Showing posts with label Pesawat. Show all posts
Showing posts with label Pesawat. Show all posts

Indonesia pays upfront costs for 16 T-50 jet trainers

Posted by ReTRo on Monday, November 12, 2012

693827 기사의  이미지

Indonesia has finally implemented its $ 400 million deal to buy 16 units of T-50 Golden Eagle advanced jet trainers from Korea Aerospace Industries (KAI) by paying part of the contract, Korea Aerospace Industries (KAI) said Wednesday.

The deal marks the type’s first export sale to overseas but the payment had been delayed, said the Korean aerospace company.



Indonesia paid an upfront cost of $ 60 million, 15 percent of the total contract for the jet trainers.

The Indonesian Defense Ministry signed the deal with KAI one year and six months ago. KAI will deliver the trainers to the country’s air force as the contract stipulates that the aircraft must be delivered 18 months after the contract went in effect.

The aircraft will be delivered more than four months ahead of schedule. KAI already began production of T-50i, the Indonesian variance of T-50, a KAI official said.

© News.mk.co.kr
More about → Indonesia pays upfront costs for 16 T-50 jet trainers

6 F5 RSAF Ikut Latma Elang Indopura 2012

Posted by ReTRo

Para penerbang F-5 RSAF sesaat setelah Landing di BIL
Mataram - Dalam rangka latihan bersama Elang Indopura antara TNI AU dan Republic of Singapore Air Force (RSAF), 6 pesawat F-5 milik RSAF mendarat untuk pertama kalinya di Bandara Internasional Lombok (BIL), tepat pukul 13.16 Wita. Senin(12/10).

Kedatangan rombongan RSAF ini disambut langsung Komandan Lanud Rembiga Letkol Pnb Ridha Hermawan dengan diiringi kesenian tradisional khas Lombok gendang beleq dan juga Putri Dirgantara Lombok.

Kedatangan rombongan RSAF ini menandai dimulainya Latihan Bersama antara TNI AU dan RSAF yang rencananya akan digelar mulai tanggal 12 – 30 November 2012, Latihan bersama ini sudah berjalan selama 32 tahun, dan kali ini Latihan bertempat di Bandara Internasional Lombok dengan Lanud Rembiga sebagai pendukung operasinya.

Latihan bersama antara TNI AU dan RSAF kali ini terdapat dua latihan yaitu Latma Elang Indopura dan juga Latma Camar Indopura dimana melibatkan pesawat-pesawat patroli maritime dari TNI AU dan RSAF.

Latma Elang Indopura ini sendiri merupakan salah satu bentuk latihan bersama antara TNI AU dengan RSAF yang difokuskan pada teknik tempur dengan melibatkan pesawat-pesawat tempur dari angkatan udara kedua Negara dan sebagai langkah awal kerjasama dan persahabatan antara Angkatan Udara Indonesia dan Singapura serta guna meningkatkan kemampuan dan keterampilan personel angkatan udara kedua Negara dalam melaksanakan operasi udara bersama, dalam rangka menanggulangi kemungkinan adanya gangguan keamanan di wilayah perbatasan kedua Negara.

Sedangkan Latma Camar Indopura merupakan latma antara TNI AU dan RSAF dalam bidang operasi udara guna meningkatkan kerjasama dalam pengamanan wilayah laut kedua Negara dengan menggunakan pesawat patroli maritime, selain itu latma ini juga melaksanakan pengamatan dan penanggulangan Illegal Logging, illegal fishing maupun lintas batas yang berdasarkan pada penyamaan persepsi tentang Standard Operating Procedure For Maritim Surveillance.

© TNI AU
More about → 6 F5 RSAF Ikut Latma Elang Indopura 2012

★ Sistem Avionik Pesawat Tempur Buatan Dalam Negeri

Posted by ReTRo on Sunday, November 11, 2012

Jakarta - Sebuah industri swasta yang bergerak dalam bidang sistem pertahanan militer unjuk gigi dalam pameran Indodefence 2012. Perusahaan ini memproduksi peralatan pesawat tempur lokal yang diharapkan mampu membuat Indonesia mandiri, dalam kebutuhan alutsista.

Siapa sangka jika sistem avionik pesawat tempur ini merupakan hasil produksi dalam negeri? Namun ini merupakan hasil karya sebuah perusahaan asal Surabaya, Infoglobal. Avionik merupakan peralatan di sebuah pesawat tempur yang berhubungan dengan sistem navigasi, komunikasi, dan persenjataan.

Peralatan inilah yang ada di dalam kokpit pesawat yang akan menjadi indikator, dan dikontrol oleh seorang pilot pesawat tempur. Adi sasongko adalah orang yang berada dibalik perusahaan yang memproduksi sistem avionik ini. Ia mengaku bukan hal mudah untuk mendapatkan kepercayaan sebuah negara, terutama dalam bidang sistem pertahanan.


Kesempatanlah yang membuat Adi akhirnya memutuskan untuk mengembangkan peralatan avionik ini 12 tahun yang lalu. Kini perusahaan yang ia pimpin sudah memiliki 200 karyawan di Surabaya.


Peralatan yang dimiliki perusahaan lokal ini sudah menjadi perlengkapan untuk pesawat tempur Hawk 100, 200, dan F5. Cukup membanggakan bagi Indonesia, namun Adi berharap pemerintah dapat berperan aktif lagi.


Dengan dukungan penuh dari pemerintah kepada perusahaan lokal, seharusnya Indonesia sudah bisa mandiri dalam pengembangan alutsista tanpa harus membeli peralatan dari luar negeri.


© MetroTV
More about → ★ Sistem Avionik Pesawat Tempur Buatan Dalam Negeri

Alasan PT DI Gandeng Airbus Military Jual NC212 ke Pasar Dunia

Posted by ReTRo on Saturday, November 10, 2012

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjTut6RCl9oqnnP33TlmYUOpyU2T6YPhAvCzaSTWSSG5b75HfLgx-Uw8DYZ2CnrhdKu78E-qMXjBALCg8BtF6YncAHxFHXtiV2nGnlWFkwCN1qdSu5j6jU15_XMk-n42I03fdvBPVm5ulQ6/s1600/42.+C212+Thailand73465.jpgJakarta - PT Dirgantara Indonesia (PT DI) sengaja menggandeng Airbus Military dalam kerjasama pengembangan pesawat jenis Cassa. Salah satu alasan itu adalah karena Airbus Military memiliki kewenangan untuk menerbitkan sertifikat EASA (European Aviation Safety Agency).

"Kita (PT DI) selama ini membayar lisensi ke Airbus Military karena mereka punya sertifikat EASA. Saat ini kita berubah dari pemberi menjadi penerima lisensi dan kita share profitnya," ungkap Asisten Dirut PT DI Sonny Saleh Ibrahim saat ditemui di JIExpo Kemayoran, Kamis (7/11/2012).

Selama ini PT DI hanya bisa menerbitkan sertifikat FAA, dengan sertifikat ini pesawat yang diproduksi oleh PT DI tidak bisa dijual luas ke Mancanegara. Dengan adanya kerjasama diantara keduanya, otomatis PT DI mendapatkan 2 sertifikat yaitu EASA dan FAA.

"Mereka punya network nya, kita punya tenaga ahlinya," katanya.

