singapura, kita masih lebih bagus," ungkap Ketua Jurusan Aeronautika dan Astronautika Fakultas Teknik Mesin Penerbangan (FTMD) Institut Teknologi Bandung (ITB) Taufiq Mulyanto, kepada Okezone, Sabtu (3/11/2012).

Sejak kemarin Jumat 2 November hingga Minggu 4 November mendatang, FTMD ITB menggelar kontes pesawat tanpa awak (Unmanned Aerial Vehicle/UAV) lewat Indonesia Aerial Robot Contest (IARC) 2012 di Lanud Sulaeman, Soreang, Kabupaten Bandung.

Lanjut Taufiq, memang Singapura memiliki resource yang bagus. Namun jika ditelusuri, SDM-nya justru dari Indonesia, misalnya dari ITB.

"Malaysia juga belum (UAV-nya belum maju), dapurnya di kita," tambahnya.

Makanya dengan dihelatnya IARC 2012, semangat untuk mengembangkan teknologi pesawat tanpa awak di Indonesia makin meningkat. "Lewat event ini bendera kita harus terus berkibar," ujarnya.

IARC 2012 merupakan acara tahunan FTMD ITB yang sudah digelar sejak 2008. Kali ini, IARC berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, di mana acara dihelat di outdoor. Biasanya, IARC ITB digelar di ruangan FTMD ITB, Jalan Ganeca, Bandung. Sehingga tantangan peserta IARC kali ini akan lebih berat.

"Sebelumnya pada September kami telah melakukan workshop, dan survei tentang bagaimana jika dilakukan kontes outdoor. Sehingga kesiapannya sudah diperhitungkan," terangnya.

Ada tiga tujuan utama kenapa IARC. Kata Taufiq, intinya acara ini ingin menumbuhkan semangat inovasi khususnya bidang UAV, bukan hanya sekedar kontes menang kalah.

Kedua, kata dia, diharapkan ada kolaborasi antara ilmu di perguruan tinggi dan sekolah tingkat SMA.

"Ketiga, ada proses, kita enggak lihat hasil akhir saja tapi penguasaan teknik UAV di Indonesia," ujarnya.

Menurutnya, teknologi UAV Indonesia tentu sangat jauh ketinggalan jika dengan UAV di negara maju misalnya Jepang.

Jika dihitung-hitung, teknologi UAV di negara maju sudah ada sejak 20 tahun lalu. "Ya ketika dibandingkan dengan kita, ibarat bayi dengan pelari. Jadi perlu investasi waktu supaya UAV di Indonesia maju. Di kita sendiri bentuk UAV baru ada 2004, kalau penelitiannya sejak 94," ceritanya.

© Okezone
More about★ Di Asia Tenggara Pesawat Tak Berawak RI Paling Maju

Kerjasama Konsorsium Penelitian Kapal Perang Nasional Type Destroyer Tahun 2012 - 2014 (AAL-ITS-UI-ITB-UNS-PENS)

Posted by ReTRo on Wednesday, May 2, 2012

alt
Akademi Angkatan Laut (28/04/12),- Indonesia masih belum mandiri dalam bidang pertahanan dan alat utama sistem senjata (alutsista). Dengan berbekal keinginan yang kuat untuk mewujudkan kedaulatan sistem pertahanan nasional, ITS melalui Konsorsium Pengembangan Kapal Perang Nasional (KPKPN) menggagas pembuatan kapal perang anti radar. Tak tanggung-tanggung, riset ini didanai pemerintah senilai Rp 1,8 Miliar tiap Tahunnya. ITS tak bekerja sendiri, mengingat riset ini adalah riset nasional, maka ITS dibantu oleh beberapa perguruan tinggi negeri lain. Yaitu Akademi Angkatan Laut (AAL), Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS), Universitas Indonesia (UI), Universitas Sebelas Maret (UNS) dan Institut Teknologi Bandung (ITB).

Konsorsium ini bermula dari workshop inisiasi bidang kapal perang yang dilaksanakan Agustus 2011 lalu. Dari workshop itulah ITS mengambil langkah lebih lanjut terkait penelitian kapal perang tersebut. Termasuk pembuatan proposal untuk kemudian diajukan ke pemerintah. ''Pembuatan proposal untuk konsorsium ini telah selesai sejak akhir tahun 2011,'' ungkap Hendro Nurhadi Dipl Ing PhD, Ketua KPKPN. Baru seteleh itu, digelar workshop nasional bidang kapal perang pada akhir Februari lalu.

