Showing posts with label POLRI. Show all posts
Showing posts with label POLRI. Show all posts

Penyergapan Teroris Poso: 1 Tewas dan Bom disita

Posted by ReTRo on Friday, November 2, 2012

 Kepung Rumah di Poso, Densus Dilempari Bom

Baku tembak yang terjadi satu jam itu juga diwarnai pelemparan bom.

http://us.media.viva.co.id/thumbs2/2012/09/05/169745_penggerebekan-teroris-depok--jawa-barat_209_157.jpgBaku tembak antara Detasemen Khusus 88 Anti-Teror Polda Sulawesi Tengah dengan kawanan pelaku teror di Poso, Sulawesi Tengah terjadi pagi tadi. Baku tembak yang terjadi sekitar satu jam itu juga diwarnai pelemparan bom dari kawanan pelaku teror.

"Mulai dari sekitar subuh atau jam 5 sampai jam 6 pagi tadi. Mereka melempari kami bom dan juga melakukan penembakan," kata Kepala Bidang Humas Polda Sulawesi Tengah Ajun Komisaris Besar Polisi Soemarno dalam perbincangan dengan VIVAnews.

Baku tembak itu terjadi saat polisi sedang menggerebek dua rumah di Kelurahan Kayamanya, Gerbangrejo, Poso, Sulawesi Tengah pagi tadi. Penyergapan ini merupakan hasil pengembangan penyidikan kasus dugaan teroris yang kembali meneror Poso.

Dalam penyergapan itu, polisi mendapat perlawanan. "Mereka melempari kami dengan bom dan granat tangan pipa yang berisi paku besi serta gotri. Mereka juga menembaki aparat," kata Soemarno.

Penyergapan itu berlangsung di kawasan pemukiman warga bukan di hutan-hutan. Saat penyergapan terjadi, kata Soemarno, masyarakat tidak dievakuasi. Masyarakat sudah mendapatkan pemahaman atas kawanan pelaku teror di Poso.

Dari hasil penyergapan itu, lebih dari dua orang berhasil kabur melarikan diri ke arah pesisir. "Kini sedang dalam perburuan. Kami belum mendapat informasi pengejaran ke arah pesisir," ujar Soemarno.

 Penyergapan Teroris Poso, 1 Tewas dan 1 Dibekuk

Satu terduga teror lainnya meninggal dunia dalam perjalanan.

http://us.media.viva.co.id/thumbs2/2011/04/18/109177_penggeledahan-rumah-mertua-terduga-muchamad-syarif_209_157.jpgDetasemen Khusus 88 Anti-Teror Polda Sulawesi Tengah mendapatkan perlawanan sengit saat mengepung dua unit rumah di Poso, Sulawesi Tengah, pagi tadi. Dalam pengepungan itu, polisi berhasil membekuk satu terduga teroris dalam keadaan hidup. Satu terduga teror lainnya meninggal dunia dalam perjalanan.

"Yang meninggal berinisial KH, sedangkan yang dalam keadaan hidup berinisial Y atau T," kata Kepala Bidang Humas Polda Sulawesi Tengah Ajun Komisaris Besar Polisi Soemarno dalam perbincangan dengan VIVAnews.

Penyergapan yang berlangsung sejak jam lima pagi waktu setempat itu berlangsung di kelurahan Kayamanya, Gerbangrejok, Poso. Menurut Soemarno, KH pria yang terpaksa dilumpuhkan itu melempari polisi dengan bom dan granat tangan yang terbuat dari pipa.

Granat tangan dan bom yang dilempari ke arah polisi itu berisi besi, paku, dan gotri. Saat dikepung, kawanan teror ini juga menembaki polisi selama beberapa kali.

"Yang membawa bom itu berhasil kami lumpuhkan, inisialnya KH. KH kemudian kami bawa ke Palu tapi meninggal dunia," kata Soemarno. Sementara, satu terduga teror lainnya dibekuk masih dalam keadaan hidup.

Dari hasil pengepungan itu, lebih dari dua orang berhasil kabur ke arah pesisir. Tindakan tegas aparat ini dilakukan karena adanya perlawanan yang cukup serius dan membahayakan petugas.

"Sehingga, kepolisian dengan Densus mengambil langkah-langkah untuk pencegahan dan melumpuhkan," ujar Soemarno.

 Pengepungan Rumah di Poso Terkait Temuan Bom 10 Kg

Polisi menemukan sejumlah kaitan dengan pelaku teror sebelumnya.

http://us.media.viva.co.id/thumbs2/2011/04/18/109180_penggeledahan-rumah-mertua-terduga-muchamad-syarif_209_157.jpgDetasemen Khusus 88 Anti-Teror Polda Sulawesi Tengah mendapat perlawanan serius saat mengepung dua buah rumah di Poso, Sulawesi Tengah, pagi tadi. Dari hasil olah kejadian perkara, polisi menemukan sejumlah kaitan dengan pelaku teror yang sudah dibekuk.

"Ada banyak kemiripan dengan temuan bom seberat 10 kilogram yang ditanam beberapa waktu lalu," kata Kepala Bidang Humas Polda Sulawesi Tengah Ajun Komisaris Besar Polisi Soemarno dalam perbincangan dengan VIVAnews.

Kemiripan itu terlihat dari bom-bom dan granat tangan yang dilemparkan pelaku ke arah petugas saat pengepungan tadi pagi. Bom-bom dan granat tangan yang dilempari itu berisikan paku, besi, dan gotri.

Pada Minggu 29 Oktober lalu, polisi menemukan satu rangkaian bom yang memiliki daya ledak besar. Bom yang diperkirakan memiliki berat sekitar 10 kilogram itu dilengkapi dengan gotri-gotri, besi beton, dan memakai baterai 12 volt.

Bom itu dibungkus dalam rantang plastik ukuran 20 centimeter itu ditemukan di Dusun Tamanjeka, Desa Masani, Kecamatan Poso. Lokasinya berada di pesisir Kabupaten Poso, Sulawsesi Tengah. "Memang ada keterkaitan tapi kami belum bisa simpulkan. Saat ini masih olah TKP. Jangan terburu-buru," kata Soemarno.

Saat ini polisi masih mengumpulkan sejumlah barang bukti dari pengepungan tadi pagi. Selain bom-bom dan granat tangan dari pipa, polisi juga menemukan sejumlah barang bukti lain di dua rumah itu.

"Ada banyak. Seperti laptop dan buku-buku jihad," kata dia. Dari hasil pengepungan itu, satu pelaku berinisial KH tewas dalam perjalanan. Satu pelaku lainnya berinisial Y atau T dibekuk dalam keadaan hidup.

Masih ada dua pelaku lagi yang berhasil melarikan diri. "Semua mereka itu warga pendatang dari Jawa. Mereka sudah sekitar 5-6 tahun di Poso," kata dia.
© VIVA.co
More about → Penyergapan Teroris Poso: 1 Tewas dan Bom disita

TNI - Polri Perketat Perbatasan Indonesia Timor Leste

Posted by ReTRo on Wednesday, October 31, 2012

Perbatasan RI-Timor Leste (ist)GUNA mencegah penyelundupan Narkotika di Nusa Tenggara Timur (NTT), Perbatasan RI-Timor Leste diperketat. Menurut Kapolda Nusa Tenggara Timur (NTT) Brigjen Polisi Ricki HP Sitohang, jajaran kepolisian akan memperketat pengamanan dan pengawasan di wilayah perbatasan itu.

Sebelumnya, Polda NTT berhasil menangkap pelaku penyelundupan narkotika dan psikotropika jenis shabu-shabu seberat tiga kilogram senilai Rp 4,5 miliar dari Timor Leste ke NTT, di Pos Motaain, Kabupaten Belu, NTT.

Ricki menyatakan, belum undang-undang yang secara khusus mengatur soal narkotika di Timor Leste, telah menjadikan negara muda ini menjadi tempat transit yang menggiurkan menuju Indonesia. Penyebabnya, karena kurang optimalnya pengawasan di Bandara Eltari Kupang, sehingga dapat memicu terjadinya tindak pidana.

Ditambahkannya, selain masalah penyelundupan narkotika, di wilayah perbatasan NTT-Timor Leste terdapat kasus penyelundupan bahan bakar minyak (BBM), penyelundupan pencurian kendaraan bermotor, dan penyelundupan sembako.

Bahan bakar minyak jenis premium di NTT berharga Rp 4.500/liter, sedangkan di Timor Leste mencapai Rp 11.000/liter. Akibatnya, memicu warga NTT untuk melakukan penyelundupan BBM ke Timor Leste.