Saat ini keduanya tengah pengembangkan pesawat NC212 untuk diupgrade dengan teknologi menjadi pesawat NC212. Bulan depan rencananya pesawat ini mulai diproduksi.

"Sekarang semua komponen termasuk mesin sudah ada di Bandung, bulan depan kita siap produksi. Butuh waktu 18 bulan untuk membuat 6 pesawat," tandasnya.

© Detik
More about → Alasan PT DI Gandeng Airbus Military Jual NC212 ke Pasar Dunia

★ PT DI Kebanjiran Order di 2013

Posted by ReTRo

Jakarta - PT Dirgantara Indonesia (PT DI) siap melakukan kontrak terbaru untuk membuat pesawat. Lima kontrak untuk membuat 5 pesawat dengan jenis yang berbeda siap dilakukan tahun 2013.

"Tahun depan ada 5 kontrak yang akan kita lakukan," ungkap Asisten Direktur PT DI Sonny Saleh Ibrahim saat ditemui di JIExpo Kemayoran, Kamis (7/11/2012).

Lima kontrak yang dimaksud salah satunya adalah pembuatan pesawat Cassa jenis CN 235. Pesawat yang mampu terbang dengan ketinggian 25.000 kaki dan dengan kecepatan 245 kt/454 km/jam ini rencanya akan diproduksi 2 unit.

"Ada 5 pesawat Cassa, 2 untuk CN 235, 2 untuk CN295 dan 1 untuk C212-400," katanya.

Selain pesawat jenis Cassa, PT DI juga akan memproduksi 25 Helikopter dan 1 unit pesawat Superpuma. Rencananya jumlah investasi yang meliputi 5 kontrak yang akan dilakukan di tahun 2013 ditaksir sebesar Rp 3 triliun.

"Nilai kontraknya Rp 3 triliun untuk 5 kontrak yang akan kita lakukan di 2013. Ada 5 pesawat jenis Cassa, 25 Helikopter dan 1 Superpuma," cetusnya.


© Detik
More about → ★ PT DI Kebanjiran Order di 2013

Japan Proposed Indonesia Amphibians

Posted by ReTRo on Friday, November 9, 2012

Shin Maywa US-2 amphibian (Foto  robotpig)
Japan's defense ministry offered Indonesia ShinMaywa amphibians US-2, according to Jane's. According to the company Eiiti Negisi (Eiichi Negishi), interested in the Indonesian military aircraft. Preliminary talks have already been held, however, is probably a direct purchase of equipment will not be performed.

Currently, the Ministry of Defence of Indonesia is preparing requirements for new amphibious aircraft to be procured on the basis of the relevant tender. When exactly will be a competition, is still unknown. Indonesia intends to use the amphibious aircraft for search and rescue operations as well as to monitor the territorial waters.

According Negisi, ShinMaywa became actively involved in the international market, as sales of the company's aircraft in Japan is extremely small. In November 2011, the Japanese government allowed ShinMaywa engage in export activities, allowing the company to take part in the Indian tender.

US-2 aircraft at the length and wingspan of 33 meters capable of speeds up to 560 kilometers per hour and fly at a distance of 4.7 thousand kilometers. The aircraft can carry up to 20 passengers.

It should be noted that shortly after Japan authorized ShinMaywa do exports of military and dual-use items, the government eased the ban on military exports, in effect since 1967.

© Lenta
More about → Japan Proposed Indonesia Amphibians

Lockheed Martin looks to upgrade Indonesian F-16 radars, supply surveillance systems

Posted by ReTRo

F16A/B TNI AU
Lockheed Martin is aiming to increase its defence market share in Indonesia by securing deals to upgrade the country's F-16A/B fighter aircraft and supply long-range surveillance radars.

The US-headquartered company said it is proposing to undertake the programmes in collaboration with Indonesian firms PT Dirgantara and PT CMI Teknologi (CMI) as a mark of its commitment to engage with the local defence industry, said James Gribbon, Asia-Pacific regional president for Lockheed Martin at the Indo Defence Expo & Forum.

Both the potential F-16A/B programme and the requirement to acquire long-range surveillance radars are likely to be announced by the Indonesian government by the end of 2012 or 2013. Should Lockheed Martin secure the deals, it will significantly expand the company's relationship with Indonesia.

The company secured earlier this year a USD750 million contract from the US government to refurbish surplus US Air Force F-16C/D fighter aircraft for Indonesia, although this programme is being undertaken in the United States with limited collaboration with Indonesian industry.

© Jane's
More about → Lockheed Martin looks to upgrade Indonesian F-16 radars, supply surveillance systems

★ PT DI Produksi NC212 Versi Upgrade

Posted by ReTRo on Thursday, November 8, 2012

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjTut6RCl9oqnnP33TlmYUOpyU2T6YPhAvCzaSTWSSG5b75HfLgx-Uw8DYZ2CnrhdKu78E-qMXjBALCg8BtF6YncAHxFHXtiV2nGnlWFkwCN1qdSu5j6jU15_XMk-n42I03fdvBPVm5ulQ6/s1600/42.+C212+Thailand73465.jpg
Jakarta – PT Dirgantara Indonesia (DI) dan Airbus Military sepakat untuk melakukan produksi bersama pesawat NC212 versi upgrade untuk pasar internasional.

Pesawat tersebut akan diproduksi di Bandung dengan sharing pembiayaan maupun keuntungan 50% berbanding 50%.Direktur Utama PT DI Budi Santoso mengungkapkan, hubungan kerja sama dengan Airbus Military sudah terjalin sejak sekitar 76 tahun lalu. Selama kurun waktu tersebut telah ada sejumlah pesawat yang diproduksi PT DI atas lisensi dari Airbus, di antaranya Cassa 212 (C-212) yang kemudian untuk produksi PT DI diubah namanya menjadi NC-212.

Setiap pembuatan Cassa 212, PT DI harus membayar lisensi ke perusahaan asal Spanyol itu. Atas pengalaman ini,kedua pihak bersepakat untuk membuat kerja sama produksi NC212 versi upgrade. “Sehingga dengan produksi bersama,keuntungan kita bagi bersama, development cost juga dibagi bersama 50% berbanding 50%,” katanya seusai penandatanganan kesepakatan kerja sama di sela-sela pelaksanaan Indo Defence 2012 Expo and Forum di Jakarta kemarin.

Budi menerangkan, dalam kerja sama ini Airbus Military bertanggung jawab untuk pengurusan hingga penerbitan sertifikat EASA sehingga pesawat bisa masuk pasar internasional. “Dari PT DI menyediakan engineering karena engineering kita lebih kompetitif dibandingkan mereka,” paparnya. Beberapa hal yang berubah dari pesawat NC212 versi asli adalah pada avionic pesawat. Jika pada versi asli avionic menggunakan manual, dalam versi upgrade sudah digital.

Selain itu dalamversi upgrade sudah menggunakan system autopilot terkini. Upgrade lainnya berupa interior yang mampu mengangkut 28 penumpang, lebih banyak dibandingkan versi asli yang menampung 25 penumpang. Adapun untuk mesin, kata Budi, sejauh ini belum ada kesepakatan antara kedua pihak apakah akan diganti yang model baru atau sama jenisnya dengan yang sekarang ini dipakai.