Penggarapan kapal perang ini dibagi menjadi tujuh kelompok kerja berdasarkan bagian kelengkapan kapal. Ketujuh kelompok kerja tersebut masing-masing menangani karakterisasi komposit, metalurgi fisik, ship standard and Mission Requirement, auto pilot, steering control, material untuk radar dan Combat Material System (CMS). Dari pembagian tersebut, Mayor Laut (E) Oman Sukirman, M.T dari AAL berperan dalam kegiatan Ship Standard and Mission Requirement serta pengumpulan data primer, Prof. Dr. Kuncoro Diharjo dari UNS turut serta dalam pembuatan karakterisasi komposit. Sedangkan metalurgi fisik ditangani oleh Prof Dr Ir Bondan Tiara Sofyan dari UI.

“Kapal yang banyak sekarang ini sebagian besar merupakan produk-produk lama. Oleh karena itu, sangat disayangkan jika Indonesia terus menerus bergantung pada negeri lain padahal potensi dalam negeri sangat besar” papar Mayor Oman dalam paparan sesi ke-2 workshop di Nasdec (22/2).

Keunggulan kapal perang ini nantinya yaitu dibuat dengan material anti radar. ''Anti radar baru pertama kali diterapkan di pesawat tempur Amerika. Konon wartawan tidak bisa mendekat dari jarak 100 meter,'' jelas Drs Mochamad Zainuri M.Si yang juga ditemui saat konferensi pers diskusi ilmiah di Nasdec (22/2). Zainuri yang telah meneliti bahan anti radar sejak tahun 2005 itu mengungkapkan bahwa material anti radar yang digunakan pada kapal tersebut dibuat dari pasir besi. Hingga saat ini, material tersebut telah berhasil dibuat dan dapat menyerap radar hingga 99 persen.

“Kerjasama penelitian dengan perguruan tinggi besar, tentu sangat mengangkat bendera AAL dimata akademisi di seluruh Indonesia. Apalagi kerjasama besar ini hanya melibatkan perguruan tinggi yang memiliki peneliti-peneliti yang dianggap oleh Kementerian Ristek paling berkompeten” kata Gubernur AAL Laksda TNI Agus Purwoto.

Jenderal berbintang dua ini menegaskan pula bahwa dirinya sangat mendukung bentuk kerjasama ini apalagi bila melibatkan Kadet dan Dosen AAL secara aktif. “Hal tersebut guna lebih meningkatkan kemampuan analisis para Dosen AAL maupun Kadet, serta lebih menimbulkan kemauan untuk mengembangkan Alutsista yang ada khususnya milik TNI AL” tegas orang nomor satu di AAL ini. (bagpen AAL).
More aboutKerjasama Konsorsium Penelitian Kapal Perang Nasional Type Destroyer Tahun 2012 - 2014 (AAL-ITS-UI-ITB-UNS-PENS)

★ Quadrotor

Posted by ReTRo on Saturday, April 14, 2012

Perancang Quadrotor 1 Dr Ir Yudhoyono
Peneliti Institut Teknologi Bandung merancang wahana pengintai tanpa awak. Sudah bisa diproduksi massal. Masih ingat drama pengepungan rumah yang diyakini polisi sebagai tempat persembunyian teroris di Jawa Tengah awal Agustus lalu? Selain pasukan khusus, drama belasan jam di Dusun Beji, Kecamatan Kedu, Temanggung, itu melibatkan satu aktor penting: robot yang telah mendongkrak citra Detasemen Khusus 88 sebagai pasukan yang dilengkapi peralatan canggih.

Robot darat di Temanggung itu bahkan boleh dibilang sudah ketinggalan zaman. Andaikan polisi menggunakan robot terbang, boleh jadi drama pengepungan tak akan memakan belasan jam. Soalnya, di Indonesia, robot terbang itu sudah ada. Sebulan sebelum penyerbuan Temanggung, pakar aeronautika Institut Teknologi Bandung, Yudhoyono Kartidjo, mempertunjukkan robot terbang hasil rancangannya.