Pengawasan dan pengamanan di perbatasan ini, dilakukan Polri yang bekerjasama dengan TNI. Soliditas dan sinergitas antara kedua institusi itu terus dijalankan mengingat banyak jalan tikus yang menjadi tempat-tempat aksi penyelundupan.*
Guna mencegah penyelundupan Narkotika di Nusa Tenggara Timur (NTT), Perbatasan RI-Timor Leste diperketat. Menurut Kapolda Nusa Tenggara Timur (NTT) Brigjen Polisi Ricki HP Sitohang, jajaran kepolisian akan memperketat pengamanan dan pengawasan di wilayah perbatasan itu.hasil menangkap pelaku penyelundupan narkotika dan psikotropika jenis shabu-shabu seberat tiga kilogram senilai Rp 4,5 miliar dari Timor Leste ke NTT, di Pos Motaain, Kabupaten Belu, NTT.Ricki menyatakan, belum undang-undang yang secara khusus mengatur soal narkotika di Timor Leste, telah menjadikan negara muda ini menjadi tempat transit yang menggiurkan menuju Indonesia. Penyebabnya, karena kurang optimalnya pengawasan di Bandara Eltari Kupang, sehingga dapat memicu terjadinya tindak pidana.ndupan narkotika, di wilayah perbatasan NTT-Timor Leste terdapat kasus penyelundupan bahan bakar minyak (BBM), penyelundupan pencurian kendaraan bermotor, dan penyelundupan sembako.Bahan bakar minyak jenis premium di NTT berharga Rp 4.500/liter, sedangkan di Timor Leste mencapai Rp 11.000/liter. Akibatnya, memicu warga NTT untuk melakukan penyelundupan BBM ke Timor Leste.Pengawasan dan pengamanan di perbatasan ini, dilakukan Polri yang bekerjasama dengan TNI. Soliditas dan sinergitas antara kedua institusi itu terus dijalankan mengingat banyak jalan tikus yang menjadi tempat-tempat aksi penyelundupan.
Read more about Narkotika by www.itoday.co.id
Guna mencegah penyelundupan Narkotika di Nusa Tenggara Timur (NTT), Perbatasan RI-Timor Leste diperketat. Menurut Kapolda Nusa Tenggara Timur (NTT) Brigjen Polisi Ricki HP Sitohang, jajaran kepolisian akan memperketat pengamanan dan pengawasan di wilayah perbatasan itu.Sebelumnya, Polda NTT berhasil menangkap pelaku penyelundupan narkotika dan psikotropika jenis shabu-shabu seberat tiga kilogram senilai Rp 4,5 miliar dari Timor Leste ke NTT, di Pos Motaain, Kabupaten Belu, NTT.Ricki menyatakan, belum undang-undang yang secara khusus mengatur soal narkotika di Timor Leste, telah menjadikan negara muda ini menjadi tempat transit yang menggiurkan menuju Indonesia. Penyebabnya, karena kurang optimalnya pengawasan di Bandara Eltari Kupang, sehingga dapat memicu terjadinya tindak pidana.mbahkannya, selain masalah penyelundupan narkotika, di wilayah perbatasan NTT-Timor Leste terdapat kasus penyelundupan bahan bakar minyak (BBM), penyelundupan pencurian kendaraan bermotor, dan penyelundupan sembako.n bakar minyak jenis premium di NTT berharga Rp 4.500/liter, sedangkan di Timor Leste mencapai Rp 11.000/liter. Akibatnya, memicu warga NTT untuk melakukan penyelundupan BBM ke Timor Lesgawasan dan pengamanan di perbatasan ini, dilakukan Polri yang bekerjasama dengan TNI. Soliditas dan sinergitas antara kedua institusi itu terus dijalankan mengingat banyak jalan tikus yang menjadi tempat-tempat
Read more about Narkotika by www.itoday.co.id
Guna mencegah penyelundupan Narkotika di Nusa Tenggara Timur (NTT), Perbatasan RI-Timor Leste diperketat. Menurut Kapolda Nusa Tenggara Timur (NTT) Brigjen Polisi Ricki HP Sitohang, jajaran kepolisian akan memperketat pengamanan dan pengawasan di wilayah perbatasan itu.

Sebelumnya, Polda NTT berhasil menangkap pelaku penyelundupan narkotika dan psikotropika jenis shabu-shabu seberat tiga kilogram senilai Rp 4,5 miliar dari Timor Leste ke NTT, di Pos Motaain, Kabupaten Belu, NTT.

Ricki menyatakan, belum undang-undang yang secara khusus mengatur soal narkotika di Timor Leste, telah menjadikan negara muda ini menjadi tempat transit yang menggiurkan menuju Indonesia. Penyebabnya, karena kurang optimalnya pengawasan di Bandara Eltari Kupang, sehingga dapat memicu terjadinya tindak pidana.

Ditambahkannya, selain masalah penyelundupan narkotika, di wilayah perbatasan NTT-Timor Leste terdapat kasus penyelundupan bahan bakar minyak (BBM), penyelundupan pencurian kendaraan bermotor, dan penyelundupan sembako.

Bahan bakar minyak jenis premium di NTT berharga Rp 4.500/liter, sedangkan di Timor Leste mencapai Rp 11.000/liter. Akibatnya, memicu warga NTT untuk melakukan penyelundupan BBM ke Timor Leste.

Pengawasan dan pengamanan di perbatasan ini, dilakukan Polri yang bekerjasama dengan TNI. Soliditas dan sinergitas antara kedua institusi itu terus dijalankan mengingat banyak jalan tikus yang menjadi tempat-tempat aksi penyelundupan.
More about → TNI - Polri Perketat Perbatasan Indonesia Timor Leste

Konflik Horizontal

Posted by ReTRo on Tuesday, October 30, 2012



Ratusan Anak-anak Dievakuasi ke Sekolah Polisi

Ribuan pengungsi konflik Lampung Selatan itu kini ditempatkan di Sekolah Polisi Negara (SPN) Kemiling milik Polda Lampung.

Konflik sosial yang terjadi di Way Panji, Lampung Selatan, antara masyarakat Balinuraga dan Way Harong, menyebabkan ratusan anak-anak menjadi korban. Mereka kehilangan tempat tinggal dan tidak bisa bersekolah.


Tak kurang dari 247 anak menjadi pengungsi dari 1.108 pengungsi yang tercatat dalam konflik yang menyebabkan 14 orang tewas dan sembilan orang terluka itu.


"Empat belas orang itu terdiri dari empat orang yang tewas pada Minggu (28/10), dan sepuluh pada Senin (29/10)," kata Karo Penmas Polri, Brigjen Boy Rafli Amar di Mabes Polri, Jakarta, Selasa (30/10).


Menurut Boy, Mabes Polri sangat menyesalkan konflik yang dipicu oleh kecelakaan lalu lintas itu. Ceritanya, pada Sabtu (27/10), terjadi kecelakaan lalu lintas yang melibatkan dua remaja putri. Saat itu keduanya ditolong oleh warga Balinuraga.


"Saat itulah muncul isu pelecehan seksual, juga provokasi oleh pihak tertentu. Sebenarnya sudah ada pertemuan awal masyarakat yang bertetangga (Desa Balinuraga dan Way Halong di Way Panji), dan akhirnya pecah keributan," ungkap Boy.


Selain pengungsi yang hingga kini ditempatkan di Sekolah Polisi Negara (SPN) Kemiling milik Polda Lampung, tercatat ada tujuh rumah rusak, 11 roda dua terbakar, satu sekolah dibakar, satu minibus bakar, serta satu jeep dirusak. Hari ini, kondisi dilaporkan sudah kembali kondusif.


"Apakah ada masalah lain sebelumnya (yang membuat masyarakat gampang diprovokasi), kita akan kaji, mengapa masyarakat begitu cepat emosi. Ini kondisi yang disayangkan," imbuh Boy.


Upaya untuk menangkap pelaku, tambah Boy, sebenarnya sudah dilakukan polisi sejak hari pertama. Polisi sudah melakukan olah TKP dan mengumpulkan barang bukti, tapi upaya ini terhambat karena konflik kembali terjadi pada Senin.


"Sudah ada penyelidikan dan penyidikan. Yang terpenting supaya tidak berkembang hal yang lebih buruk. Seluruh korbannya memang beretnis Bali. Massa yang menyerbu sekitar 10 ribu. Sebenarnya pada Senin sudah disekat, dihalau, tapi ada celah jalan lain seperti pematang, dan akhirnya terjadi bentrok lagi," bebernya.


Saat ini, menurut Boy, ada 2.150 gabungan Polri dan TNI yang ditempatkan di lokasi kejadian untuk mencegah konflik kembali berulang. Itu termasuk anggota Brimob dari Mako Brimob Kelapa Dua, Banten, Jateng, dan Sumsel.


Asops Polri Irjen Badrodin Haiti dan Ka Kor Brimob Irjen Syafei Aksal, juga terjun ke lokasi. Polisi menegaskan akan berupaya memediasi kedua belah pihak untuk berdialog, supaya kasus ini tak berlarut-larut.


Jasad korban tidak utuh


Menurut Kapolres Lampung Selatan (Lamsel) AKBP Tatar Nugroho, saat berada di Waypanji, korban tewas tersebut empat orang di antaranya warga Kecamatan Kalianda akibat bentrokan hari pertama, Minggu (28/10), sedangkan dalam bentrokan pada hari kedua, Senin (29/10), korban tewas sebanyak 10 orang, warga dari Desa Balinuraga.


Tatar merincikan, nama-nama para korban bentrokan dari Kecamatan Kalianda yang tewas, yakni Yahya bin Abdulah, 45, warga Kelurahan Wayurang, Marhadan, 35, warga Gunungterang, dan Alwin, 35, warga Tajimalela.


"Satu lagi, Solihin, 35, warga Kalianda yang tewas saat mendapatkan perawatan medis di RSU Abdul Moeloek Bandarlampung," kata dia pula.


Namun, korban bentrokan hari kedua sebanyak 10 orang dari pihak warga Desa Balinuraga, menurut dia, masih dalam proses identifikasi di rumah sakit karena sebagian tubuh korban tidak utuh lagi akibat bentrokan antarwarga itu.


"Kami telah menyisir perladangan dan perkebunan di lokasi bentrokan itu, dan menemukan 10 korban tewas," kata Tatar.


Selain korban tewas sebanyak 14 orang itu, kata dia lagi, jumlah korban luka-luka mencapai sembilan orang dari Kalianda yang sebagian besar berupa luka terkena tembakan dan luka tusuk saat terjadi bentrokan itu.