“Mesin yang sekarang bahan bakarnya lebih hemat, tapi pembeli sekarang akan lebih senang dengan mesin baru PT6 karena power bisa diperbesar. Tapi, itu (pilihan mesin) nanti akan kita bicarakan dengan calon customer, mereka maunya yang apa,” tutur dia.

Lebih lanjut dia menuturkan, nilai investasi dari kerja sama ini sekitar USD 14–15 juta yang ditanggung berdua. Setelah diproduksi, kedua industri penerbangan itu bersama-sama memasarkan NC212 versi upgrade. Pemasaran untuk negara-negara di sekitar Indonesia dilakukan oleh PT DI,sementara untuknegara- negara disekitar Spanyol oleh Airbus Military.Keuntungan yang didapatakan dibagi dua dengan persentase sama yakni 50%.

Meski dari segi pembagian profit sama, kata dia, Indonesia akan diuntungkan karena seluruh pengerjaan pesawat ini dilakukan di PT DI. “Sehingga akan memberi lapangan kerja yang besar. Kalau nanti ada pajak, pajak itu juga masuknya ke Bandung,” sebut dia.

Budi menambahkan,melalui kerja sama ini PT DI juga terbantu dalam perbaikan manajemen pembuatan pesawat sehingga lebih kompetitif. Airbus Military bersedia untuk berbagi sistem dalam mengontrol kelengkapan komponen-komponen pesawat. “Kerja sama ini akan memperkuat posisi PT DI sebagai industri pesawat terbang terdepan di wilayah Asia-Pasifik,” imbuhnya.

Senior VP Komersial, Strategi, dan Hubungan Industri Airbus Military kawasan Asia-Pasifik Ignacio Alonso menuturkan, C212 merupakan pesawat yang sangat laris di dunia. Versi upgrade ini akan menempatkan NC212 pada posisi tawar yang sangat kompetitif di pasar pesawat kecil dan medium. Pesawat ini akan disertifikasi oleh EASA dan FAA sesuai FAR 25. Kerja sama ini meliputi pengembangan, manufaktur, komersialisasi, dan dukungan pelanggan.

Hal ini diyakini akan mendukung dalam memenangkan persaingan memenuhi kebutuhan pasar akan pesawat kelas ini, baik untuk sipil, militer,maupun kargo. “Potensi pasar pada segmen ini diperkirakan mencapai 400-450 pesawat dalam sepuluh tahun ke depan,” ungkap dia. Ignacio menambahkan, kesepakatan ini bukti tentang peningkatan kerja sama dengan Indonesia.

“Kami melihat masa depan NC212 yang kompetitif ini menjanjikan di banyak negara di dunia. Dukungan yang berkesinambungan dari Pemerintah Indonesia, PT DI, dan Airbus Military akan mampu meraih banyak hal bersama,” ucapnya.[fefy dwi haryanto]

© Sindo
More about → ★ PT DI Produksi NC212 Versi Upgrade

PT DI – Airbus Military Tandatangani Kerjasama Luncurkan NC212 Versi Upgrade

Posted by ReTRo

Jakarta - Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia (DI) Budi Santoso dan Airbus Military yang diwakili Senior VP Komersil, Strategi dan Hubungan Industri untuk Kawasan Asia Ignacio Alonso, Kamis (8/11) menandatangani Kesepakatan Kerjasama (MoU) untuk meluncurkan NC 212-400 versi upgrade sebagai langkah lebih lanjut dalam perjanjian jangka panjang, di JIExpo Kemayoran Jakarta. Pesawat tersebut selanjutnya akan dinamai NC212 dan akan ditawarkan kepada pelanggan sipil serta militer. 

Penandatanganan kesepakatan kerjasama yang merupakan rangkaian dari kegiatan pameran Indo Defence Expo and Forum 2012, disaksikan Sekjen Kemhan Marsdya TNI Eris Herryanto, S.Ip., M.A., Dirtekind Ditjen Pohan Kemhan Brigjen TNI Sukimin serta pejabat dari Kedutaan Spanyol.

Kesepakatan kerjasama dalam pengembangan, manufacturing, komersialisasi dan dukungan pelanggan ini untuk memenangkan kompetisi memenuhi kebutuhan pasar di segmen pesawat kecil, baik untuk sipil, militer dan kargo, pada dekade berikut. Potensi pasar pada segmen ini diperkirakan akan mencapai sekitar 400-450 pesawat dalam 10 tahun kedepan. Final Assembly Line di fasilitasi PT. DI di Bandung. Kesepakatan ini selangkah lebih maju dalam tahapan hubungan kerjasama antara dua mitra lama.

NC212 upgrade ini akan dilengkapi dengan avionik dijital dan sistem autopilot terkini. Pesawat upgrade ini memiliki interior sipil terbaru yang mampu membawa sampai dengan 28 penumpang dibandingkan dengan versi saat ini yang hanya dapat membawa 25 penumpang yang dapat meningkatkan efisiensi biaya. Semua pesawat upgrade tersebut akan menempatkan NC212 ini pada posisi tawar yang sangat kompetitif di segmen pasar pesawat kecil dan medium dan akan disertifikasi oleh EASA dan FAA sesuai dengan FAR 25.

PT DI - Airbus Kembangkan Varian Baru C-212-400

Hari ini, bertempat di Ajang Indodefence 2012, PT.DI dan Airbus sepakat mengembangkan tipe baru C-212-400. Kesepakatan kerjasama ini ditanda tangani langsung oleh Dirut PT.DI, Budi Santoso dengan Senior VP Airbus Military Asia, Igancio Alonso.

Varian terbaru Aviocar ini nantinya akan mampu mengangkut penumpang sebanyak penumpang, yaitu sebanyak 28 orang. Pada versi standarnya C-212-400 hanya mampu membawa maksimal 25 orang saja. Selain itu, pada varian terbaru ini C-212-400 akan mengadopsi full digital glass cockpit. Dengan demikian, pekerjaan pilot akan semakin dimudahkan. Hanya saja belum tahu pasti modifikasi lanjutan yang akan dilakukan. Seperti apakah Ramp Door tetap dipertahankan atau tidak, serta jenis mesin yang akan dipasang.

Sumber dari PT.DI menjelaskan, keberadaan C-212-400 sendiri tidak akan bersaing langsung dengan N-219 yang saat ini masih dirancang PT.DI. Pasalnya, N-219 berada di FAR kelas Commuter, sementara C-212-400 ada di kelas Transport. Selain itu harga N-219 diprediksi lebih murah, karena lebih kecil dan segmentasinya diutamakan untuk dalam negeri.


Sebelumnya, pada februari 2012, PT Dirgantara Indonesia (PTDI) telah ditunjuk oleh Airbus Military sebagai produsen tunggal pesawat C212-400 satu-satunya di dunia. Keseluruhan peralatan yang diperlukan untuk memproduksi C-212-400 telah dipindahkan dari Spanyol ke Bandung, Jawa Barat. PT.DI sendiri telah memproduksi sekitar seratusan C-212 versi 100 maupun 200. Pesawat ini dipakai secara luas oleh TNI-AU maupun TNI-AL, serta beberapa maskapai sipil di Nusantara.