"Robot ini untuk pengamatan daerah yang berada diluar jangkauan kita," katanya. Saat ini, robot terbang yang disebut Quadrotor karena memiliki empat baling-baling siap diproduksi massal, dan fungsinya bisa dirancang sesuai dengan kebutuhan pengguna. Quadrotor Type 1 demikian robot terbang itu diberi nama mampu terbang ke segala arah. Sangat praktis karena wahana dengan panjang dan lebar tak lebih dari satu meter itu bisa mengudara tanpa landasan, seperti helikopter. "Robot ini mampu terbang, bergerak vertikal dan horizontal," kata perancangnya.

Badan Quadrotor ini terbuat dari pelat aluminium ringan. Pada tiap ujungnya terpasang satu buah rotor, dan modul elektronik untuk menggerakkan motor dipasang di tengah. Hebatnya, robot ini bisa mengudara sejauh 50 kilometer dari pusat kendali darat.

Prototipe robot yang dipertunjukkan memang masih sederhana. Hanya berbentuk dua batang pelat alumunium yang disatukan dan pada tiap ujungnya dipasang baling-baling. Tapi fungsi pengintaian menjadi keunggulan Quadrotor ini.

Pada bagian tengah robot, sekaligus tempat menyatunya dua pelat itu, dipasangkan kamera kontrol untuk mengendalikan arah terbang dan sebuah kamera video untuk merekam obyek yang menjadi sasaran. Selain itu, ada sebuah antena yang menjadi penerima dan pengirim sinyal. Prototipe ini digerakkan dengan tenaga baterai yang bisa bertahan setengah jam.

Menurut Yudhoyono, robot terbang ini merupakan pengembangan teknologi pesawat nirawak yang ia rancang lebih dari lima tahun lalu. Pesawat tanpa awak yang ia kembangkan itu bersifat autonomouse, artinya pesawat bergerak menjaga keseimbangannya sendiri. Inilah yang membedakan pesawat tanpa awak itu dengan pesawat sejenis yang dioperasikan lewat pengontrol jarak jauh (remote control). Pesawat dengan remote control hanya bisa dikendalikan sejauh mata memandang.

Semua gerakan dan keseimbangan pesawat dikendalikan penuh dari darat, sehingga sulit difungsikan sebagai pengintai.Robot yang dikembangkan Yudhoyono itu tahun lalu pernah mendapat penghargaan sebagai rancangan terbaik pada kompetisi robot Korea. Pemakainya, tim Unmanned Aerial Vehicle Indonesia Garuda, menampilkan pesawat yang dirancang dengan tingkat kemandirian tinggi. Seluruh rancangan pesawat, dari desain pesawat nirawak, unit sistem pengendali, navigasi, hingga kontrol darat merupakan hasil rancangan sendiri, dan tidak memakai komponen pabrikan (on-the-shelf) yang dapat dibeli di pasar. Tim lain kebanyakan memakai komponen jadi. Indonesia tak bisa membeli komponen ini karena embargo negara produsen.

Pada lomba itu ada empat misi wajib yang harus dilakukan:
menjatuhkan obyek tertentu pada sasaran yang telah ditentukan,
mengambil gambar obyek yang diletakkan pada area tertentu,
mengambil gambar suatu obyek yang lokasinya telah ditentukan dengan kualitas gambar yang tinggi,
mencari obyek di permukaan laut dalam bentuk boneka orang yang tidak diketahui posisinya.

Misi itu harus dilakukan dalam mode "Autonomous". Artinya, pesawat dikendalikan oleh program komputer yang ada di dalam pesawat tanpa intervensi dari pilot atau operator. Indonesia unggul dalam misi kedua dan ketiga.

Nah, pesawat tanpa awak itu memiliki kelebihan, yaitu stabilitas di udara Quadrotor ini juga dilengkapi sensor terhadap benda di sekitarnya, sehingga bisa digunakan di ruangan tanpa khawatir bakal menabrak dinding.

Yudhoyono mengatakan Quadrotor bisa dirancang sesuai dengan keperluan penggunanya, misalnya untuk keperluan jarak jauh dan lama, tenaga penggerak tidak menggunakan baterai tapi mesinnya bisa diganti dengan yang berbahan bakar bensin. "Alat ini bisa dipakai oleh tentara, polisi, hingga pemadam kebakaran untuk mengurangi risiko kehilangan personil".

Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman mengatakan robot terbang buatan Yudhoyono itu sangat bermanfaat, terutama di bidang militer. "Sangat penting untuk misi pengintaian. Ini harus terus dikembangkan," katanya.

la mengatakan negara-negara yang militernya terkenal kuat, seperti Amerika Serikat dan Israel, sangat mengandalkan hasil-hasil riset teknologi untuk memuluskan operasi. la berharap riset-riset teknologi seperti ini akan menambah kemandirian alat-alat tempur TNI. "Kita yakin ke depan kita akan mampu memiliki industri pertahanan yang mandiri," ujar Kusmayanto.

Untuk menuju kemandirian itu, Yudhoyono mengatakan Quadrotor sudah bisa diproduksi massal. "Pabriknya sudah ada," katanya. Satu Quadrotor dihargai Rp 850 juta. Dengan teknologi yang lebih canggih, tentu harga itu jauh lebih murah dibanding robot darat yang digunakan polisi di Temanggung.

Selain sebagai alat pengintai, polisi bisa mendapat keuntungan dengan menjual gambar yang diambil. "Misalnya beberapa saat setelah ledakan bom Marriott, siapa yang berani masuk hotel? Alat ini bisa masuk dan mengambil gambar. Gambar eksklusif itu bisa dijual ke stasiun televisi," kata Yudhoyono.


Berikut video Quadrotor :



[sumber diposkan audryliahepburn]
More about★ Quadrotor

Sejarah Roket Indonesia

Posted by ReTRo on Saturday, February 4, 2012

ejarah Roket dan Rudal di Indonesia dimulai sejak RI membeli berbagai Rudal SAM (Surface to Air Missile) dari Uni Soviet . Era Sukarno kita membeli persenjataan banyak untuk mempersiapkan konftontrasi Dwikora maupun Trikora.

Industri roket bukan hal baru bagi Indonesia. Teknologi pembuatan roket di Indonesia sudah dirintis sejak tahun 1960-an. Indonesia bahkan termasuk negara kedua di Asia dan Afrika, setelah Jepang, yang berhasil meluncurkan roketnya sendiri.

Sebenarnya pembangunan teknologi Rudal di dalam negeri sudah mulai dirintis. Namun sayangnya, Indonesia gagal melakukan alih-teknologi.

ABRI (nama lama TNI) beserta ITB (Institut Teknologi Bandung) mencoba dan melakukan pengembangan lebih lanjut tapi karena keterbatasan dana dan politik, maka riset terasa lamban malah seperti terhenti. namun bangsa kita telah berhasil menciptakan prototye beberapa roket.

Sebenarnya masih banyak roket2 besar bikinan AURI dan ITB, diantaranya WIDYA, YOGA, dll, namun perkembangannya terhenti, setelah tahun 1965, AURI kena getahnya kasus G-30S.

Roket Kartika

Roket Kartika 1 adalah roket pertama Indonesia hasil kerjasama AURI dan ITB pada tahun 1962 berdasarkan perintah Perdana Menteri Juanda.

Indonesia akhirnya berhasil meluncurkan roket buatannya sendiri yang bernama Kartika 1 dengan berat 220 Kg dari stasiun peluncuran roket Pameungpeuk, Garut, Jawa Barat.

Setelah itu juga perkembangan roket dan rudal semakin semarak di Indonesia, bahkan Indonesia kembali meluncurkan roket Kartika 2 dengan berat 66,5 Kg dan berjarak tempuh 50 Km.

Namun sayang, setelah orde lama jatuh, teknologi rudal dan roket kurang berkembang di era orde baru, dan membuat Indonesia semakin jauh tertinggal dibandingkan negara-negara lain bukan hanya di Asia namun di dunia.

TNI AD sama sekali tidak ikutan walaupun namanya Kartika. Dan LAPAN belum terbentuk, karena LAPAN baru dibentuk pada tanggal 27 November 1963, melalui Keppres Nomor 236 tahun 1963 tentang LAPAN.
Jadi roket Kartika itu asli buatan AURI bersama ITB (bisa diliat logo segilima merah putih di fin-roket).

Setelah Kartika sukses, barulah LAPAN lahir dengan personel dari AURI dan ITB yg masuk tim riset PRIMA (Proyek Roket Militer dan Ilmiah Awal).

Monumen Roket Kartika ada di depan Gedung Dislitbang TNI AU di Lanud Husein S. Bandung.

Roket roket yang pernah dibuat Indonesia :

Roket ALRI




Sumber :
  • Batak Tribune
  • Formil Kaskus
  • Indoflyer
  • Wikipedia
More aboutSejarah Roket Indonesia