Sedangkan kerugian materi akibat bentrokan antarwarga itu, berupa 166 unit rumah warga di Desa Balinuraga dan Sidoreno dibakar massa, 26 unit rumah mengalami rusak berat, 11 unit sepeda motor dibakar, dan dua gedung sekolah ikut dibakar massa.


Satu unit mobil Isuzu Panther milik Dit Shabara Polda Lampung, satu unit mobil Honda CRV, dan Strada juga ikut dirusak massa.


Tak Cukup Sekadar Kesepakatan Damai untuk Tuntaskan Konflik Lampung

Sedikitnya 10 orang tewas dan delapan orang terluka, serta 1.108 orang harus mengungsi, akibat konflik yang terjadi di Way Panji, Lampung Selatan, antara masyarakat Balinuraga dan Way Harong.

Sosiolog dari Universitas Lampung (Unila) Hartoyo mengatakan, peristiwa kekerasan yang terjadi pada Minggu (28/10) itu bukanlah terjadi secara tiba-tiba. Melainkan, menurutnya, itu merupakan akumulasi dari konflik yang terjadi sebelumnya.


"Sedikit ada pemicu, maka terjadilah. Ibarat ada bara api dan daun kering berserakan, itu kan bahaya. Ada angin sebagai pemicunya, maka terjadi kebakaran," kata Hartoyo ketika dihubungi Beritasatu.com, Selasa (30/10).


Hartoyo menceritakan, konflik awal terjadi sebelum tahun 2012, ketika kelompok Bali menyerang kelompok Lampung. Kemudian pada Januari 2012, kelompok Lampung pun menyerang kelompok Bali dan terjadi aksi pembakaran rumah.


"Sampai sekarang belum ada tindakan penyelesaian secara hukum. Jadi, ada dendam, kebencian, ketidakpuasan, serta emosi massa yang masih terpendam," jelasnya.


Akar masalah konflik ini, kata Hartoyo, dipicu oleh kecemburuan ekonomi dan sosial, serta ada perbedaan nilai prinsip keagamaan. Menurutnya, secara ekonomi kelompok Bali lebih baik dari kelompok Lampung.


Hartoyo pun mengatakan bahwa potensi konflik seperti ini bisa terjadi di mana saja. Namun menurutnya, yang terpenting adalah bagaimana caranya agar potensi itu ditata dengan baik menjadi produktif. Karena kalau tidak dikelola, akan terjadi konflik aktual, dan ketika mengalami eskalasi,  terjadi kekerasan.


Kesepakatan damai antara tokoh adat maupun tokoh masyarakat, menurut Hartoyo, tidaklah cukup untuk meredam gejolak yang terjadi di tingkat masyarakat. Tokoh adat dan tokoh masyarakat termasuk tataran elite, dan perjanjian damai itu sifatnya tidak mengikat.


Jadi, menurutnya pula, solusi penyelesaian konflik itu adalah aparatur negara, baik pemerintah daerah maupun instansi terkait, melakukan pemulihan kondisi fisik, ekonomi, serta sosial.


"Harus ada proses hukum, dan kondisi psikologis korban harus dikembalikan. Sampai sekarang belum tuntas di lapangan," tegasnya.


Pada kesempatan terpisah, Koalisi Rakyat Lampung, menyerukan para pihak yang berkonflik di provinsi itu segera berdamai dan kembali menjadi persaudaraan.


"Mari kita menahan diri untuk tidak melakukan tindakan-tindakan atau provokasiyang  bisa memicu terjadinya bentrokan kembali," kata Koordinator Koalisi Idhan Januwardhana di Jakarta, Selasa (30/10).


Bagi Koalisi, aparat keamanan juga harus secara sigap dan cermat  mengantisipasi dan meredam konflik dengan melakukan penegakan hukum secara adil, transparan, dan tidak diskriminatif.


Adapun para kepala daerah dan jajarannya di Lampung, beserta jajaran muspida Lampung Selatan sebaiknya segera mengupayakan resolusi konflik.


"Kami harap ada langkah konkret terciptanya perdamaian dan mengerahkan segala program pembangunan secara adil dan merata demi terciptanya perdamaian yang berkelanjutan," ujar Idhan.


Rangkaian Konflik Horizontal di Lampung Selatan

Konflik horizontal di Lampung Selatan berulang dan kian meningkat eskalasinya.

Wajah-wajah mengeras dengan menenteng beragam senjata, seperti parang, pedang, golok, celurit, bahkan senjata senapan angin tampak bergerak pasti menuju Desa Balinuraga, Sabtu (27/10), sekitar pukul 23.00 WIB. 


Ratusan warga itu merangsek ke Balinuraga bukan tanpa sebab. Beberapa waktu sebelumnya, dua gadis dari Desa Agom yang beretnis Lampung, diganggu oleh pemuda Bali warga Balinuraga. Akibatnya, kedua gadis itu terjatuh dari motornya dan mengalami luka-luka.  


Kasat mata, siapa menyana jika insiden kecil serupa itu kemudian menyulut api persoalan yang demikian besar. Serbuan warga Agom ke Balinuraga menyebabkan sedikitnya tiga warga meregang nyawa. Sedangkan belasan rumah di desa tersebut pun rata dengan tanah akibat dibakar.


Tidak dapat menerima kekalahan dalam "pertempuran" massal itu, pada Senin (29/10), ribuan warga yang disebut-sebut berasal dari gabungan sejumlah etnis di Lampung kembali bergerak menuju Balinuraga yang mayoritas warganya beretnis Bali. Mereka menerobos blokade aparat yang membentengi desa tersebut.


Mereka datang tak lain untuk membalaskan dendamnya. Pertikaian yang lebih besar pun meledak. Akibatnya, sebanyak sedikitnya 6 warga Balinuraga meninggal dunia dan desa itu porak peranda. Hingga kini, suasana di lokasi tersebut pun masih mencekam kendati sedikitnya 2.150 aparat telah dikerahkan untuk berjaga.


Konflik horizontal yang total hingga Senin (30/10) telah menewaskan 14 warga itu bukan kali pertama terjadi di kabupaten tersebut. Pada awal 2012, konflik juga meledak di Sidomulyo, Lampung Selatan, dan mengakibatkan 48 rumah terbakar dan 33 lainnya rusak.


Pada peristiwa itupun, sebanyak sekitar 700 aparat kepolisian dikerahkan untuk mengantisipasi bentrok susulan. Hanya berselang beberapa bulan kemudian, yakni pada Agustus 2012, konflik kembali pecah.


Bentrokan kali ini terjadi antarwarga desa yang bertetangga, yakni Desa Banyuwangi dan Desa Purwosari, di Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung. Persoalan yang memicu adalah aksi main hakim sendiri terhadap seorang tersangka pencuri kendaraan bermotor.


Buntut dari insiden tersebut, warga Desa Banyuwangi melakukan penyerangan ke Desa Purwosari yang mengakibatkan sejumlah rumah dirusak dan dibakar. Sebelumnya, konflik senada juga meletup di Kecamatan Padangcermin, Kabupaten Pesawaran, Lampung.


Bentrokan itu dipicu perkelahian antara dua pemuda di sebuah warung nasi, sehingga berakibat masing-masing pihak bertikai membawa kelompok mereka sampai menyulut emosi warga secara lebih meluas.


Akibatnya, kantor Polsek Padangcermin menjadi sasaran amukan massa, karena mereka merasa tidak puas atas penyelesaian kasus yang ditangani kepolisian setempat.


Rangkaian peristiwa kekerasan di Lampung Selatan yang dipicu oleh masalah-masalah sederhana memang kian meningkat eskalasinya. Menilik rangkaian aksi kekerasan yang terjadi di kawasan tersebut, layak kiranya jika muncul sebuah tanda tanya besar.


Yakni, apakah benar memang negara kecolongan mengantisipasi gesekan yang muncul dalam kehidupan masyarakat yang beragam atau memang intervensi dari pihak tertentu berhasil menekan pemerintah setempat agar tidak menuntaskan permasalahan secara proporsional?

Belum Ada Tersangka dalam Kerusuhan Lampung

Polri dan TNI menurunkan aparat tambahan bantuan untuk menjaga keamanan.

Kepolisian Republik Indonesia hingga saat ini belum menetapkan tersangka dalam kasus kerusuhan di Lampung Selatan yang berlangsung sejak Sabtu (27/10) hingga Senin (29/10) dan menewaskan 10 orang.

Hal itu disampaikan Kapolri Jenderal Timur Pradopo, kepada wartawan, di Bandara Halim Perdanakusuma, Jaktim, hari ini. "Kita tunggu perkembangannya,” ujarnya.


Timur mengatakan, kepolisian masih mengembangkan penyelidikan, termasuk terhadap kelompok yang mengganggu pemudi yang kejadiannya menjadi sumber konflik. “Ini semua berkaitan dengan hal-hal yang bisa dikembangkan mulai dari kelompok yang mengganggu kegiatan pemudi dari masalah sepele ini. Tentunya kondisi itu yang mempengaruhi dan melatarbelakangi semuanya,” ujarnya.


Dia mengakui, konflik horizontal sering kali terjadi di beberapa daerah di Indonesia. Oleh karena itu, seluruh elemen pemerintah dan masyarakat harus bersama-sama bekerja keras dalam pembinaan wilayah.


Aparat keamanan, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan aparat pemerintah daerah, menurut Kapolri, haruslah saling bersinergi dalam menjaga keamanan di wilayah. Setiap konflik yang terjadi di daerah, kata Timur, memiliki ciri khas dan karakteristik masing-masing.