© DMC
More about → PT DI – Airbus Military Tandatangani Kerjasama Luncurkan NC212 Versi Upgrade

Foto Pendaratan CN-295 di Tanah Air

Posted by ReTRo on Wednesday, November 7, 2012

Bandung - Hujan baru saja usai dan masih menyisakan gerimis. 2 buah pesawat CN-295 itu telah terlihat di langit kawasan Bandung pada 30 september lalu. Inilah saat pertama kalinya pesawat CN-295 pesanan TNI-AU mendarat di Tanah Air.

Dan berikut adalah foto-foto langka dari Humas PT.DI yang mengabadikan momen kedatangan CN-295.




Tanpa sambutan meriah, kedua pesawat langsung dibawa masuk ke Hangar PT.DI.
© ARC
More about → Foto Pendaratan CN-295 di Tanah Air

C295 TNI AU dilirik Thailand

Posted by ReTRo on Tuesday, November 6, 2012

C295 TNI AU (PT DI)
Jakarta - Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) atau Royal Thai Air Force (RTAF) Thailand Marshal Prajin Juntong melakukan kunjungan ke Angkatan Udara (AU) Indonesia, di Mabes AU.

Dalam kunjungan tersebut, Marshal Prajin Juntong memuji armada udara yang dimiliki Indonesia, khususnya pesawat angkut sedang C-295.

"Pada hari pertama telah melakukan kunjungan di Mabes AU, diterima Kasau Marsekal TNI Imam Sufaat, serta melakukan kunjungan di Mabes TNI diterima Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono," demikian keterangan pers yang diterima Sindonews dari Penerangan Lanud Halim, Selasa (6/11/2012).

Pada hari ke dua Prajin Juntong didampingi Marsekal TNI Imam Sufaat dan Komandan Lanud Halim Marsma TNI Adang Supriyadi, melakukan kunjungan di Lanud Halim Perdanakusuma.

Sebelum terbang kembali ke Thailand, Marshal Prajin menyempatkan melihat langsung pesawat C-295 dari Skuadron Udara 2 Wing 1 Lanud Halim.

Dalam kesempatan itu, dia dan Imam Sufaat menaiki C-295 di dalam kokpit, serta menerima penjelasan tentang pesawat C-295 dari Komandan Skadron Udara 2 Letkol Pnb Elistar Silaen. 

Selesai kunjungan di Halim, Kasau Thailand tersebut bersama rombongan kembali ke Thailand menggunakan Pesawat Udara Air Bus A 310-300 HS-TYQ Royal Thai Air Force.

Seperti diberitakan sebelumnya, pesawat angkut sedang C-295 merupakan pesawat produksi Airbus Military, buatan Spanyol.

More about → C295 TNI AU dilirik Thailand

TNI AU siapkan pengganti Hawk Mk53

Posted by ReTRo

T-50 Golden Eagle (Foto ROKAF)
Jakarta - TNI AU berencana membeli 16 jet tempur T-50 sebagai pengganti pesawat Hawk MK-35. "Ini rencana lama," ujar Kepala Dinas Penerangan TNI AU, Marsekal Pertama Azman Yunus, Senin, 5 November 2012.

Jet tempur MK-35 yang beroperasi di Madiun, Jawa Timur, rencananya akan dipensiunkan. "Kami ganti karena sudah tua," kata Azman. Pesawat T-50 sendiri ditargetkan hadir di Indonesia pada 2014 mendatang.

Tapi, para anggota DPR mengaku belum mengetahui rencana penggantian jet tempur Hawk. "Saya belum pernah dengar, kami tidak pernah diberitahukan merek atau jenis pesawatnya," ujar Wakil Ketua Komisi Pertahanan, Tubagus Hasanudin. Politikus PDIP ini mengatakan hanya tahu soal rencana pembelian sejumlah suku cadang untuk jet tempur Hawk.


More about → TNI AU siapkan pengganti Hawk Mk53

Satu Flight Colibri dan KT1B tiba di Halim Perdanakusumah

Posted by ReTRo on Monday, November 5, 2012

http://www.majalahpotretindonesia.com/images/-444.jpgSATU flight pesawat Helikopter Colibri dari Skadron Udara 7 Lanud Suryadarma, Kalijati dan satu Flight pesawat KT 1 B dari Skadron Udara 102 Lanud Adi Sutjipto, Yogyakarta, satu flight Helikopter Colibri dibawah kendali langsung oleh Komandan Lanud Suryadarma Kolonel Pnb Heraldy Dumex Dharma dan satu flight KT 1 B dibawah kendali Komandan Wingdik Terbang Kolonel Pnb Khairil Lubis  mendarat di Lanud Halim Perdanakusuma, Senin (5/11).

Kedatangan satu flight pesawat Helikopter Colibri dan KT 1 B di Lanud Halim Perdanakusuma tersebut dalam rangka akan ikut serta memeriahkan Pameran Indodefence yang akan berlangsung dari tanggal 6 sampai 10 Nopember di Pekan Raya Jakarta, Kemayoran,  dengan melakukan Demo Udara di area udara Pekan raya Jakarta, pesawat Helikopter Colibri dengan Dinamic Pegasus dan KT 1 B dengan Jupiter Aerobatic Team.

Keterangan gambar: Komandan Lanud Halim Marsma TNI A. Adang Supriyadi, SE bersama Wadan Kodikau Marsma TNI Anas Sumadi dan Komandan Wingdik Terbang Kolonel Pnb Khairil Lubis sedang berdialog setelah mendarat dengan  pesawat KT 1 B. (pentak halim)

© Majalah Potret Indonesia
More about → Satu Flight Colibri dan KT1B tiba di Halim Perdanakusumah

Habibie dan Mimpi Kembalinya Kejayaan Pesawat RI

Posted by ReTRo on Friday, November 2, 2012

"Sudah seharusnya Indonesia unjuk gigi," kata BJ Habibie.

N-250 IPTN
Indonesia pernah menikmati kejayaan sebagai salah satu produsen pesawat terbang dengan lahirnya N-250 yang merupakan pesawat regional komuter turboprop rancangan asli IPTN.

Di tangan Bacharuddin Jusuf Habibie, Indonesia dapat dianggap telah sejajar dengan negara-negara pembuat pesawat terbang yang terlebih dahulu memproduksi pesawat terbang, baik untuk tujuan komersil maupun militer.

Mantan Presiden RI, Bacharuddin Jusuf Habibie ini pun mempunya ambisi untuk mengembalikan kejayaan Indonesia tersebut. Bahkan upayanya telah dimulai dengan mendirikan perusahaan dirgantara, PT Ragio Aviasi Industri (PT RAI). Perusahaan ini akan mengembangkan kembali rancangan pesawat N-250 yang pernah dikembangkan pada tahun 1995.

"Perusahaan Ragio Aviasi Industri dan semua data tentang pesawat N-250 juga masih kita punyai," kata Habibie di Yogyakarta, Kamis 1 November 2012.

Menurutnya dalam perusahaan itu, dirinya dipercaya menjabat Ketua Dewan Komisaris dan siap untuk terlibat aktif dalam pengembangan teknologi pesawat.

"Sudah seharusnya Indonesia unjuk gigi dan bersaing dengan negara lain. Karena menurutnya, sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki oleh PT Dirgantara Indonesia, dapat dimanfaatkan kembali untuk menciptakan kembali pesawat yang pernah dihasilkan IPTN," katanya.