”Kepala daerah dan masyarakat bersama-sama kedepankan langkah preemptif dan preventif,” kata mantan Kapolda Metro Jaya ini.


Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Djoko Suyanto membela aparat keamanan untuk tidak dipermasalahkan atas terjadinya kerusuhan susulan di Lampung.


”TNI ke mana, polri ke mana, mereka ada di situ. Mereka kan lewat jalan-jalan tikus, banyak cara ke sana,” kata Djoko.

Markas Besar Polri menurunkan aparat tambahan bantuan untuk menjaga keamanan, begitu juga dengan TNI yang menurunkan lima SSK (satuan setingkat kompi, 100 orang) untuk ikut membantu menjaga keamanan. 

Kapolri: Jodie Rooseto Harus Tanggung Jawab

Jodie batal dilantik jadi Kapolda hanya beberapa jam sebelum pelantikan pagi ini.

Kepala Kepolisian RI (Kapolri) Jenderal Timur Pradopo membenarkan pembatalan Kapolda Lampung Brigjen Jodie Rooseto untuk menduduki kursi empuk sebagai Kapolda Jawa Barat menggantikan Irjen Putut Eko Bayuseno adalah bagian dari 'reward and punishment'.

"Semua penilaian pastilah (dilakukan). Itu dinamika lapangan dan risiko (yang bersangkutan) untuk bertanggung jawab di wilayahnya," kata Timur di Gedung Rupatama Mabes Polri, pagi ini.

Saat itu orang nomor satu di korps baju coklat tersebut baru melantik Kapolda Jawa Barat Irjen Putut Bayuseno yang diangkat menjadi Kapolda Metro Jaya menggantikan Irjen Untung S Radjab yang memasuki masa pensiun.

Juga turut dilantik pengganti Putut, Kapolda Sultra Brigjen Tubagus Anis  Angkawijaya. Pengganti Tubagus, Brigjen Ngadino yang sebelumnya menjabat sebagai Kasetukpa Lemdikpol Polri, juga turut dilantik.

Sedangkan, Jodie yang akan mengisi posisi yang ditinggal Ngadino tak tampak. "Dia dia harus selesaikan tugas itu (rusuh Lampung). Dia harus tanggung jawab sebagai Kapolda," tandas Kapolri.

Jodie batal dilantik jadi Kapolda hanya beberapa jam sebelum dirinya dijadwalkan dilantik pagi ini. Pembatalan itu tertuang dalam Kep Kapolri 645/X/2012 tertanggal 30 Oktober 2012 yang salinannya diterima Beritasatu.com tadi malam.

Keputusan Kapolri itu meralat Kep Kapolri 640/X/2012 tertanggal 26 Oktober yang menunjuk Jodie menggantikan Putut. Pembatalan itu terkait konflik  sosial yang terjadi di Way Panji, Lampung Selatan, antara masyarakat Balinuraga dan Way Harong yang menyebabkan 10 orang tewas dan delapan orang terluka.

Posisi Kapolda Lampung diisi oleh Brigjen Heru Winarko yang sebelumnya  menjabat sebagai Pati Polri di Menko Polhukam. Heru ini juga sempat "apes" saat dirinya duduk sebagai Kapolres Jakarta Pusat pada 2008.

Saat itu terjadi insiden Monas yakni saat massa dari berbagai kelompok  Islam termasuk Front Pembela Islam yang bentrok dengan Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB).

Konflik Lampung sangat disesalkan oleh Mabes Polri. Sebab, konflik itu  dipicu soal sederhana yakni kecelakaan lalu lintas. Kini, ada 2.150 gabungan Polri dan TNI yang ditempatkan di lokasi kejadian di Lampung Selatan demi mencegah konflik kembali berulang. Itu termasuk anggota  Brimob dari Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, Banten, Jateng, dan Sumsel.
© Berita Satu
More about → Konflik Horizontal

Bentrok Warga di Lampung

Posted by ReTRo on Monday, October 29, 2012

 Bentrok Warga di Lampung, Ini Instruksi SBY

Pencegahan bentrok warga tak bisa hanya diserahkan ke Polri dan TNI.

http://us.media.viva.co.id/thumbs2/2012/10/30/177506_bentrok-antar-warga-di-lampung_209_157.jpgPolisi berusaha menghalau warga yang terlibat bentrok

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono minta segenap pemangku kepentingan turut bertanggung jawab mengatasi aksi kekerasan horizontal yg terjadi di beberapa tempat di Indonesia, termasuk yang terbaru di Lampung. Dia minta tanggung jawab itu tidak hanya dibebankan kepada aparat kepolisian dan TNI tetapi juga pemangku kepentingan lainnya.

"Saya menyerukan semua pihak harus ikut bertanggung jawab, semua pihak peduli, semua pihak bekerja," kata SBY di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Selasa 30 Oktober 2012.

Pencegahan optimal tidak bisa hanya diserahkan pada kepolisian dan TNI. "Jangan, sekali lagi, hanya menyerahkan kepada aparat kepolisian dan komando teritorial TNI. Hanya dengan cara itu kita bisa mencegah secara optimal dan efektif," kata SBY.

Sementara, Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Djoko Suyanto menegaskan, maksud presiden itu agar seluruh pemangku kepentingan seperti kepala daerah, tokoh masyarakat, dan masyarakat sipil, ikut bersama-sama mencegah. "Poinnya adalah jangan semua diserahkan kepada TNI dan Polri. Semua tokoh masyarakat, pemda, gubernur, bupati, itu juga ikut dalam konteks itu," kata Djoko.

Kepala Kepolisian Jenderal Timur Pradopo mengatakan insiden serupa di Lampung sebenarnya sudah berkali-kali. Penyebabnya bisa hal sepele seperti seorang pemudi diganggu kemudian memicu kemarahan. "Sehingga kita harus lebih keras lagi terutama dalam pembinaan wilayah, artinya itu bagaimana mengelola wilayah itu, masyarakat, tokoh, ulama dan pemda harus sinergi," kata Timur.

Menurut Timur, Pemerintah daerah ditempatkan sebagai garda depan untuk menyelesaikan permasalahan di Lampung. "Dan untuk pelanggaran akan kita lakukan penegakan hukum," katanya.

Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono mengatakan pasukannya yang siaga  di Lampung ada 5 Satuan Setingkat Kompi. (umi)

 Konflik Berdarah, Ini Permintaan Kapolri untuk Kepala Daerah

Tujuh orang tewas akibat konflik antar warga di Lampung Selatan.

http://us.media.viva.co.id/thumbs2/2012/10/30/177504_bentrok-antar-warga-di-lampung_209_157.jpgKepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri), Jenderal Timur Pradopo, meminta kepala daerah berperan aktif dalam mengatasi konflik yang terjadi di Lampung Selatan. "Tentu saja kami akan kedepankan pemerintah daerah. Kami akan tegas demi hukum," kata Timur di Bandara Halim Perdana Kusumah, Jakarta, Selasa 30 Oktober 2012.

Bukan hanya di Lampung, konflik yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia juga harus diselesaikan secara bersama-sama. Penegak hukum dan pemerintah daerah. "Tentu saja ada ciri khas masing-masing daerah. Ciri khas itulah yang harus dikedepankan masyarakat untuk tindakan preventif," kata Kapolri.

Sebagaimana luas diberitakan bahwa terjadi bentrokan antar warga yang memakan korban jiwa di Lampung Selatan. Bentrokan itu terjadi semenjak Minggu, 28 Oktober 2012. Antara warga Desa Balinuraga dan Desa Agom. Tiga orang tewas. Enam rumah terbakar.

Senin, 29 Oktober 2012, pecah bentrokan di Kalianda, juga di Lampung Selatan. Tujuh orang tewas. Setidaknya 16 rumah terbakar. Kebanyakan korban tewas ditemukan di areal perkebunan dan persawahan, dengan kondisi tubuh penuh luka bacokan.

Dengan demikian, total ada 10 korban tewas dalam peristiwa bentrok yang terjadi dua hari berturut-turut itu. Sebanyak 1.200 warga Desa Balinuraga terpaksa mengungsi. Mereka ditempatkan di tiga gedung yang sudah disediakan dan mendapat pengawalan ketat aparat.

 Korban Tewas Bentrok di Lampung Jadi 7 Orang

Polda Lampung masih menyelidiki penyebab bentrok antar warga

http://us.media.viva.co.id/thumbs2/2012/10/30/177507_bentrok-antar-warga-di-lampung_209_157.jpgBentrok warga yang terjadi di Lampung Selatan, Senin 29 Oktober 2012, memakan korban tujuh nyawa. Korban terakhir meninggal saat menjalani perawatan di rumah sakit.

"Semua korban laki-laki dan meninggal akibat bentrok. Tidak ada yang terbakar," jelas Kabid Humas Polda Lampung, AKBP Sulistyaningsih saat dihubungi VIVAnews, Selasa 30 Oktober 2012. Sebelumnya dilaporkan, sekitar 50 rumah di Desa Balinuraga dibakar setelah warga dari Kalianda menyerang.

Dia menambahkan, semua korban tewas sedang di Rumah Sakit Umum Abdul Moeloek, Lampung. "Mereka warga bertikai yang sedang berhadap-hadapan. Mereka lepas dari pengamanan kami karena massa ini mencapai 10 ribu dengan areal bentrok yang luas. Sampai ke sawah-sawah," jelas Kabid Humas.

Sejauh ini, Polda Lampung tengah menyelidiki penyebab bentrok warga yang kerap melanda wilayah tersebut. Hari Minggu lalu, imbuhnya, tiga warga juga tewas dalam bentrok desa yang sama. "Total sudah 10 orang yang tewas sejak hari Minggu," imbuhnya. Polisi kini masih mencari korban-korban lainnya.