Meski PT RAI telah terbentuk, namun diakui Habibie, proses pengembangan N-250 direncanakan baru akan dilaksanakan 5 tahun mendatang. ”Semoga dalam lima tahun kedepan saya masih sehat. Untuk itu saat ini saya sedang menuliskan pengembangan teknologinya,” ujarnya.
© Viva
More about → Habibie dan Mimpi Kembalinya Kejayaan Pesawat RI

Menengok sejarah panjang Skadron 2 TNI AU

Posted by ReTRo on Thursday, November 1, 2012

http://klimg.com/merdeka.com/i/w/news/2012/09/27/95082/365x183/menengok-sejarah-panjang-skadron-2-tni-au.jpgSkadron Udara 2 merupakan skadron pesawat angkut tertua yang dimiliki TNI AU. Dengan slogan 'Pengabdian Pantang Surut', skadron ini berada di bawah jajaran Wing Udara 1 Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta..

Skadron yang mempunyai lambang Kuda Terbang atau Flying Horse ini berdiri berdasarkan perintah KASAU Nomor 0493/PR/KASAU/50 tanggal 1 Agustus 1950. Skadron Udara 2 diresmikan dengan armada pesawat C-47 Dakota buatan Amerika sang legendaris pada era 50-an hingga pertengahan 70-an. Demikian keterangan pers dari Dinas Penerangan TNI AU, Rabu (26/9).

Memasuki awal tahun 1955, Marsekal Kliment E Voroshilov (Petinggi Militer Uni Soviet) menghibahkan sebuah pesawat angkut Ilyushin Il-14 Crate sebagai tanda persahabatan antar kedua negara, dan menyusul beberapa pesawat Il-14 termasuk di antaranya Avia-14 (varian lansiran Cekoslovakia) melengkapi kekuatan Skadron Udara 2 menemani C-47 Dakota.

Pada era tahun 70-an Pimpinan TNI AU memperbaharui armada pesawat angkut pengganti C-47 Dakota dengan membeli tujuh pesawat Fokker F-27 TS (Troop Ship) dari Belanda.

Secara bertahap ketujuh pesawat itu didatangkan dan pertama kali pada tanggal 7 september 1976 dengan nomor registrasi T-2701 sampai dengan yang terakhir T-2708 pada tahun 1977.

Pesawat Fokker F-27 TS ini memperkuat jajaran Skadron Udara 2 sampai dengan awal tahun 2012, dan selanjutnya diputuskan untuk tidak diterbangkan kembali (Ground Dead).

Memasuki era tahun 90-an skadron Udara 2 mengawaki enam pesawat CN-235 yang merupakan produksi teknologi anak bangsa PT Dirgantara Indonesia (dulu IPTN).

Pada tanggal 12 Januari 1993, pesawat CN-235 pertama hadir di Skadron Udara 2, hingga lengkap berjumlah 6 pesawat pada tahun 1995. Pada tahun 2007 Skadron Udara 2 mendapatkan 1 tambahan pesawat CN-235 untuk menambah kekuatannya sampai dengan sekarang.

 The Next Generation Flying Horses

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg-6Ui0yVpBdAVqFh7ZZavp044EI8IKR7qvrh8AoTVh7VZBCJweCtlrYXnQF0LSO7xIaXxQjO7azkFwjBKOjEIhDw1OFxCosyHtlb4vwPolSBNdpwBafkUOqGHCHAne1IGRKJWffb_pIwg/s280/Skadron-Udara-2.jpgSeiring dengan berjalannya waktu dan bertambahnya usia pesawat Fokker F-27 TS yang sudah lebih dari 30 tahun, pada bulan Juli 2012 Kepala Staf TNI AU, Marsekal TNI Imam Sufa’at memerintahkan 4 penerbang dari jajaran Skadron Udara 2 Wing 1 Lanud Halim Perdanakusuma dan 18 teknisi dari berbagai jajaran di TNI AU untuk mempelajari cara pengoperasian dan juga pemeliharaan pesawat C-295 M di Airbus Military Seville, Spanyol.

TNI AU direncanakan akan mendapat 9 pesawat C-295 M, sesuai dengan kontrak pembelian antara Kementerian Pertahanan RI dan PT Dirgantara Indonesia (PT DI) untuk memperkuat kekuatan Alutsista di jajarannya.

Pesawat C-295 M adalah pesawat buatan Airbus Military yang akan dikerjasamakan dalam proses produksinya dengan PT DI dan secara bertahap akan diproduksi oleh Airbus Military maupun akan dirakit bersama-sama di fasilitas PT DI Bandung nantinya.

Keseluruhan 9 pesawat direncanakan akan selesai dan diserahterimakan secara bertahap kepada TNI AU mulai akhir tahun 2012 sampai dengan tahun 2014.

Dua pesawat pertama dengan nomor registrasi A-2901 dan A-2902, sudah diterbangkan dari Sevilla Spanyol pada tanggal 24 September 2012 dan direncanakan akan tiba di Lanud Husein Satranegara (PT DI) pada tanggal 30 September 2012, dengan masing-masing pesawat diawaki oleh 2 Pilot dari Airbus dan 1 pilot dari PT DI.

Pesawat C-295 M merupakan pesawat angkut sedang taktis (medium airlifter) generasi terbaru yang sudah menggunakan full glass cockpit, digital avionic dan sepenuhnya kompatibel menggunakan night vision googles (NVG). C-295 M merupakan pesawat angkut sedang versi militer yang dapat diandalkan di kelasnya.

C-295 M mampu membawa sampai dengan total 9 ton cargo atau kurang lebih 71 personel.

Pesawat ini juga mampu terbang sampai ketinggian 25.000 kaki dengan kecepatan jelajah maksimum 260 knot (480 km/jam) serta dapat diterbangkan dan dikendalikan dengan aman dan sangat baik pada kecepatan rendah sampai dengan 110 knots (203 km/jam). Dengan menggunakan 2 Mesin Turboprop Pratt & Whitney Canada (PW 127G) pesawat ini mampu melaksanakan lepas landas dan melaksanakan pendaratan pada landasan yang pendek (STOL/Short Take Off & Landing) yaitu 670 m /2.200 ft dengan berat tertentu.

Kemampuan Pesawat C-295 M dinilai sangat cocok dan ideal dikaitkan dengan tugas dan misi yang diemban oleh Skadron Udara 2. Di antaranya, melaksanakan angkutan personel dan logistik, penerjunan pasukan dan logistik, Evakuasi Medis Udara, Patroli Udara terbatas, serta penugasan militer maupun misi kemanusiaan lainnya.
© Merdeka
More about → Menengok sejarah panjang Skadron 2 TNI AU

PT DI Siapkan Lini Produksi Pesawat Transpor Militer CN 295

Posted by ReTRo on Tuesday, October 30, 2012

CN295 TNI AU
Bandung – PT Dirgantara Indonesia saat ini tengah menyiapkan lini produksi untuk pesawat transport menengah CN 295. Pesawat ini sudah memperkuat jajaran armada TNI AU dab merupakan pengembangan dari CN235.