Sebanyak 1.200 warga Desa Balinuraga terpaksa mengungsi menyusul bentrok yang terjadi, kemarin. Mereka ditempatkan di tiga gedung yang sudah disediakan dan mendapat pengawalan ketat aparat. (umi)

 Anggota DPR Sesalkan Meluasnya Bentrokan Lampung

Sepuluh warga tewas akibat bentrokan berdarah itu.

Ketua Komisi III Bidang Hukum DPR, Gede Pasek Suardika, menyesalkan bentrok antar kampung di Lampung Selatan yang meluas dan merembet menjadi bentrok antar suku.

Pasek menilai kepolisian harus ikut bertanggung jawab atas bentrokan itu karena tidak berhasil mencegah dan mengatasinya. “Aparat keamanan telah gagal melaksanakan tugasnya di Lampung sehingga bentrokan melebar dan menambah korban jiwa,” kata Pasek, Selasa 30 Oktober 2012.

Politisi Demokrat itu mengatakan, pemicu bentrok Lampung Selatan seringkali berawal dari hal-hal sepele. Namun akibat lengahnya deteksi dini aparat, maka semua hal dengan mudah tersulut menjadi besar. “Ini kan bukan kasus kekerasan pertama di Lampung. Dari kasus tanah sampai kasus antar suku selalu menghiasi Lampung menjadi sejarah kelam,” ujar Pasek.

Kasus kekerasan yang terus berulang di Lampung membuat Pasek berpendapat aparat benar-benar gagal memberikan jaminan rasa keamanan dan keadilan bagi kedua kelompok bertikai di Lampung. “Kalau saja rasa keadilan dan ketegasan untuk jaminan keamanan bisa diberikan aparat, saya yakin kedua belah pihak akan saling menghormati,” kata dia.

Komisi III DPR sendiri menurutnya sudah pernah membahas potensi konflik horizontal di Lampung secara khusus, dengan belajar dari kasus Sulawesi Tengah dan Sampang. “Tapi tampaknya rekomendasi kami untuk memberikan dukungan terhadap tindakan tegas tidak dilakukan,” ujar Pasek.

Akhirnya, imbuh Pasek, meski pemicu dan potensi konflik di Lampung sudah terang-benderang, bentrok tetap terjadi. Pasek pun mengimbau warga Lampung agar tidak terprovokasi dan bisa mengendalikan diri, karena bentrok yang terjadi akan merugikan kedua belah pihak.

“Kebersamaan dalam persaudaraan perlu terus dibangun dan dijadikan semangat untuk kemajuan Lampung. Yang bersalah biar diproses hukum secara proporsional. Jangan dengan cara emosional,” kata Pasek.

Sepuluh Tewas

Senin, 29 Oktober 2012, pecah bentrok susulan antarwarga di Kalianda, Lampung Selatan. Dalam aksi tersebut, 7 orang tewas dan 16 rumah terbakar. Kebanyakan korban tewas ditemukan di areal perkebunan dan persawahan, dengan kondisi tubuh dipenuhi luka bacokan. Dua korban yang saat ini sudah bisa diidentifikasi merupakan warga Desa Balinuraga.

Sehari sebelumnya, Minggu 28 Oktober 2012, bentrokan juga pecah antara warga Desa Balinuraga dan Desa Agom, yang mengakibatkan 3 orang tewas dan 6 rumah terbakar. Bentrokan bermula ketika dua gadis asal Desa Agom yang mengendarai sepeda motor diganggu oleh pemuda asal Desa Balinuraga hingga jatuh dan mengalami luka-luka.

Meski Kepala Desa Agom dan Balinuraga telah mengadakan perjanjian damai, namun keluarga kedua gadis itu tak terima. Mereka lantas mendatangi Desa Balinuraga untuk menemui pemuda yang mengganggu itu. Namun setibanya di Desa Balinuraga, mereka langsung diserang warga setempat dengan senjata api. (sj)

 Kapolri: Bentrok Lampung Berawal dari Soal Sepele

Berawal dari dua gadis yang diganggu, merembet menjadi bentrok besar.

http://us.media.viva.co.id/thumbs2/2012/10/30/177505_bentrok-antar-warga-di-lampung_209_157.jpgRibuan massa berjalan usai menyerang Desa Balinuraga di Kecamatan Waypanji, Lampung Selatan, Senin 29 Oktober 2012.

Kapolri Jenderal Pol Timur Pradopo menyatakan, bentrok antarwarga yang terjadi di Lampung Selatan sesungguhnya berawal dari masalah sepele.

Timur mengatakan, akar persoalan dapat dirunut “mulai dari kelompok yang mengganggu kegiatan pemudi.” Seperti diketahui, Minggu 28 Oktober 2012, dua gadis asal Desa Agom yang mengendarai sepeda motor diganggu oleh pemuda asal Desa Balinuraga hingga jatuh dan mengalami luka-luka.

Meski Kepala Desa Agom dan Balinuraga telah mengadakan perjanjian damai, namun keluarga kedua gadis itu tak terima. Mereka lantas mendatangi Desa Balinuraga untuk menemui pemuda yang mengganggu itu. Namun setibanya di Desa Balinuraga, mereka langsung diserang warga setempat dengan senjata api.

“Masalah sepele ini mempengaruhi dan melatar belakangi semua,” kata Kapolri di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Selasa 30 Oktober 2012, ketika mengantar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bertolak ke Inggris untuk menghadiri pertemuan puncak The Asia-Europe Meeting (ASEM).

Oleh sebab itu Kapolri meminta tokoh-tokoh masyarakat Lampung, ulama setempat, dan pemerintah daerah, bisa ikut meredam bentrok antarwarga di Lampung yang dalam dua hari ini telah menelan 10 korban jiwa dan menyebabkan 22 rumah warga terbakar.

Kapolri mengakui peristiwa bentrok antarwarga di Lampung Selatan bukan terjadi kali ini saja. “Ini sudah terjadi berkali-kali. Artinya kita harus lebih keras lagi, terutama dalam membina dan mengelola wilayah itu. Masyarakat, tokoh, ulama, dan pemda harus bersinergi,” ujar Timur.

Senin, 29 Oktober 2012, pecah bentrok susulan antarwarga di Kalianda, Lampung Selatan. Dalam aksi tersebut, 7 orang tewas dan 16 rumah terbakar. Kebanyakan korban tewas ditemukan di areal perkebunan dan persawahan, dengan kondisi tubuh dipenuhi luka bacokan. Dua korban yang saat ini sudah bisa diidentifikasi merupakan warga Desa Balinuraga.

Sehari sebelumnya, Minggu 28 Oktober 2012, bentrokan juga pecah antara warga Desa Balinuraga dan Desa Agom, yang mengakibatkan 3 orang tewas dan 6 rumah terbakar. Dengan demikian, total ada 10 korban tewas dalam peristiwa bentrok yang terjadi dua hari berturut-turut tersebut.(umi)
© VIVA.co
More about → Bentrok Warga di Lampung

Penangkapan Kelompok Hasmi

Posted by ReTRo on Saturday, October 27, 2012



Polri: 11 Terduga Teroris Berasal dari Jaringan Hasmi

Pihak Polri menyebut mereka masih akan mendalami lagi jaringan itu, untuk memastikan apakah bakal ada kemungkinan penangkapan baru. 
Detasemen Khusus (Densus) 88/Antiteror menangkap 11 anggota jaringan teroris Harakat Sunni untuk Masyarakat Indonesia (Hasmi). Selain para terduga, diamankan pula sejumlah barang bukti bom siap ledak.

Kepala Divisi Hubungan Masyarakat (Kadiv Humas) Mabes Polri, Irjen (Pol) Suhardi Alius menuturkan, sebelum rangkaian penggerebekan pada hari ini, Densus melakukan penggerebekan di Perumahan Amarta Residen Nomor B3, Taman, Josenan, Madiun, pada Jumat (26/10) sekitar pukul 20.00 WIB.


"(Di situ) Diamankan dua orang atas nama Agus Anton alias Thorik, dan Warso alias Kurniawan. Ditemukan barang bukti sejumlah bom siap ledak, bahan baku, serta buku panduan pembuatan bom," ujar Suhardi dalam jumpa pers di Mabes Polri, Sabtu (26/10).


Dikatakan Surhadi, Densus kemudian melakukan pengembangan, lalu menggerebek tiga tempat berbeda di Solo, Bogor dan Jakarta, secara serempak pada sekitar pukul 11.00 WIB hari ini.


"Di Solo, diamankan tiga orang. Pertama Abu Hanifah, pimpinan Hasmi. Ditangkap di Jalan Lawu Timur RT5 RW09, Mojosongo, Jembres, Solo. Kemudian, Harun ditangkap di Jalan Sumpah Pemuda, Dukuh Nowoso, RT05 RW12, Mojosongo, Jebres, Solo. Terakhir, Budianto alias Ari alias Ahmadun. Saat penangkapan dia sedang membonceng Abu Hanifah," terangnya.


Suhardi menyampaikan, di Solo juga ditemukan barang bukti bahan peledak, baik yang sudah siap ledak maupun dalam perakitan. "Barang buktinya, bahan peledak sudah siap, maupun (dalam) proses perakitan," jelasnya.


Selanjutnya, masih menurut Suhardi, Densus juga menggerebek sebuah tempat di Negla Sari Kidul, RT01 RW02, Leuwimekar, Leuwiliang, Bogor.


"Diamankan tiga orang. Pertama atas nama Emir dan Zainudin. Lalu dilakukan pengejaran terhadap Usman di daerah Cikaret, kurang lebih setengah jam dari Leuwiliang. Barang bukti yang diamankan, (adalah) bahan-bahan pembuatan serta perakitan bom, sejumlah amunisi dari beberapa kaliber, dan detonator," ungkapnya.


Lantas di Jakarta, Densus 88 pun melakukan penggerebekan di Palmerah Barat II RT03 RW09 Palmerah, Palmerah, Jakarta Barat.


"Ada dua orang yang diamankan atas nama Azhar dan Herman. Kemudian dikembangkan ke Kebon Kacang. Ditangkap atas nama Narto. Barang bukti yang diamankan (adalah) bahan-bahan perakitan bom," paparnya.


Dalam kesempatan itu, Suhardi pun menuturkan, semua terduga teroris tersebut merupakan anggota jaringan Hasmi.


"Mereka semua jaringan Hasmi. Ini jaringan baru. Kami masih mendalami lagi, apakah ada kemungkinan penangkapan baru," tandasnya.


Empat Titik Sasaran Bom Teroris Kelompok Hasmi

Belum diketahui kapan rencana dan pola peledakan, tapi dua titik sasaran diketahui berada di Jakarta, satu di Jawa Tengah, serta satu di Surabaya.

Polisi di Kemanggisan, Jakbar
Para terduga teroris dari kelompok Harakah Sunni untuk Masyarakat Indonesia (Hasmi), disebutkan mengincar Kedutaan Besar Amerika Serikat (Kedubes AS) dan tiga tempat lainnya, sebagai tempat sasaran pengeboman.

"Sasaran kelompok Hasmi ini: pertama, Konsulat Jenderal Amerika, Jalan Citra Raya Niaga 2, Surabaya; Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta; Plasa 89 yang di depannya terdapat Kedutaan Besar Australia dan kantor Freeport; serta Mako Brimob Jawa Tengah di Srondol, Jawa Tengah," ujar Kadiv Humas Polri, Irjen (Pol) Suhardi Alius, dalam jumpa pers di Mabes Polri, Sabtu (27/10).


Dikatakan Suhardi, pihaknya masih mendalami, kapan waktu yang direncanakan kelompok ini akan melancarkan aksinya.


"Kami masih dalami, kapan akan dilaksanakan. Kami juga belum tahu apakah akan diledakkan secara bersama-sama atau tidak. Sementara ini, dari hasil interograsi, sasaran mereka tempat-tempat itu," tambahnya.


Suhardi pun menuturkan, kelompok Hasmi merupakan kelompok baru. Kendati merupakan kelompok baru, mereka menurutnya punya kemampuan sama dengan kelompok lama.


"Mereka sudah belajar perakitan dan membuat bom sendiri. Belajar dari buku panduan, ada bahasa Indonesia dan Inggris. Biasa di-download dari internet. Ini kelompok baru. Tapi mereka punya kemampuan yang sama dengan kelompok lama," terangnya.


Menyoal apakah ada kaitannya kelompok Hasmi ini dengan kelompok lain, Suhardi menyampaikan bahwa pihaknya masih mendalaminya. "Kami masih dalami, apakah ada kaitannya dengan kelompok lain," katanya.


Sebelumnya, Detasemen Khusus (Densus) 88/Antiteror menciduk 11 orang terduga teroris yang tergabung dalam jaringan Hasmi, pimpinan Abu Hanifah, di beberapa wilayah seperti Madiun, Solo, Bogor, dan Jakarta. Pada saat penangkapan, ditemukan sejumlah barang bukti berupa bahan peledak siap ledak, bahan yang masih dalam perakitan, amunisi, detonator, serta buku-buku panduan.


"Totalnya ada 11 orang yang ditangkap. Mereka semua satu jaringan. Latar belakang pendidikan mereka ada (yang) sarjana, buruh, dan lainnya. Kenapa kami tangkap secara serentak, supaya tidak lari kemana-mana," kata Suhardi pula.


Terkait dari mana jaringan ini mendapatkan dana atau adakah penyokong dananya, Suhardi mengatakan lagi bahwa pihak Densus 88 masih menelusurinya. "Penyokong dana masih dikembangkan. Densus 88 masih dalami itu," tandasnya.


Penjinak Bom Polri Ledakan Tabung Gas yang Dikira Bom

Diledakkan dengan pemicu jarak jauh

Tim Penjinak Bahan Peledak Brimob Polda Jawa Timur berhasil meledakkan sebuah tabung elpiji ukuran tiga kilogram yang diduga bom rakitan dari rumah kontrakan terduga teroris Agus Anton, di Perumahan Puri Amarta Jalan Cokrobasonto, Kelurahan Josenan, Kecamatan Taman, Kota Madiun, Jawa Timur, Sabtu (27/10).


Bahan tersebut diledakkan di tengah kebun milik warga yang tak jauh dari lokasi sekitar pukul 17.30 WIB. Sebelum diledakkan dengan pemicu jarak jauh, lokasi peledakan disterilkan dari warga hingga radius 100 meter.


Meski suaranya tidak lantang, namun sempat membuat ratusan warga yang berada di lokasi kaget. Ratusan warga ini penasaran dan menonton aktivitas polisi yang sedang mengamankan lokasi.


"Tetap saja kaget padahal sudah siap-siap saat dikasih aba-aba sama Pak Polisi," ujar Sukardi, salah satu warga di lokasi tersebut.


Sebelum diledakkan, tim jihandak melakukan pemeriksaan intesif di seluruh bagian rumah. Pemeriksaan juga dilakukan di lingkungan luar rumah.


Hasilnya, petugas berhasil mengamankan satu buah tabung elpiji ukuran tiga kilogram yang diduga bom rakitan. Tabung tersebut terlihat diplester dengan lakban berwarna hitam.


Kapolres Madiun Kota AKBP Adi Deriyan Jayamarta, tidak banyak berkomentar tentang peledakkan dugaan bom rakitan tersebut.


"Kami hanya mengamankan lokasi sekitar dari aktivitas warga. Di luar itu bukan wewenang kami karena langsung ditangani oleh Mabes Polri," ujar AKBP Adi di lokasi.


Rumah bernomor 3B tersebut dikontrak oleh terduga teroris Agus Anton Figian (31), warga Desa Sewulan Kulon, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun, yang telah ditangkap oleh tim Densus 88 Antiteror pada Jumat (26/10) malam sekitar pukul 23.00 WIB. Agus ditangkap di sebuah masjid di sekitar rumah kontrakannya.


Rumah tersebut dikontrak sejak satu tahun terakhir, namun baru terlihat aktivitas aneh sejak dua bulan terakhir.


"Rumah itu milik Pak Bambang. Dikontrakan sejak setahun terakhir. Seingat saya, dari awal yang mengontrak ya orang yang ditangkap polisi itu," ujar warga penghuni Perumahan Puri Amarta, Hendra.


Meski bertetangga, Hendra mengaku tidak kenal dengan Agus Anton. Sebab, orangnya pendiam dan tidak pernah berinteraksi dengan tetangga. Selain itu, tetangga anehnya tersebut juga sering beraktivitas di malam hari. Rumah tersebut juga sering didatangi oleh tamu pada malam hari.


Di lokasi Perumahan Puri Amarta hanya terdapat lima unit rumah. Dari lima unit rumah tersebut, hanya dua rumah yang telah ditempati. Yakni rumah yang dikontrak terduga teroris Agus Anton dan lainnya milik Hendra. Perumahan ini berjarak sekitar 100 Meter dari perumahan penduduk.


Bom Kelompok Hasmi Berdaya Ledak Tinggi

Menurut kepolisian, bahan peledak tabung gas itu terkategori high explosive, serta sudah ada beberapa buah yang siap ledak.

Gegana di Solo
Bahan peledak milik kelompok Harakah Sunni untuk Masyarakat Indonesia (Hasmi) yang diamankan di Madiun, menurut pihak kepolisian, diketahui memiliki daya ledak tinggi. Ada sejumlah bahan yang sudah siap diledakkan.

"Bahan peledak tabung gas ini high explosive. Berisi bahan material pembuatan bom. Jumlahnya ada beberapa yang siap ledak," ujar Kepala Divisi Hubungan Masyarakat (Kadiv Humas) Mabes Polri, Irjen (Pol) Suhardi Alius, dalam jumpa pers di Mabes Polri, Sabtu (27/10).


Dikatakan Suhardi, pada saat penggerebekan di Madiun, Detasemen Khusus (Densus) 88/Antiteror mendapatkan bahan peledaknya lebih dulu, baru menangkap terduga teroris.


"Kita dapatkan bomnya dulu, baru orangnya. Saat penggeledahan, orangnya tak ada. Lalu kita tangkap di tempat lain," tambahnya.


Menurut Suhardi, diketahui rencananya bom-bom itu akan diledakkan di sejumlah tempat. Antara lain yaitu Kedutaan Besar Amerika Serikat (Kedubes AS) di Jakarta, Konsulat Jenderal Amerika di Surabaya, Plasa 89 dekat Kedubes Australia dan kantor Freeport di Jakarta, serta Mako Brimob Jawa Tengah di Srondol.


Seperti diberitakan sebelumnya, Densus 88 telah menciduk 11 orang terduga teroris yang tergabung dalam jaringan Hasmi, di beberapa wilayah seperti Madiun, Solo, Bogor dan Jakarta. Mereka di antaranya adalah Agus Anton alias Thorik dan Warso alias Kurniawan (di Madiun); Abu Hanifah (pimpinan Hasmi), Harun, serta Budianto alias Ari alias Ahmadun (di Solo); lalu Emir alias Emirat, Zainudin dan Usman (Bogor); serta Azhar, Herman dan Narto (di Jakarta).