“Pesawat CN235 dirancang dan mulai terbang pada 1980-an, kini tercatat salah satu jenis pesawat transpor populer dan banyak digunakan di seluruh dunia. CN295 adalah pengembangannya,” kata IP Windu Nugroho, staf senior Divisi Komunikasi PT Dirgantara Indonesia (Persero). Windu mengatakan karena merupakan pengembangan dari CN235 yang dirancang bangun bersama Indonesia dan Spanyol, maka bagi pihaknya rincian pembuatan CN295 di PTDI bukan sesuatu yang memerlukan pengetahuan asing sama sekali.

Windu menjelaskan CN 295 telah memasuki pasar dunia sejak 1996 oleh Airbus Military (konsorsium Eropa dan CASA terlebur di dalamnya), merupakan pesawat yang mempunyai kapasitas dan jangkauan lebih besar serta memiliki tingkat kehandalan dan dukungan operasional yang sama dengan CN 235.

Pesawat CN295 pun mampu membawa beban muatan hingga 9 ton dengan kecepatan terbang normal hingga 260 knot (480 km/jam). Pesawat ini juga mempunyai bentuk yang kokoh, kualitas terbang serta multifungsi yang menawarkan biaya operasinal rendah, termasuk bahan bakar dan pemeliharaan.

Sebagai pesawat generasi baru dari hasil pengembangan CN 235, pesawat CN 295 dengan segala kemampuan serta sistem yang dimilikinya, sangat cocok untuk tugas-tugas yang diemban TNI AU. Desain dan kontruksi yang dibuat menggabungkan kekuatan, ketahanan dan karakteristik operasi militer dengan tingkat keselamatan dan kehandalan tinggi.

Selain itu, kapabilitas STOL (Short Take Off & Landing) membuat CN 295 mampu lepas landas dan mendarat pada landasan paling buruk sekalipun. Dengan muatan penuh, CN 295 bisa lepas landas dari lapangan terbang sepanjang hanya berkisar 600 meter. “Untuk menjadi CN 295, beberapa struktur pesawat yang ada di tubuh CN 235 diperkuat dan dilakukan beberapa perubahan, di antaranya perangkat pendarat, sayap tengah, mesin dan baling-baling, selain badan pesawat diperpanjang tiga meter,” kata Windu.

Kementerian Pertahanan RI membeli sembilan unit CN 295 hasil kerja sama antara PTDI dan Airbus Military ini. Dua unit telah diserahkan pada 4 Oktober 2012 yang dibuat di Spanyol, sedangkan sisanya tujuh unit akan diproduksi di Bandung dengan rencana penyerahan empat unit pada 2013 dan tiga unit pada 2014.

“Guna mendukung program plan tersebut, saat ini kami sedang melakukan beberapa persiapan, di antaranya menyiapkan pencetakan badan pesawat (jig fuselage) untuk yang kelebihan panjang badan tiga meter serta pembangunan pusat lini perakitan,” katanya. Dengan menggunakan manufaktur dan lini perakitan terbaru, PTDI dan Airbus Military berharap dapat mengirimkan pesanan pesawatnya ke customer dalam kurun waktu 12 bulan, atau bahkan lebih cepat.
© Solopos
More about → PT DI Siapkan Lini Produksi Pesawat Transpor Militer CN 295

Benarkah Pesawat TNI Hilang Sejak Kemarin ?

Posted by ReTRo

Lanud Abd Saleh Malang Bantah Pesawatnya Hilang

Malang - Pangkalan Udara TNI AU Abdulrachman Saleh Malang membantah kabar jika salah satu pesawat mereka mengalami kecelakaan, setelah tersiar kabar adanya pesawat jatuh di kawasan Bondowoso, Jawa Timur.

"Sesuai informasi dari ruang operasi, semua pesawat dalam kondisi aman tidak ada troubel," tegas Mayor Sutrisno dikonfirmasi wartawan di kantornya, Selasa (30/10/2012), siang.

Kepala Penerangan dan Perpustakaan (Kapentak) Pangkalan Udara TNI AU Abdulrachman Saleh ini menambahkan, jika memang terjadi kecelakaan pesawat di kawasan itu (Bondowoso,red), diperkirakan milik maspakai lain atau pesawat sipil. "Kalaupun di sana ada pesawat jatuh mungkin dari maskapai lain," imbuh dia.

Sutrisno mengungkapkan, sudah jelas dan dipastikan pesawat dimiliki pangkalannya dalam kondisi aman dan kini berada di skadron masing-masing.

Ditanya terkait kabar adanya kecelakaan pesawat di Bondowoso, Sutrisno mengaku, tidak dapat memperkirakan kepastian jenis pesawat naas tersebut. "Wuah kalau itu kita tidak tahu. Yang pasti pesawat kita aman," ungkap dia.

Senada juga disampaikan Komandan Skadron 21 Letkol (pnb) James Singal, jika seluruh pesawat Super Tucano dalam kondisi baik, meskipun setiap hari terus menggelar latihan.

"Semua baik mas, tidak ada masalah," ujarnya dikonfirmasi melalui pesawat telepon, Selasa siang.

Benarkan Pesawatnya Hilang Sejak Kemarin

Pesawat milik TNI AU Lanud Abdulrachman Saleh Malang dikabarkan hilang sejak Senin (29/10/2012). Ini dilaporkan Friska dari radio Rama Bondowoso setelah mendapatkan informasi resmi dari pihak Lanud Abdulrachman Saleh Malang, Selasa (30/10/2012).

Pesawat latih TNI AU ini diperkirakan jatuh di daerah Sumber Wringin Anom, Bondowoso. Saat ini tim gabungan dari Kodim, polisi dan media sedang melakukan pencarian pesawat hilang.

Tim juga dibantu oleh warga sekitar sebagai penunjuk arah dan dibagi menjadi tiga tim. Sampai saat ini tim masih belum dapat titik koordinat pastinya, jadi dilakukan penyisiran secara manual. Bahkan dikabarkan sudah ditemukan serpihan-serpihan.

Meskipun pihak Lanud Abdulrachman Saleh sudah membenarkan tentang ada pesawatnya yang hilang, tapi masih belum disebutkan pesawat itu berasal dari mana dan jenisnya apa.(Suara Surabaya)

Kadispenau: TNI AU Akan Mengabarkan Jika Ada Pesawat Jatuh

http://www.itoday.co.id/images/stories/itoday-images/img110520121083501.jpgKadispenau, Marsekal Pertama TNI Azman Yunus (Foto: IStimewa)

Kepala Dinas Penerangan TNI AU (Kadispenau), Marsekal Pertama TNI Azman Yunus kepada itoday, Selasa (30/10) membantah mengenai adanya kabar salah satu pesawat TNI AU yang jatuh di kawasan Bondowoso.

“Tidak ada sama sekali pesawat militer yang jatuh. Kalaupun ada, pasti ada konfirmasi dari pihak terkait, seperti dari bandara setempat, “ jelansnya.

Dirinya juga menginformasikan juga bahwa tidak ada pesawat sipil yang jatuh.

Azman sendiri menyayangkan pihak media tidak mengkonfirmasi kebenaran berita tersebut.

“Sampai ada media yang minta tolong ke saya untuk bisa meliput ke lokasi kejadian, padahal tidak ada peristiwanya,” ungkapnya.

Azman menambahkan, TNI AU akan mengabarkan jika ada pesawat yang jatuh.