Pada saat penangkapan, pihak kepolisian menyebut ditemukan pula sejumlah barang bukti berupa bahan peledak siap ledak, bahan yang masih dalam perakitan, berikut amunisi, detonator, serta buku-buku panduan.

More about → Penangkapan Kelompok Hasmi

10 Terduga teroris ditangkap di Empat Wilayah

Posted by ReTRo

Jakarta - Detasemen Khusus Antiteror 88 Markas Besar Kepolisian RI menangkap 10 orang tersangka anggota teroris di empat wilayah. Penangkapan ini dilakukan Densus 88 sejak Sabtu pagi hingga siang ini.

"Infonya ada 10 orang, info lainnya setelah pemeriksaan," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri, Brigadir Jenderal Boy Rafli, saat dihubungi, Sabtu, 27 Oktober 2012.

Boy memaparkan, penangkapan dilakukan di empat wilayah, yaitu tiga orang di Palmerah, Jakarta; dua orang di Bogor, Jawa Barat; tiga orang di Solo, Jawa Tengah; dan dua orang di Madiun, Jawa Timur. Boy belum bisa menjelaskan secara detail kronologi, identitas, dan jaringan 10 tersangka ini.

Polisi belum bisa menjelaskan lebih detail mengenai awal alur penangkapan, maupun hubungan tiap tersangka. "Tunggu sebentar, masih dikumpulkan (datanya)," kata Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri, Inspektur Jenderal Suhardi Alius.

Densus 88 Tangkap Tiga Terduga Teroris di Palmerah?

Jakarta - Detasemen Khusus 88 menangkap tiga orang yang diduga teroris sekitar pukul 11.00 WIB. Mereka ditangkap di sebuah rumah yang terletak di Gang Haji Kimin, Palmerah Barat II, Palmerah, Jakarta Barat.

Informasi yang didapatkan Tempo, pasukan antiteror telah menahan tiga orang yang diduga merupakan pelaku terorisme. Berdasarkan keterangan warga sekitar, tiga orang tersebut adalah Suherman, 22 tahun, David, 18 tahun, dan satu orang yang belum diketahui identitasnya. "Satu lagi temannya, tapi tidak kenal siapa," kata Prawitno, 17 tahun, salah seorang warga Palmerah.

Rumah tersebut diketahui merupakan milik Turijo yang telah meninggal. Warga sekitar mengetahui rumah tersebut dihuni oleh kakak-beradik Suherman dan David, serta ibu keduanya, Mariyam, 40 tahun.

Hingga kini tim Gegana dari Polda Metro Jaya masih menyisir rumah pelaku. Tim gegana membawa satu tas hitam berukuran besar yang dicurigai memuat bahan peledak. Penggerebekan menjadi tontonan warga sekitar yang penasaran dengan peristiwa tersebut.

Polisi masih berjaga-jaga di sekitar tempat perkara. Garis kuning polisi telah dipasang agar masyarakat tidak mendekat ke rumah tersebut.

Temuan Densus 88 Saat Gerebek Teroris di Solo

Jakarta - Detasemen Khusus 88 Antiteror Mabes Polri menemukan dua bom siap ledak dan bahan pembuat bom saat menggeledah rumah terduga teroris di Jalan Lawu Timur IV, Mojosongo, Jebres, Solo, Sabtu, 27 Oktober 2012.

Kepala Kepolisian Resor Kota Surakarta, Komisaris Besar Asdjimain, mengatakan dua bom siap ledak kemudian diledakkan di luar rumah. "Kami juga menemukan detonator," ujarnya, di lokasi. Kemudian ditemukan 10 botol cairan kimia dan rangkaian bom.

Dia mengatakan pemilik rumah yang digerebek polisi ditangkap di Madiun, Jawa Timur pada Sabtu subuh, 27 Oktober 2012. "Dia diduga turut serta dalam tindak pidana terorisme," katanya. Namun, Kapolres menolak menyebutkan identitas pemilik rumah.

Menurut salah seorang warga, Sigit, rumah itu dihuni Bakrun, 70 tahun, dan anaknya, Mustofa. "Mereka tertutup. Tidak pernah bersosialisasi dengan warga," ujarnya.

Detasemen Khusus Antiteror 88 Markas Besar Kepolisian RI menangkap 10 orang tersangka anggota teroris di empat wilayah, sepanjang Sabtu pagi hingga siang ini. "Infonya ada 10 orang, info lainnya setelah pemeriksaan," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri, Brigadir Jenderal Boy Rafli, saat dihubungi, Sabtu, 27 Oktober 2012.

Densus 88 Temukan Pistol Baretta Saat Penggerebekan di Solo

Jakarta - Lurah Mojosongo, Agus Triyono, mengatakan Detasemen Khusus Antiteror Mabes Polri menemukan pistol Baretta, cairan belerang, pupuk urea, rangkaian kabel, dan timbangan dari rumah yang digerebek di Jalan Lawu Timur IV, Marengan, Mojosongo, Jebres, Surakarta, Sabtu siang, 27 Oktober 2012.

"Tadi yang sudah jadi bom ditemukan di dalam rumah. Lalu diledakkan di luar rumah," katanya. Ia juga ikut menyaksikan proses penggeledahan.


Agus mengatakan sudah pernah menerima laporan warga tentang kegiatan mencurigakan di rumah tersebut. Laporan diterima sejak setahun lalu. “Sudah ada laporan sejak setahun lalu," katanya.

Sebelumnya, Kepala Kepolisian Resor Kota Surakarta, Komisaris Besar Asdjimain, menyatakan Detasemen Khusus 88 Antiteror Mabes Polri menemukan dua bom siap ledak dan bahan pembuat bom. Dua bom siap ledak kemudian diledakkan di luar rumah. "Kami juga menemukan detonator," ujarnya di lokasi. Kemudian ditemukan 10 botol cairan kimia dan rangkaian bom.

Satu Terduga Teroris Ditangkap di Tanah Abang

Jakarta - Detasemen Khusus 88 dan tim Gegana menangkap satu lagi orang yang diduga anggota Jaringan Anshorut Tauhid. Penangkapan itu terjadi sekitar pukul 12.15, di rumah milik Narlis, Jalan Kebon Kacang 14 Nomor 9, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

"Inisialnya NT yang ditangkap," kata juru bicara Kepolisian Daerah Metro Jaya, Komisaris Besar Rikwanto, Sabtu, 27 Oktober 2012.

Rikwanto menjelaskan, Densus 88 telah mengambil dua tas ransel yang berisi bahan dan benda berbahaya. "Ransel itu ditemukan di dalam kamar oleh tim Jibom," ujarnya.

Saat ini, tim Gegana masih berjaga-jaga di lokasi kejadian dan memasang garis polisi. "TKP sudah diamankan dan situasi kondusif," ujar Rikwanto.

Empat Terduga Teroris Dibawa ke Mabes Polri

Jakarta - Juru bicara Kepolisian Daerah Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto mengatakan sebanyak empat orang terduga teroris yang ditangkap oleh Detasemen Khusus 88 langsung dibawa ke markas besar Kepolisian Republik Indonesia. Keempat terduga teroris yang ditangkap didua tempat berbeda di Jakarta itu bernama Suherman, 22 tahun; David, 18 tahun; Anto, dan Narto.

"Semuanya laki-laki dan langsung dibawa ke Mabes Polri," kata Rikwanto kepada Tempo, Sabtu 27 Oktober 2012.

Rikwanto membenarkan penangkapan ini merupakan kelanjutan dari penangkapan terduga teroris yang sebelumnya ditangkap di Solo, Madiun, dan Bogor.

Siang tadi, sekitar pukul 11.00, Densus 88 menangkap tiga orang yang diduga teroris. Penangkapan itu dari hasil penggerebekan di sebuah rumah yang terletak di Gang Haji Kimin, Palmerah Barat II, Palmerah, Jakarta Barat. Tiga orang tersebut bernama Suherman, 22 tahun; David, 18 tahun; dan Anto.

Kemudian, sekitar pukul 12.15, Densus 88 dan tim Gegana kembali menangkap satu orang yang diduga anggota Jaringan Anshorut Tauhid di sebuah rumah milik Narlis, Jalan Kebon Kacang 14 nomor 9, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Satu orang yang ditangkap itu bernama Narto.

Saat ini, kedua lokasi masih dijaga oleh tim gegana dan garis polisi juga sudah dipasang, agar tidak ada yang melintasi lokasi tersebut.
More about → 10 Terduga teroris ditangkap di Empat Wilayah

Ledakan Bom Poso

Posted by ReTRo on Monday, October 22, 2012

 Sebelum Bom Meledak, Gereja di Poso Diduga Dibakar

Tak lama setelah pengendara motor melintas, gereja itu terbakar.


Dua peristiwa terjadi di Poso pagi ini.
Bom meledak di sebuah pos polisi lalu lintas di Poso, Sulawesi Tengah, pukul 06.15 WITA, Senin 22 Oktober 2012. Namun kejadian itu ternyata bukan yang satu-satunya terjadi di Poso hari ini.

Dini hari tadi sekitar pukul 01.30 WTA, sebuah gereja di Poso juga diduga dibakar. Tak lama sebelum gereja terbakar, seorang pengendara melintas di gereja tersebut.


Beberapa saat setelah ia melintas, bagian belakang gereja itu terbakar. Plafon gereja dan tempat tinggal pastor berada di dalam gereja itu juga terbakar. Syukurlah api tak sampai melalap habis bangunan gereja itu.