Sebelumnya tersiar kabar jika ada pesawat milik TNI jatuh dikawasan Bondowoso sejakn Senin (29/10). Dari kabar yang tersiar, pesawat tersebut berasal dari Pangkalan Udara TNI AU Abdulrachman Saleh, Malang.*
© Detik, itoday
More about → Benarkah Pesawat TNI Hilang Sejak Kemarin ?

Pesawat T-50 Pesanan Indonesia Masuki Lini Produksi

Posted by ReTRo on Saturday, October 27, 2012

Perakitan Pesawat T50 (Viggen)

Pesawat latih lanjut T-50 Golden Eagle pesanan Indonesia telah mulai diproduksi di pabrik Korea Aerospace Industry (KAI) Korea Selatan. Indonesia merupakan negara pertama diluar Korea yang memilih pesawat hasil rancangan KAI-Lockheed Martin ini.

Pada 12 April 2011 Indonesia telah memilih pesawat latih lanjut T-50 Golden Eagle untuk menggantikan pesawat Hawk Mk-53 yang sudah menua. Pada saat itu T-50 berhasil menyingkirkan pesaingnya yaitu Yak-130 buatan Rusia dan L-159B buatan Ceko.

(Viggen)

Nilai kontrak senilai 400 juta USD telah ditanda-tangani pada 25 Mei 2011 untuk pengadaan 16 pesawat T-50 atau satu senilai skadron udara. Tipe pesawat yang dipilih Indonesia adalah yang mampu membawa persenjataan, meskipun secara spesifik tidak disebut sebagai T/A-50. Penyerahan pesawat tersebut rencananya akan dilakukan pada tahun 2013.

(Viggen)

Pada gambar diatas tampak bodi pesawat dengan nomor TT5003, dalam penomoran standar TNI AU maka berarti pesawat ini akan masuk dalam skadron Tempur Taktis, sedangkan  angka 5003 menunjukkan jenis pesawat T-50 dengan angka urut nomor 3.

Dalam negosiasi jual beli, sempat  muncul beberapa opsi, diantaranya adalah opsi counter-purchase dengan pesawat angkut CN-235 atau reassemble pesawat T-50 ini di PT Dirgantara Indonesia, namun belum jelas opsi mana akhirnya yang dituangkan dalam kontrak.
© Defense Studies
More about → Pesawat T-50 Pesanan Indonesia Masuki Lini Produksi

Hibah F-16 dan Sistem Pertahanan Negara

Posted by ReTRo on Thursday, October 25, 2012

F-16 melakukan patroli rutin
(Foto TNI AU)
BERITA paling hangat dibidang pertahanan Indonesia kini adalah tentang kabar hibah pesawat terbang tempur F-16 dari pemerintah Amerika Serikat kepada Indonesia. F-16, sebagai “multirole jet fighter aircraft” adalah satu dari sedikit jenis pesawat tempur yang paling laris di dunia, karena telah membuktikan dirinya sebagai “Jet fighter aircraft” yang telah “war-proven”. Pesawat tempur yang telah memperlihatkan unjuk kerjanya yang spektakuler pada laga pertempuran udara dalam banyak panggung perang terbuka dimuka bumi ini.

Pada prinsipnya, proses pengadaan pesawat tempur yang ideal sebagai sub sistem dari alat utama sistem persenjataan haruslah mengalir dari satu perencanaan jangka panjang yang matang dan terpadu serta konsisten. Itu sebabnya antara lain, proses pengadaan ditengah jalan yang muncul dari format hibah atau apapun namanya pasti dan selalu mengundang kontroversi. Tidak selalu buruk dan inefisiensi yang akan terjadi, tetapi peluang untuk berhadapan dengan banyak kesulitan telah berulang kita alami.

Satu diantaranya adalah “hibah” atau “beli murah” sebanyak 39 buah kapal perang ex Jerman Timur. Yang sangat menonjol, disamping problema lain-lain yang terjadi adalah timbulnya berbagai masalah dalam peng-operasi-an kapal saat digunakan oleh para personil Angkatan Laut kita. Dengan singkat dapat disebutkan bahwa muncul masalah prinsip dan bersifat teknis pada aspek operasional di Angkatan Laut sebagai pengguna kapal perang.

Indonesia sebagai satu Negara yang serba terbatas, terutama dalam sektor finansial pendukung pembangunan Angkatan Perang, maka model “hibah” menjadi layak juga untuk dipertimbangkan. Hanya saja kajian yang dilakukan sebelum diambil keputusan, harus benar-benar memperhatikan berbagai aspek terkait dan terutama sekali aspek penggunaan operasionalisasinya. Faktor efisiensi dan otorisasi penggunaan anggaran pasti menjadi penting dalam hal ini, karena “hibah” juga akan menyangkut soal dukungan dana yang akan berpengaruh kepada aspek kepentingan politik baik dalam maupun luar negeri Indonesia. Namun diluar semua itu yang paling dan akan sangat dominan untuk dipertimbangkan adalah “aspek operasional” nya, karena akan berkait langsung dengan figur dan performa dari satu sistem pertahanan Negara secara keseluruhan. 

Pengoperasian satuan atau gugus atau unit tempur, yang antara lain dipagari oleh ”operation requirement” dari satu Angkatan Perang mengandung banyak hal yang harus dipertimbangkan masak-masak dan detil sifatnya. Dalam hal pengadaan, lebih-lebih yang bermodel “hibah” peralatan militer, maka kajian bidang operasi menjadi sangat penting, dengan risiko kekeliruan sedikit saja dalam perhitungan akan berakibat fatal. Fatal dalam konteks taktik dan teknik penggunaan sistem senjata sebagai peralatan perang. Harus dipahami sungguh-sungguh bahwa ”operation requirement” dan semua yang berkait langsung dengan penggunaan sistem senjata dalam peperangan, bukan sesuatu yang mudah untuk dipelajari. Hal ini tidak dapat dipahami dalam 1 atau 2 hari atau bahkan 1 atau dua bulan saja. Pemahaman tentang hal ini memerlukan pengetahuan dan pengalaman yang puluhan tahun lamanya.

Sekedar contoh saja hubungannya dengan pesawat F-16, buatan ”General Dynamic” dan sekarang ”Lockheed Martin”. Sebagai pesawat yang cukup banyak dipakai oleh Angkatan Udara dari berbagai negara, maka pesawat F-16 mengalami banyak penyempurnaan dalam tahapan produksinya. Penyempurnaan sebagai konsekuensi logis dari penggunaan pesawat terbang yang sukses berperan dalam berbagai misi pertempuran udara. Agar lebih banyak lagi pemakainya, maka pihak pabrikpun tidak ragu-ragu memperbaiki dan meningkatkan kualitas produknya dari waktu ke waktu sesuai dengan masukan yang diterima dari berbagai pengguna pesawat dilapangan.

Demikianlah kemudian dikenal pesawat-pesawat F-16 dengan berbagai variant dan juga peningkatan kemampuan mesin dan avionik serta kerangkanya yang antara lain menggunakan kode ”Block”. Ada F-16 A/B atau D dan juga F-16 block 10; 20; 30 dan yang terakhir block 60 yang merupakan pesanan Uni Emirat Arab. Seri A, B serta Block disamping menggambarkan jenis pesawat serta peningkatan kemampuan dan penyempurnaan sistem mesin, kerangka dan radar serta peralatan elektroniknya, juga mencerminkan misi apa yang akan disandang oleh pesawat yang bersangkutan. Disamping sukses sebagai pesawat dengan peran perang udara, F- 16 juga sukses digunakan sebagai pesawat untuk ground attack, penyerang sasaran didarat yang sangat presisi.

Disini hendak digambarkan bahwa tidak selalu harus mengartikan pesawat block 50 itu lebih baik dari pada block 40 misalnya. Semua masih akan tergantung pada banyak faktor kepentingan operasi lainnya seperti akan digunakan apa F-16 tersebut ditata di skadron udara dalam jajaran susunan tempur Angkatan Udara. Bisa untuk perang udara dan juga bisa untuk keperluan penyerangan udara ke darat, dan masih banyak lagi faktor lainnya dalam merumuskan kualifikasi unsur satuan tempur yang akan terdiri dari pesawat-pesawat fighter sejenis F-16. Pemahaman ini, sekali lagi membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dapat menguasainya.

Sangat tidak mungkin diperoleh hanya dari ceramah salesman nya pabrik atau lebih-lebih dari agen penjualnya. Untuk diketahui dalam konteks pengoperasian sistem senjata (taktik dan teknik), Angkatan Udara lebih banyak dan lebih intens mendiskusikannya dengan Angkatan Udara pengguna utama peralatan tersebut dalam hal ini USAF dan Angkatan Udara Negara lain pengguna F-16, misalnya dalam kerangka forum kerjasama operasi dan latihan antar Angkatan Udara (airman to airman talk). Pihak pabrik hanya terbatas memberikan informasi yang berkait dengan aircraft development, yang berkait dengan masalah rancang bangun dari pesawat dan peralatan persenjataan, elektronik dan navigasi saja.

Oleh sebab itu, dengan berbagai pertimbangan yang masuk akal, maka proses hibah F-16 layak dan patut dipertimbangkan dengan catatan pelaksanaannya harus atau hanya melalui G to G dalam hal ini mungkin melalui FMS (Foreign Military Sales). Spesifikasi teknis harus datang dari Angkatan Udara sebagai pengguna yang tahu betul aspek pengoperasian, pemeliharaan dari pesawat tempur serta pengelolaan sdm nya. Keterlibatan pihak ketiga seyogyanya dihindari, karena dipastikan mereka secara teknis tidak menguasai ”technical know-how”, terutama dalam penggunaan operasional sebuah pesawat tempur. Pada umumnya pihak ketiga hanya dibekali sedikit pengetahuan teknis yang lebih menjurus pada aspek ”marketing” suatu produk yang berasal dari pabrik pembuat atau agen penjualnya belaka. Hal ini akan sangat berpeluang membuka pintu terjadinya inefisiensi penggunaan dana yang sudah terbatas itu.

Untuk mekanisme dalam pertimbangan prosedur dan penggunaan dana tentu saja tetap menjadi hak nya institusi terkait sesuai undang-undang, tetapi sekali lagi untuk aspek operasional penggunaan sebuah peralatan sistem senjata serahkanlah kepada calon pemakainya dalam hal ini Angkatan Udara.

Dengan demikian dapat diharapkan, model hibah yang merupakan pengadaan yang muncul ditengah jalan, tidak lah akan menjadi faktor yang memporak-porandakan rencana jangka panjang pembangunan sistem pertahanan nasional Indonesia.

Jakarta 26 Oktober 2011
Chappy Hakim
Artikel ini sudah dimuat Koran Kompas tanggal 26-10-2011
© Chappy Hakim
More about → Hibah F-16 dan Sistem Pertahanan Negara

Empat Pesawat Hawk Dilibatkan

Posted by ReTRo on Wednesday, October 24, 2012

au-sub
Hawk TNI AU in action
Jakarta - Empat pesawat tempur Hawk 100/200 dari Skadron Udara 1 Pontianak tetap disertakan pada puncak latihan TNI Angkatan Udara dengan sandi 'Angkasa Yudha' 2012, meskipun sebelumnya Mabes TNI AU berencana tidak melibatkan pesawat Hawk itu.

Siaran pers Dinas Penerangan TNI AU (Dispenau) di Jakarta, Selasa (23/10) menyebutkan, tidak dilibatkannya pesawat tempur Hawk lantaran pada beberapa waktu lalu satu unit pesawat Hawk 200 jatuh di sekitar Lanud Rusmin Nurjadin, Pekanbaru, Riau.

"Empat pesawat Hawk dari Pontianak ini sudah kita cek seluruhnya, fuel systemnya. Semua oke, maka pada puncak latihan ini kita gunakan," kata Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Imam Sufaat usai menyaksikan puncak latihan TNI AU 'Angkasa Yudha' 2012, di Lokasi Penembakan Udara (Air Weapon Range/AWR) Buding, Kabupaten Belitung Timur, Bangka Belitung, Selasa (23/10).

Sementara Hawk yang berada di Pekanbaru karena usianya lebih lama dibandingkan Hawk yang di Pontianak, maka pesawat tersebut untuk sementara di 'grounded' hingga ketemu penyebab yang pasti.

Selain Hawk, alutsista yang dilibatkan dalam latihan tersebut, antara lain, empat pesawat tempur F-16, empat pesawat Sukhoi, Hercules C-130, Boeing 737, CN-235, Cassa 212 maupun Helikopter Super Puma. "Jumlah personil yang dilibatkan sebanyak 1600 orang," kata KSAU.

Menurut Imam, latihan itu meliputi lima operasi udara, yaitu operasi serangan udara strategis, lawan udara ofensif, pertahanan udara, operasi informasi, dan operasi dukungan udara.

Skenario 


http://www.majalahpotretindonesia.com/images/-98.jpg
Hawk 109 TNI AU
Dalam latihan itu diskenariokan NKRI sedang dikuasai oleh musuh. Kemudian, diperintahkan agar melaksanakan operasi militer untuk menghancurkan musuh dan merebut kembali kekuasaan NKRI dengan melakukan serangan udara.

Sebelum melakukan serangan udara, TNI AU menerbangkan pesawat Boeing 737 dari Skadron Udara 5 Lanud Halim Perdanakusuma untuk melakukan pengintaian ke daerah sasaran guna memberikan informasi kepada Detasemen Bravo (dari Paskhas) untuk melakukan serangan darat.

Den Bravo yanag terdiri dari 15 personel Paskhas bertugas untuk mengumpulkan data dan menyabotase radar musuh dengan meledakannya serta melakukan bunuh senyap personel musuh.

Setelah pasukan khas ini berhasil melumpuhkan wilayah musuh, satu flight pesawat F-16 yang terdiri dari tiga pesawat melakukan serangan udara dengan membersihkan dan menghancurkan peluru kendali musuh dengan menggunakan bom MK-82.

Pada flight kedua, pesawat tempur buatan Amerika Serikat itu juga menghancurkan pusat komando pengendalian musuh. Hal itu dilakukan agar musuh mengurungkan niatnya untuk melakukan aksi selanjutnya. Kemudian, flight ketiga pesawat F-16 menghancurkan sistem pertahanan musuh.
© Suara Karya
More about → Empat Pesawat Hawk Dilibatkan