Sementara ledakan bom di Pos Lantas bundara Smaker, Poso, pagi ini cukup menarik perhatian masyarakat. Kepolisian, Gegana, dan aparat TNI pun terlihat di sekitar lokasi kejadian. Meski demikian, hal ini tidak sampai menghambat aktivitas masyarakat yang tetap melanjutkan perjalanan mereka ke kantor atau sekolah.

Polres Poso dan tim Inafis (Indonesia Automatic Fingerprint and Identification System) saat ini masih mencari serpihan bom dan barang bukti apapun terkait ledakan bom itu di tempat kejadian perkara. Sementara beberapa korban luka telah memperoleh perawatan di rumah sakit setempat.


 Ledakan di Pos Lantas Poso Terjadi Dua Kali

Bom pertama meledak pukul 06.15 WITA, kedua meledak 5 menit kemudian.


Kapolres Poso, AKBP Eko Santoso, menyatakan ledakan bom Poso yang terjadi di pos lalu lintas bundaran Smaker, Poso, mengakibatkan Pos Lantas itu rusak di bagian belakang.

“Ledakan bom terjadi sebanyak dua kali sekitar pukul 06.15 WITA,” kata Eko kepada VIVAnews, Senin 22 Oktober 2012. Menurutnya, bagian belakang Pos Lantas rusak karena bom memang diletakkan di bagian belakang yang biasa digunakan sebagai tempat parkir anggota polisi yang bertugas.

Bripda Rusliadi (sebelumnya ditulis Briptu Rusliadi) yang pagi ini hendak bertugas mengamankan lalu lintas di sekitar bundaran Smaker pun menjadi korban luka, karena bom meledak saat ia memarkir kendaraannya di belakang Pos Lantas.

“Korban terkena serpihan bom pada pantat dan tangan. Sementara seorang satpam BRI yang juga menjadi korban, luka pada tangan kiri,” ujar Eko. Kedua korban kini telah menjalani perawatan di RSUD Poso, sedangkan lokasi kejadian ledakan masih diamankan polisi.

Masyarakat Poso sendiri tetap beraktivitas seperti biasa dan tak terpengaruh dengan peristiwa tersebut. “Tak ada reaksi berarti dari warga soal bom meledak ini. Yang penting mereka tidak terprovokasi,” kata Kapolres Poso. Saat ini polisi tengah menyelidiki siapa pelaku peledakan.(eh)


 Kapolres Poso: Bom Meledak Saat Anggota Hendak Bertugas

Bripda Rusliadi sedang memarkir kendaraan ketika bom meledak.

Polisi yang mengatur lalu lintas di Poso jadi korban ledakan.
Ledakan bom terjadi di Kota Poso, Sulawesi Tengah, Senin 22 Oktober 2012. Ledakan terjadi di sebuah pos lalu lintas di wilayah bundaran Smaker, Jalan Tanjung Bulu, Poso.

Kapolres Poso AKBP Eko Santoso menyatakan, bom meledak saat Bripda Rusliadi (sebelumnya ditulis Briptu Rusliadi) sedang memarkir motornya. “ Bom meledak di luar pos lantas, di belakang pos. Jadi bukan meledak di dalam pos,” kata Eko ketika dihubungi VIVAnews.

Menurutnya, Bripda Rusliadi memarkir kendaraannya di situ karena yang bersangkutan memang mau menjaga lalu lintas di Bundaran Smaker. “Anggota dijadwalkan mulai bertugas pukul 06.30 WITA. Saat parkir tiba-tiba bom meledak,” ujar Eko.

Bripda Rusliadi dan seorang satpam BRI, Muh. Akbar, yang menjadi korban ledakan pun langsung dilarikan ke RSUD Poso karena terkena serpihan ledakan. Saat ini polisi masih melakukan olah Tempat Kejadian Perkara.

“Pelaku bomnya belum ketahuan, masih diselidiki. Olah TKP juga belum selesai,” kata Eko. Polisi belum juga belum mengetahui ke mana kemungkinan orang yang menaruh bom itu kabur, apakah ke arah sungai yang ada di belakang pos lantas atau ke arah lain.

Meski demikian, polisi menjamin situasi di Poso saat ini tetap aman. “Masyarakat beraktivitas seperti biasa. Tak ada reaksi berarti. Yang penting warga jangan terprovokasi,” kata Eko.(eh)

 Korban Bom Poso Dilarikan ke RSUD Poso

Polisi menggelar olah TKP di pos polisi di mana ledakan terjadi.

Sebuah ledakan bom kembali mengguncang Kota Poso, Sulawesi Tengah, Senin, 22 Oktober 2012. Dalam insiden ini, dua orang terluka terkena serpihan.

Ledakan terjadi sekitar pukul 06.25 Wita dengan sasaran sebuah pos polisi lalu lintas di wilayah bundaran Smaker Jalan Tanjung Bulu, Poso Kota. Akibatnya, kantor pos polisi rusak di bagian atap serta kaca jendela pecah berantakan.

Dua korban luka adalah anggota polisi bernama Bripda Rusliadi dan satpam Bank BRI, Muhammad Akbar. Meski tidak luka berat, namun keduanya langsung dilarikan ke RSUD Poso untuk menjalani perawatan. Keduanya terkena serpihan ledakan tersebut.

Hingga saat ini pihak kepolisian di Poso Sulawesi Tengah masih mengolah tempat kejadian perkara (TKP). Polisi juga telah memasang garis polisi di lokasi kejadian. TKP juga ramai dikunjungi oleh warga setempat yang ingin menyaksikan dari dekat pos polisi tersebut.

Ledakan bom di pos polisi ini merupakan ledakan bom kedua di bulan Oktober. Sebelumnya, ledakan juga mengguncang Kelurahan Kawua, kecamatan Poso Kota Selatan.(eh)

 Djoko Suyanto: Bom Meledak di Poso, Warga Jangan Terprovokasi

Bom rakitan meledak pukul 06.15 Wita di Pos Lantas Poso.

Menkopolhukam minta warga tak terprovokasi bom di Poso
Setelah geger penemuan dua jenazah polisi yang sedang menyelidiki kasus terorisme, wilayah Poso, Sulawesi Tengah dihebohkan dengan ledakan yang terjadi di pos lalu lintas di perempatan Smaker, dekat rumah dinas Bupati Poso, Senin 22 Oktober 2012, pukul 06.15 Wita.

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto mengecam tindakan yang kembali mengoyak keamanan di Poso. "Terkait terjadinya ledakan bom di Poso tadi pagi. Sangat disesalkan dan saya kecam keras pelaku tindakan yang sangat tidak terpuji ini," kata dia, Senin pagi.

Djoko mengimbau agar warga Poso tetap tenang dan dapat menahan diri terhadap provokasi. "Aparat keamanan akan segera mencari dan menangkap para pelaku kejahatan ini," tambah dia.

Hingga saat ini belum diketahui siapa pelaku dan motif dari insiden ledakan tersebut. "Masih terus didalami. Mudah-mudahan cepat terungkap. Yang jelas aksi-aksi teror seperti ini harus menjadi musuh kita bersama, untuk mencegahnya," tambah dia.

Sebelumnya, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri, Brigadir Jenderal Boy Rafli Amar menjelaskan, bom yang meledak berada di belakang pos lantas.

Seorang polisi diketahui terluka akibat insiden tersebut. "Satu luka, Briptu Rusli," kata Boy.

Hingga berita ini diturunkan polisi masih melakukan investigasi terkait siapa pelaku dan apa motif peledakan. Sejauh ini tak ada pengamanan khusus yang diterapkan di Poso pasca ledakan di pos lalu lintas. "Tidak ada pengamanan khusus, semua berjalan normal, kasus ini sedang diinvestigasi."(eh)

 Bom Rakitan Meledak di Pos Lantas Poso, 1 Polisi Luka

Polisi masih menyelidiki pelaku dan motif insiden ledakan Senin pagi.

Benda diduga bom rakitan meledak di pos lalu lintas di Poso, Sulawesi Tengah, Senin 22 Oktober 2012.

Insiden tersebut dibenarkan oleh Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri, Brigadir Jenderal Boy Rafli Amar. "Kejadiannya pukul 06.15 Wita, di pos lantas," kata dia saat dihubungi VIVAnews Senin pagi.

Belum diketahui asal bahan peledak itu. "Yang jelas ada bom rakitan meledak di belakang."

Pos lalu lintas tersebut terletak di perempatan Smaker, dekat rumah dinas Bupati Poso. Seorang polisi diketahui terluka akibat insiden tersebut. "Satu luka, Briptu Rusli," kata Boy.

Hingga berita ini diturunkan polisi masih melakukan investigasi terkait siapa pelaku dan apa motif peledakan. Sejauh ini tak ada pengamanan khusus yang diterapkan di Poso pasca ledakan di pos lalu lintas. "Tidak ada pengamanan khusus, semua berjalan normal, kasus ini sedang diinvestigasi.

Sebelumnya di Poso, dua anggota polisi ditemukan dalam kondisi tak bernyawa di Dusun Tamanjeka, Desa Masani, Poso, Provinsi Sulawesi Tengah. Brigadir Sudirman dan Briptu Andi Sapa diketahui sedang menyelidiki kasus terkait terorisme.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Ansyaad Mbai bahkan yakin aksi penculikan dan pembunuhan terhadap dua orang polisi tersebut terkait terorisme.

Apakah ledakan di Poso terkait temuan dua jasad polisi? "Beda, tidak ada kaitannya. Ini jauh sekali," kata Boy.
© VIVA.co
More about → Ledakan Bom Poso